PBNU Matangkan Persiapan Hari Santri 2026 dan Pengukuhan Pengurus
NU Online · Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mematangkan persiapan peringatan Hari Santri 2026 dan pengukuhan pengurus masa khidmah 2026–2031. PBNU menekankan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sederhana dan khidmat serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan peringatan Hari Santri pada Kamis (22/10/2026) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sementara itu, pengukuhan pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Cilangkap, Jakarta Timur.
Wakil Ketua Umum PBNU H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri akan diisi dengan apel, ziarah, kirab, dan resepsi. Rangkaian kegiatan tersebut juga mengusung semangat Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina.
“Ini rencana yang sudah direstui oleh Rais Aam dan Ketua Umum,” kata Gus Ipul dalam rapat di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Gus Ipul, kegiatan pada Kamis (22/10/2026) akan dipusatkan di Jawa Timur, dengan rangkaian acara dari Jombang hingga Surabaya. Kirab dijadwalkan melewati Kabupaten dan Kota Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo, serta Kota Surabaya. Adapun resepsi akan dipusatkan di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya.
Sementara itu, kegiatan di Jakarta akan berlangsung pada Jumat (23/10/2026), termasuk rapat koordinasi panitia yang dijadwalkan di Hotel Trans Cibubur. Pengukuhan pengurus PBNU akan digelar sehari setelahnya, yakni pada Sabtu (24/10/2026).
Gus Ipul mengatakan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU berpesan agar seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara sederhana tanpa mengurangi kekhidmatan dan gaung peringatan.
“Acara kita ini yang penting sederhana. Ya, sederhana tapi khidmat. Sederhana tapi gaungnya cukup kuat,” ujar Gus Ipul.
Ia menuturkan bahwa prinsip tersebut perlu tercermin dalam setiap kegiatan, termasuk apel Hari Santri. Menurut dia, apel tetap dapat digelar dalam skala besar tanpa harus menampilkan kemewahan yang berlebihan.
“Apelnya itu besar tapi bersahaja. Tidak perlu kelihatan wah, megah,” katanya.
Gus Ipul juga mengingatkan panitia agar mempertimbangkan dampak kegiatan terhadap mobilitas masyarakat, terutama potensi kemacetan di jalur yang dilalui kirab. “Yang penting jangan bikin macet, kasihan pengendara. Masyarakat lagi susah, jangan ditambah susah-susah yang aneh-aneh,” ujarnya.
Baca Juga
Sejarah Hari Santri
Menurut Gus Ipul, kesederhanaan bukan berarti mengurangi makna kegiatan, melainkan memastikan peringatan tetap berdampak luas tanpa membebani masyarakat. Ia berharap seluruh rangkaian peringatan Hari Santri dan pengukuhan pengurus PBNU dapat berlangsung tertib.
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua