Nasional

Mahasiswa Unusia Raih Juara 3 Nasional lewat Inovasi Pemantauan Rantai Dingin

NU Online  ·  Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:45 WIB

Mahasiswa Unusia Raih Juara 3 Nasional lewat Inovasi Pemantauan Rantai Dingin

Tiga mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) meraih juara ketiga tingkat nasional dalam Quarantine Innovation Challenge 2026. (Foto: Dok Unusia)

Jakarta, NU Online

Tiga mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) meraih juara ketiga tingkat nasional dalam Quarantine Innovation Challenge 2026 yang diselenggarakan Badan Karantina Indonesia (Barantin). Prestasi tersebut diraih melalui inovasi Q-GUARD, sistem pemantauan rantai dingin berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memantau distribusi komoditas beku.


Tim tersebut terdiri atas Muhamad Faridzqi Suryadi dan Andre Wijaya dari Program Studi Teknik Informatika, serta Windu Putra Inarwan dari Program Studi Teknologi Agroindustri. Kompetisi yang berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Jakarta Smesco Convention Center itu diikuti 146 tim pada tahap awal. Sebanyak 137 tim lolos ke tahap ketiga sebelum tim Unusia berhasil menempati posisi tiga besar.


Inovasi yang dikembangkan tim tersebut berjudul “Q-GUARD: Continuity-Aware Cold-Chain Risk Monitoring Berbasis IoT dan Multivariate AI untuk Smart Quarantine Komoditas Beku.” Q-GUARD dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan suhu komoditas beku selama distribusi antarpulau yang dapat berlangsung selama 3–14 hari.


Gangguan pada sistem pendingin yang terlambat diketahui berisiko menurunkan kualitas produk, menimbulkan kerugian ekonomi, hingga menyebabkan penolakan ekspor.


Sistem Q-GUARD memantau suhu pada tiga titik, kondisi pintu, guncangan, serta lokasi perjalanan. Data tetap dapat direkam secara otomatis ketika koneksi internet terputus dan disinkronkan kembali setelah jaringan tersedia.


Teknologi AI digunakan untuk membantu mengenali pola kondisi yang tidak normal. Informasi tersebut kemudian diolah menjadi penilaian risiko dan laporan digital untuk mendukung pemeriksaan karantina berbasis data.


Dalam pengembangannya, dua mahasiswa Teknik Informatika berfokus pada perancangan sistem, pengembangan teknologi, dan perakitan prototipe. Sementara itu, Windu Putra Inarwan dari Program Studi Teknologi Agroindustri berperan mengumpulkan informasi, mengidentifikasi permasalahan, serta menganalisis kebutuhan terkait distribusi komoditas beku.


Kolaborasi lintas program studi tersebut memadukan kemampuan pengembangan teknologi dengan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi dalam distribusi komoditas beku.


Perjalanan tim menuju tiga besar nasional tidak berlangsung tanpa tantangan. Windu menceritakan bahwa tim sempat berada di peringkat ke-77 pada tahap pertama dan kedua kompetisi. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan konsep, mempertajam permasalahan yang diangkat, serta memperkuat solusi yang ditawarkan.


Tim juga memperjelas judul karya agar lebih mencerminkan fokus dan kebaruan inovasi Q-GUARD.


“Setelah mengevaluasi kembali dan menyempurnakan karya, alhamdulillah kami berhasil masuk tiga besar,” ujar Windu.


Selain menyempurnakan karya, tim menghadapi kendala teknis selama pengembangan, termasuk menunggu komponen yang dipesan dan mengganti perangkat yang mengalami kerusakan. Meski demikian, mereka terus melanjutkan pengembangan hingga berhasil meraih prestasi di tingkat nasional.


Saat ini, Q-GUARD telah dikembangkan dalam bentuk prototipe fisik dan masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Tim berencana menguji sistem menggunakan cool box berkapasitas 40 liter untuk mengevaluasi kinerja sensor dan penyimpanan data dalam kondisi nyata.


Ke depan, Q-GUARD diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung pemantauan distribusi komoditas beku dan berpotensi diintegrasikan dengan sistem karantina digital Barantin.


Dosen pembimbing tim sekaligus Ketua Program Studi Teknik Informatika Unusia, Andi Aljabar, mengapresiasi pencapaian mahasiswa tersebut.


Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan selama proses pendampingan adalah menunggu ketersediaan komponen. Ketika perangkat yang dibutuhkan belum tersedia atau mengalami kerusakan, tim harus memesan kembali peralatan dan menunggu hingga proses pengembangan dapat dilanjutkan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang