Ketua Umum PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Berlangsung Permanen
NU Online · Jumat, 10 April 2026 | 15:00 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (tengah) saat konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat dalam dua pekan terakhir.
“Berharap ini menjadi permanen. Gencatan senjata ini diikuti dengan penghentian kekerasan secara menyeluruh,” kata Gus Yahya, sapaan akrabnya, saat konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Gus Yahya menyatakan, berhentinya kekerasan harus didukung dan disyukuri. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun harus dihentikan karena mengancam kemanusiaan secara luas.
Ia juga mengapresiasi peran aktif Pakistan dalam memediasi Iran dan Amerika Serikat hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
“Apresiasi kepada pemerintah Pakistan yang telah berupaya menjadi penengah dalam komunikasi antara pihak-pihak yang berkonflik,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan kepada negara-negara Teluk yang hingga saat ini tidak membalas serangan terhadap Iran, serta tidak bersedia menjadikan wilayahnya sebagai basis serangan.
“Mengapresiasi negara-negara Teluk yang tidak membalas serangan, bahkan menolak wilayahnya dijadikan basis untuk menyerang Iran,” katanya.
Sebelumnya, Gus Yahya telah bertemu dengan sejumlah duta besar dari negara-negara yang terlibat dan terdampak langsung, seperti Iran, Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Turki.
Dalam pertemuan tersebut, ia menegaskan bahwa Indonesia harus memposisikan diri sebagai sahabat. Hal ini mengingat negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut merupakan negara sahabat Indonesia.
“Oleh karena itu, kita harus mendudukkan diri sebagai sahabat,” tegasnya.
Menurutnya, perang dan kekerasan di mana pun dan apa pun alasannya merupakan bencana kemanusiaan yang harus dicegah. “Dan kita upayakan dihentikan sesegera mungkin,” ujarnya.
Dampak Global
Gus Yahya menilai konflik tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat, tetapi juga pada dunia secara luas. Dampak tersebut dirasakan oleh berbagai negara dan masyarakatnya.
“Semua negara terdampak dan semuanya berjibaku menghadapi dampak ini,” katanya.
Oleh karena itu, PBNU menginisiasi Gerakan Peningkatan Ketahanan Sosial. Ia menilai budaya gotong royong dan tolong-menolong di tengah masyarakat Indonesia menjadi nilai penting dalam menghadapi tantangan akibat konflik global.
“Mari kita berkonsolidasi bersama untuk mengupayakan kemaslahatan bersama agar kita selamat bersama-sama,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin
5
Amerika Serikat dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Selama Dua Pekan
6
Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
Terkini
Lihat Semua