PBNU Silaturahim ke Sejumlah Pesantren di Jawa Timur, Dorong Relevansi Qanun Asasi
NU Online · Selasa, 27 Oktober 2026 | 19:00 WIB
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat hubungan dengan sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur melalui rangkaian silaturahmi. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya menyatukan kekuatan struktural organisasi dengan jaringan kultural NU, sekaligus mendorong penerapan nilai-nilai Qanun Asasi dalam menghadapi perkembangan zaman.
Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh mengatakan, penguatan hubungan dengan pesantren menjadi salah satu agenda kepengurusan PBNU saat ini. Salah satu pembahasan yang mengemuka dalam silaturahmi tersebut adalah upaya menerjemahkan Qanun Asasi dari teks menjadi konteks agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Qanun Asasi merupakan landasan dasar organisasi yang memuat prinsip-prinsip pendirian dan arah perjuangan Nahdlatul Ulama.
“Tadi kita silaturahmi, saling tukar pandangan bagaimana ke depan PBNU ini harus kita perkuat. Salah satunya yaitu menjadikan Qanun Asasi yang dari teks menjadi konteks. Bagaimana menerjemahkan Qanun Asasi itu dalam konteks kekinian,” papar Nuh kepada NU Online, Selasa (24/10/2026).
Rangkaian silaturahmi jajaran PBNU diawali dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Rombongan terdiri atas Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif.
Dalam pertemuan tersebut, jajaran PBNU dan pihak pesantren bertukar pandangan mengenai penguatan organisasi serta penerapan nilai-nilai dasar NU dalam kehidupan masyarakat.
Nuh mengatakan, tantangan PBNU tidak berhenti pada pemahaman terhadap teks dasar organisasi. Prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya perlu diwujudkan dalam praktik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
“Bagaimana menerjemahkan Qanun Asasi itu dalam konteks kekinian,” ujarnya.
Menurut Nuh, kunjungan ke pesantren juga menjadi sarana mempererat ikatan emosional antara pengurus PBNU dan komunitas pesantren. Hubungan tersebut, kata dia, perlu dibangun melalui komunikasi formal maupun informal yang lebih intensif.
“Antara NU dan pondok pesantren tidak bisa dipisahkan. Itu satu kesatuan utuh,” katanya.
Ia menilai, kekuatan NU tidak hanya bertumpu pada struktur kepengurusan, tetapi juga pada jaringan kultural yang tumbuh melalui pesantren, kiai, santri, dan masyarakat Nahdliyin. Karena itu, kedua unsur tersebut perlu berjalan beriringan sebagai satu kesatuan.
“Yang kultural itu jauh lebih besar dibandingkan yang struktural. Oleh karena itu, dua-duanya harus menjadi satu kesatuan yang utuh,” kata Nuh.
Setelah mengunjungi Pondok Pesantren Sidogiri, rombongan PBNU melanjutkan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo. Agenda berikutnya adalah kunjungan ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Nuh mengatakan, pada malam harinya rombongan dijadwalkan menghadiri peresmian aula dan kantor cabang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Situbondo. Keesokan harinya, rombongan direncanakan mengikuti Haul Akbar atau Haul Majemuk di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Menurut Nuh, rangkaian kunjungan tersebut juga menjadi momentum memperkokoh kebersamaan seluruh unsur NU dalam memasuki abad kedua perjalanan organisasi. Penguatan hubungan antara kepengurusan dan pesantren diharapkan menjadi landasan bagi konsolidasi organisasi sekaligus penerapan nilai-nilai dasar NU dalam kehidupan masyarakat.
Terpopuler
1
Pelantikan PBNU, Rais Aam: Singkirkan Kepentingan Pribadi dan Rangkul Masyarakat
2
Innalillahi, Anggota BPK RI Fathan Subchi Meninggal Dunia
3
PBNU Siapkan Munas hingga Rakernas sebagai Program Awal Kepengurusan
4
Ini Doa Kiai Said Aqil saat Pelantikan PBNU 2026-2031
5
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
6
Gus Ipul Sebut PCNU yang Dikabarkan Kembalikan Uang ke KPK Belum Lapor PBNU
Terkini
Lihat Semua