Pengaruhi Harga Panen, Rencana Impor Beras Lukai Para Petani
NU Online · Kamis, 8 Desember 2022 | 14:00 WIB
Jakarta, NU Online
Pemerintah berencana mengimpor beras hingga 600.000 ton dalam waktu dekat. Hal ini diprediksi akan memengaruhi harga panen para petani dalam negeri pada bulan Februari mendatang mengingat hari ini tengah masa tanam. Tentu saja hal tersebut melukai mereka.
”Impor beras ini jelas akan sangat berpengaruh terhadap harga gabah kering giling para petani,” kata Imam Iswadi, anggota Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU), kepada NU Online pada Kamis (8/12/2022).
Menurut Imam, harusnya Kementerian Perdagangan dan Bulog berkoordinasi dulu dengan Kementerian Pertanian untuk memastikan total produksi beras nasional. “Jangan asal menetukan kuota impor begitu saja,” katanya.
Sebab, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa untuk periode Oktober–Desember 2022, perkiraan produksi beras nasional mencapai 5,90 juta ton. Itu berarti ada peningkatan produksi hingga 0,78 juta ton, atau 15,12 persen dari periode yang sama di 2021, yang hanya sebesar 5,13 juta ton.
Sementara itu, berdasarkan pernyataan Kementerian Pertanian, untuk periode Oktober-Desember 2022, produksi gabah kering giling mencapai 10,24 juta ton atau setara dengan 6 juta ton beras. Secara keseluruhan, total produksi beras Indonesia tahun 2022 mencapai 32 juta ton, sedangkan total konsumsi masyarakat Indonesia hanya 30,2 juta ton. Artinya masih surplus 1,8 juta ton.
“Jika produksi beras nasional menurut Kementrian Pertanian dan BPS masih naik sampai dengan 15,12 persen, bahkan masih surplus 1,8 juta ton, kenapa justru membuka kebijakan impor? Alangkah baiknya bulog melakukan serapan dari petani langsung dengan berkoordinasi dengan Kementrian Pertanian daerah mana saja yang merupakan sentra beras saat ini,” kata Imam.
Ia juga meminta seluruh jajaran kementerian saling bersinergi sehingga mendapatkan data yang akurat, tidak simpang siur seperti saat ini. “Kementrian pertanian dan Badan Pusat Statistik menyampaikan bahwa Indonesia tahun ini surplus beras. Beda lagi dengan Kementerian Perdagangan dan Bulog mengatakan bahwa kita butuh impor karena kurang stok beras. Kalau seperti ini yang benar yang mana?”
Oleh karena itu, Imam Iswadi meminta kepada Pemerintah untuk benar-benar memperhatikan nasib para petani. Terlebih mayoritas Nahdliyin juga merupakan petani. “Kita ini para petani sudah susah mendapatkan pupuk, pupuk subsidi tidak dapat, harga pupuk mahal, kalau hasil pertanian murah, para petani mau dapat apa?”, pungkasnya.
Editor: Syakir NF
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua