Kudus, NU Online
Pengajian rutin Tafsir Al-Qurāan yang diasuh Mustasyar PBNU KH Syaāroni di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat (30/5) pagi, mengkajiĀ surat Al-Mulk ayat 1. Dalam pengajian yang dimulai waktu fajar ini, KH Syaāroni menerangkan tentang makna barokah.
<>
Diterangkan, tabarukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah (ziyadatul khair). Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik.
āNabi Muhammad, sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhari, pada waktuĀ mendoakan bayi selalu dengan barokah . Bunyi doanya 'barakallahu haadzal walad' (Ya Allah semoga bayi ini diberi barokah). Ini artinya supaya semakin besar akan semakin bertambah baik,ā jelas KH Syaāroni seraya mencontohkan acara walimatut tasmiyah (pemberian nama) bayi yang menjadi tradisi masyarakat Muslim.
Lebih lanjut Ulama Kharismatik Kudus ini menjelaskan, meminta (doa) barokah juga merupakan tindakan (sunnah) yang dilakukan Nabi Muhammad. Pada waktuĀ disowani sahabat Umar yang pamitan hendak menunaikan umrah,Ā Nabi meminta supaya didoakan di tanah suci Makkah.
āPadahal Nabi itu sosok yang paling mulia di dunia, kok masih minta didoakan sahabat Umar,ini pelajaran yang luar biasa bagi kita ummat. Makanya orang tua setiap ada yang menunaikan ibadah haji selalu datang mengikuti untuk didoakan di Makkah,ā tuturnya.
Barokah , kata mbah Syaāroni melanjutkan keterangan ayat Al-Mulk, terkadang ada yang memaknai Maha Suci. Artinya, semua alam ini adalah kekuasaannya Allah karena selaku sang pencipta. āAllah mau membuat apapun pasti kuasa termasuk kematian makhluknya,ā jelasnya.
Pada kesempatan itu, KH Syaāroni juga menerangkan tentang wasilah. Dijelaskan, wasilah itu mempunyai arti tiga yakni tempat terhormat di surga, suatu amal untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan meminta kepada Allah dengan perantara melalui Nabi atau orang shalih.
āSahabat Bilal sering ke makam Rasulullah berdoa meminta hujan karena kondisi bangsa yang kekeringan. Hal ini meminta kepada Allah melalui perantara (wasilah) Nabi atau orang-orang baik,ā tuturnya.
Mbah Syaāroni juga mengingatkan jamaah supaya pandai menggunakan kesempatan waktu untuk berbuat kebaikan seperti shalat, iātikaf di masjid, membaca Al-Qurāan, mendengarkan pengajian, bersedekah, dan amalan baik lainnya.
āSetiap saat jangan sampai mengosongkan amal . Paling tidak ketika diam membaca istighfar, berdzikir dan bertasbih,ā ajaknya.
Pengajian rutin berlangsung setiap Jumat fajar dan diikuti ribuan jamaah dari Kudus dan daerah sekitarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Hukum Mengambil Air Masjid untuk Kebutuhan Warga Saat Kekeringan, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
Membaca Ulang Fiqih Pajak: Agenda yang Tersisa dari Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua