PBNU Tolak Pengelola Haramain Selain Kerajaan Saudi
NU Online · Sabtu, 26 September 2015 | 07:03 WIB
Jakarta, NU Online
Terkait munculnya gagasan memintahkan otoritas haramain dari tangan kerajaan Saudi Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, salah kelola atas tanah suci Mekkah dan Madinah yang menjadi tujuan muslim dunia bukan alasan pelimpahan wewenang dari Kerajaan Saudi Arabia (KSA) ke otoritas multinasional dalam segala bentuknya. Gus Yahya menganggap pelimpahan wewenang kelola hanya karena ketidakbecusan otoritas kerajaan Saudi merupakan gagasan yang tidak solutif bahkan destruktif.
<>
“Gagasan merampas kedaulatan atas Haramain dan manajemen tuan rumah ibadah haji dari tangan KSA untuk diserahkan kepada otoritas multinasional dengan segala wujudnya, adalah gagasan konyol, produk gelap mata,” kata Gus Yahya, Sabtu (26/9).
Perampasan kedaulatan itu, menurut Gus Yahya, hanya melahirkan instabilitas dunia Islam dan ancaman keamanan tak berkesudahan atas tanah suci. “Tak ada prospek di dalamnya,” kata Gus Yahya.
Membiarkan KSA berkuasa atas tanah suci seperti sekarang ini adalah pilihan paling aman. “Boleh saja saat ini mereka diangap tidak becus. Tapi masak iya lama-lama nggak tambah pintar?”
Terkait tindakan eksploitasi tanah suci sebagai aset untuk kepentingan ekonomi atau sebagai alat-tawar dalam politik internasional oleh KSA, Gus Yahya menilainya sebagai sebuah kewajaran.
“Ya anggap saja itu sejenis upahnya satpam. Toh politik tidak akan terpaku hanya pada urusan agama.”
Salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini meyakini, kalau kedaulatan atas tanah suci dijadikan multilateral, negara-negara Islam hanya akan menjadikannya obyek pertengkaran tak berujung karena rebutan saham kuasa.
Paling kurang, Gus Yahya menambahkan, nasib tanah suci akan bergantung pada konstelasi hubungan diplomatik yang terlalu rumit karena kebanyakan aktor. “Dan itu berbahaya sekali bagi keamanan tanah suci,” Gus Yahya mengungkapkan kekhawatirannya. (Alhafiz K)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
3
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Jelang Muktamar Ke-35 NU, PBNU Bakal Cek Kesiapan Lokasi dan Istighotsah Terbatas di Jombang pada 20 Agustus 2026
6
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
Terkini
Lihat Semua