Momen Idul Fitri, Quraish Shihab: Saatnya Menghapus Luka dan Membuka Lembaran Baru
NU Online · Jumat, 20 Maret 2026 | 18:30 WIB
Pakar Tafsir Al-Qur'an, Prof Muhammad Quraish Shihab. (Foto: tangkapan layar Youtube Quraish Shihab)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pakar Tafsir Al-Qur'an, Prof Muhammad Quraish Shihab, menekankan bahwa Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin, terutama dendam.
“Ciri orang bertakwa itu menahan amarah dan memaafkan sesama. Lebaran Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan, baik dengan keluarga maupun teman,” ujar Prof Quraish dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Mishbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Saling Memaafkan, Menghapus Luka dan Dosa, Jumat (20/3/2026).
Ia mengajak umat Islam untuk membiasakan diri memaafkan, bahkan meskipun orang lain tidak terlebih dahulu meminta maaf.
“Di akhir Ramadhan ini kita biasakan memaafkan. Kalau pun orang tidak meminta maaf, kita bisa memaafkan lebih dulu,” lanjutnya.
Menurutnya, Al-Qur’an memberikan panduan bertahap dalam menyikapi kesalahan orang lain. Ada beberapa tingkatan respons manusia saat disakiti, mulai dari membalas secara setimpal, berpaling tanpa menghiraukan, hingga tingkat tertinggi, yakni berbuat baik kepada orang yang bersalah.
“Memaafkan itu menghapus luka di hati, tidak membalas. Tapi seperti tulisan yang salah di kertas, jika dihapus, tulisannya hilang, tetapi kertasnya masih meninggalkan bekas,” jelasnya.
Prof Quraish juga menjelaskan konsep safh dalam Al-Qur’an yang bermakna membuka lembaran baru. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi menoleh ke belakang atau mengungkit luka lama. Puncaknya adalah tingkat ihsan, yakni ketika seseorang mampu berbuat baik kepada orang yang pernah menyakitinya.
“Ciri orang bertakwa adalah menahan amarah dan memaafkan. Allah mencintai orang yang berbuat baik kepada yang bersalah. Ini adalah tingkat tertinggi,” ucapnya.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam dendam yang justru merugikan diri sendiri. Menurutnya, menyimpan dendam hanya akan menggerogoti ketenangan hati dan menghambat produktivitas, baik dalam bekerja maupun beribadah.
“Dendam dapat menggerogoti hati kita sendiri. Karena itu, dendam tidak dianjurkan karena dapat merugikan,” katanya.
Prof Quraish juga menyarankan agar setiap individu melihat kesalahan orang lain dengan perspektif yang lebih luas, termasuk kemungkinan adanya ketidaksengajaan atau tekanan yang dialami pelaku.
“Ingatlah bahwa kesalahan orang lain bisa saja lebih ringan dibanding kesalahan yang mungkin kita lakukan. Jika Anda memaafkan, terbuka peluang Allah SWT memaafkan kesalahan Anda,” ujarnya.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
2
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
Terkini
Lihat Semua