Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar: Tugas Pengurus Merangkul Semua Elemen, Meningkatkan Kualitas Nahdliyin
NU Online · Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:45 WIB
Tangkapan layar video Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan taujihat dalam peresmian Auditorium KHR As’ad Syamsul Arifin dan Meeting Room KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin di PCNU Situbondo, Selasa (27/10/2026).
Husnul Khotimah
Kontributor
Situbondo, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa dinamika dan kegaduhan yang sesekali muncul di tubuh NU merupakan hal lumrah. Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari beragamnya latar belakang warga Nahdlatul Ulama, mulai dari golongan qari (ulama) hingga korak (berandal).
“Kegaduhan-kegaduhan yang ada itu bukan sesuatu yang aneh bagi Nahdlatul Ulama, karena memang anggota Nahdlatul Ulama itu mulai dari qori sampai korak,” ungkapnya saat menyampaikan arahan (taujihat) dalam peresmian Auditorium KHR As’ad Syamsul Arifin dan Meeting Room KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin di PCNU Situbondo, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026) malam.
Baca Juga
Rais Aam Tegaskan Larang Aksi 112
Meski demikian, Kiai Miftach menegaskan bahwa keruwetan dalam kebersamaan jam’iyah masih lebih baik daripada kesendirian atau perpecahan.
“Kalau ada kegaduhan, wajar. Bahkan ada sebuah kaidah atau maqalah: Qadrul jama'ah khairun min qadril wahdah, atau tafarrud. Ruwetnya, mbulet-nya sebuah organisasi perkumpulan, itu masih lebih baik daripada mbuletnya, ruwetnya kesendirian, atau perbedaan,” ungkap Kiai Miftach.
Pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah tersebut juga menekankan bahwa pertolongan Allah, rahmat, dan keberkahan senantiasa menyertai mereka yang tetap berada dalam koridor jam’iyah.
“Selama kita masih di jalan jamaah, koridor jamaah masih tetap kita ada di dalamnya, di situ ada rahmah, di situ ada berkah. Di situ ada pertolongan Allah yang dibawa oleh jamaah,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu menuntut NU untuk selalu berada dalam suasana teduh dan tenang. Menurutnya, dinamika merupakan hal yang tidak terpisahkan dari organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.
“Tapi begini sebetulnya, jangan kita terlalu menuntut Nahdlatul Ulama harus teduh, harus tenang. Kalau teduh dan tenang, selesai sudah tugas kita,” ujar Kiai Miftach.
Kiai Miftach menjelaskan bahwa dinamika dan kegaduhan di tubuh NU justru menjadi tantangan bagi para pengurus untuk meredam konflik serta merangkul kembali seluruh elemen warga.
“Di dunia ini memang tempatnya keruwetan, tempatnya keributan, tempatnya hal-hal yang sulit untuk bisa disatukan. Selama kita di dunia, di situ ada dhurar, keruwetan-keruwetan. Nah, itu tugas kita bagaimana keruwetan itu bisa mengecil dan pada akhirnya bisa kembali ke dalam. Karena semua itu umat kita. Yang qari yang korak itu umat kita semua. Itu tugas kita,” ungkapnya.
“Bagaimana yang korak bisa jadi qori? Itu kalau kita berhasil, masyaallah luar biasa pahala kita,” lanjutnya.
Sebelumnya, Kiai Miftach menyoroti besarnya jumlah dan luasnya sebaran warga Nahdliyin yang mendapat pengakuan dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah yang besar tanpa diimbangi kualitas dan wibawa hanya akan menjadi seperti buih di lautan (ka-ghutsais sayyi').
“Memang tambah besar, ghutsa (buih-buih) itu tambah besar, menggunung, apalagi kena sorot sinar matahari akan keluar warna-warni yang indah. Tapi begitu ada angin yang mengembus, ada aliran air bah, bahkan sekecil aliran apapun akan bisa memporak-porandakan buih yang menggunung yang tampak indah itu,” ungkapnya.
Menurutnya, pesan Rasulullah saw. tersebut menjadi peringatan bagi pengurus NU agar terus membina, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) warga Nahdliyin secara berkesinambungan.
“Ini sebetulnya Rasulullah sudah memberikan gambaran-gambaran pada kita agar selalu berhati-hati. Saya yakin kalau pengurus akan mampu, mampu terus memperbaiki, mampu untuk meningkatkan kualitas anggota Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.
Terpopuler
1
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
2
Innalillahi, Anggota BPK RI Fathan Subchi Meninggal Dunia
3
Gus Ipul Sebut PCNU yang Dikabarkan Kembalikan Uang ke KPK Belum Lapor PBNU
4
LSP Pagar Nusa Jalani Asesmen Penuh BNSP untuk Perkuat Kualitas SDM
5
Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
6
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Walhi Ungkap Lemahnya Perlindungan Lingkungan
Terkini
Lihat Semua