Nasional

Nur Khalik Ridwan Ungkap Alasan Fokus Meneliti Islam dan Jawa Sejak 2014

NU Online  ·  Sabtu, 4 Juli 2026 | 10:00 WIB

Nur Khalik Ridwan Ungkap Alasan Fokus Meneliti Islam dan Jawa Sejak 2014

Nur Khalik Ridwan dalam tayangan Menjadi Indonesia di Youtube NU Online. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Peneliti kebudayaan Islam Jawa, Nur Khalik Ridwan, mengaku mulai memusatkan perhatian pada kajian Islam dan Jawa sejak 2014. Keputusan tersebut diambil setelah bertahun-tahun menulis mengenai Islam, Nahdlatul Ulama (NU), dan berbagai persoalan kebangsaan.


Menurutnya, kajian Islam dan Jawa memiliki arti penting untuk memahami perjalanan sekaligus masa depan Indonesia.


Dalam perbincangan bersama Pemimpin Redaksi NU Online, Ivan Aulia Ahsan, pada program Menjadi Indonesia, Nur Khalik menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap tema tersebut sebenarnya telah tumbuh sejak masih menjadi mahasiswa. Saat itu, ia banyak membaca pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai pribumisasi Islam, termasuk gagasan tentang wayang dan kebudayaan Jawa.


"Fokus menekuni Islam dan Jawa itu ya kira-kira tahun 2014-an. Tetapi kajian-kajiannya sering kita baca sejak kita mahasiswa. Sejak kita mahasiswa ketika misalnya Gus Dur ngomong pribumisasi, Gus Dur ngomong tentang kebangkitan Islam, cerita tentang wayang dan lain-lain itu," ujarnya sebagaimana ditayangkan di kanal YouTube NU Online.


Sebelum mendalami kajian Islam dan Jawa, Nur Khalik lebih banyak menulis buku bertema kebangkitan Islam, pluralisme, dan berbagai isu keislaman lainnya. Namun, seiring waktu, ia melihat ada persoalan yang belum banyak mendapat perhatian, yakni hubungan antara tradisi NU dan kebudayaan Jawa.


Menurutnya, pembahasan mengenai keduanya selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri. Padahal, relasi antara Islam, NU, dan kebudayaan Jawa memiliki peran penting dalam memahami perkembangan bangsa.


"Saya melihat hari-hari ini ya dan juga kemarin-kemarin tentang kehidupan kebangsaan. Tapi akhirnya saya fokus ke Islam dan Jawa. Ngomong Islam dan Jawa itu masa depan," katanya.


Nur Khalik mengatakan kegelisahan tersebut muncul ketika ia berusaha mencari jawaban mengenai keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Dalam proses itu, ia merasa terdapat irisan penting yang belum banyak dijelaskan, baik dalam kajian-kajian tentang NU maupun kajian mengenai Jawa.


"Saya sering bertanya, 'Indonesia ini sampai kapan?' Keterpisahan kajian-kajian NU dengan Jawa itu saya merasakan ada irisan di situ yang kurang. Jadi ada keterpisahan, padahal saya menemukan bahwa ini masa depan," ujarnya.


Berangkat dari kegelisahan tersebut, Nur Khalik kemudian mengarahkan riset dan penulisannya pada hubungan Islam dan Jawa. Baginya, kajian tersebut bukan sekadar membahas masa lalu, melainkan upaya menemukan fondasi kebudayaan masyarakat Indonesia sebagai pijakan menghadapi masa depan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang