Nasional

Longsor di Badung dan Cuaca Ekstrem di Dairi Telan Korban, BNPB Imbau Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan

NU Online  ·  Rabu, 4 November 2026 | 09:00 WIB

Longsor di Badung dan Cuaca Ekstrem di Dairi Telan Korban, BNPB Imbau Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan

Tanah longsor di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Petang, Kabupaten Badung, Bali Senin (2/11/2026). (Instagram bali.bercerita)

Jakarta, NU Online

Bencana hidrometeorologi kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia. Tanah longsor terjadi di Kabupaten Badung, Bali, sementara cuaca ekstrem menerjang Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Kedua peristiwa tersebut mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, dan orang hilang.

 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Suar Pelita Panjaitan menyampaikan bahwa tanah longsor terjadi di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada Ahad (1/11/2026).

 

“Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu longsoran yang mengakibatkan dua orang dinyatakan hilang,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

 

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Berton mengatakan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung bersama tim SAR gabungan telah melakukan operasi pencarian terhadap kedua korban.

 

Sementara itu, cuaca ekstrem terjadi di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, pada Jumat (30/10/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Peristiwa tersebut menyebabkan pohon tumbang dan menimpa sebuah rumah warga hingga mengalami kerusakan berat.

 

“Kejadian ini menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka,” ujar Berton.

 

Ia menjelaskan, BPBD Kabupaten Dairi telah melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa, mengevakuasi korban, serta memberikan penanganan kepada warga terdampak.

 

“Hingga Senin (2/11/2026), lokasi kejadian masih dalam penanganan pemerintah setempat,” katanya.

 

Berton mengatakan, meningkatnya ancaman bencana tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 2 November 2026, sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2026.

 

BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat disertai petir, angin kencang atau puting beliung, banjir, hingga tanah longsor.

 

“BNPB mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Selalu cek informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini secara berkala melalui kanal resmi BMKG,” ujarnya.

 

“Pangkas dahan atau ranting pohon yang terlalu lebat, rapuh, atau berada dekat dengan kabel listrik dan bangunan, pahami jalur evakuasi dan siapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari,” lanjut Berton.

 

Selain itu, BNPB mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat kesiapsiagaan melalui delapan langkah. Upaya tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan bencana, memastikan kesiapan personel dan logistik, mengoptimalkan dana darurat, memperkuat sistem peringatan dini, serta meningkatkan sosialisasi evakuasi mandiri bagi kelompok rentan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang