Nasional

Refleksi Resolusi Jihad, Rais Aam PBNU Dorong Peningkatan Kualitas Kader NU

NU Online  ·  Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Refleksi Resolusi Jihad, Rais Aam PBNU Dorong Peningkatan Kualitas Kader NU

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: Dok NU Online)

Surabaya, NU Online

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengajak warga Nahdlatul Ulama merefleksikan kembali makna Resolusi Jihad. Ia menegaskan bahwa perjuangan para ulama dan pejuang terdahulu berlandaskan keikhlasan serta kesediaan mengorbankan harta dan nyawa demi agama dan negara.


Hal tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam acara resepsi Hari Santri 2026 dan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina yang digelar di halaman Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, Kamis (22/10/2026).


“Kita membayangkan berarti saat itu pimpinan-pimpinan Nahdlatul Ulama, terutama di Jawa Timur, Jombang pada khususnya, ditunjang oleh para pemimpin-pemimpin di Surabaya, ada beliau-beliau orang yang hanya memikirkan agama dan negara, tidak memikirkan dirinya sendiri, siap mengorbankan harta bahkan nyawa siap dikorbankan,” ujarnya.


Pengasuh Pesantren Miftahussunnah tersebut menekankan bahwa para pemimpin NU pada masa lampau mengutamakan kemaslahatan agama dan negara, bahkan bersedia mempertaruhkan harta dan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan.


“Kenapa ini terjadi di Surabaya? Karena memang Surabaya waktu itu, entah sekarang, adalah pemuda-pemuda dan pemudi yang siap berani mati memperjuangkan negara, agama, dan kesatuan bangsa,” ujar Kiai Miftach.


Menurutnya, keikhlasan dalam berkorban dan berjuang merupakan salah satu makna penting Resolusi Jihad. Ia mengingatkan agar peringatan sejarah tersebut tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan yang melatarbelakanginya.


“Itu makna antara lain daripada Resolusi Jihad. Maka sekarang kita hanya tinggal memperingati, tapi mungkin di dalam memperingati Resolusi Jihad ini jihadnya sudah lepas. Tapi dulu jihad itulah yang melahirkan terjadinya resolusi. Dari Resolusi Jihad itulah lahir perlawanan di 10 November dengan Bung Tomonya,” papar Kiai Miftach.


Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan para pemimpin terdahulu harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


“Ini keberadaan para pemimpin-pemimpin kita, getaran dan semangat perjuangan pada zaman dahulu enggak pernah luntur,” lanjutnya.


Takwa sebagai Bekal Perjuangan

Untuk menjelaskan pentingnya menjaga kualitas perjuangan, Kiai Miftach mengisahkan kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab saat mengirimkan pesan kepada Panglima Perang Saad bin Abi Waqqash yang memimpin pasukan Muslim dalam Perang Qadisiyah melawan imperium Persia.


Saat membacakan pesan tersebut, Kiai Miftach menekankan pentingnya takwa sebagai bekal utama dalam menghadapi lawan dan menjalankan perjuangan.


“Fa inna taqwallah afdholul uddah ala aduwu wa aqwal makida fil harb. Sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan untuk menghadapi lawan sekaligus taktik terkuat di dalam sebuah peperangan,” ujarnya.


Melalui kisah tersebut, Kiai Miftach menjelaskan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan atau kecanggihan perlengkapan perang. Kualitas ketaatan dan kemampuan menjaga diri dari perbuatan maksiat juga menjadi bagian penting dalam perjuangan.


“Jangan kalian melakukan kemaksiatan-kemaksiatan justru kalian di dalam perjuangan sabilillah. Justru kalian dalam dakwah, justru kalian mengajak kebaikan kepada orang lain, jangan kalian melakukan kesalahan, dosa, dan pelanggaran,” tuturnya.


Menurutnya, pelanggaran moral di tengah perjuangan merupakan hal yang perlu diwaspadai. Terlebih, hal tersebut dapat bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan yang hendak diperjuangkan.


Dorong Peningkatan Kualitas Kader NU

Kiai Miftach kemudian mengajak warga NU mengevaluasi sejauh mana besarnya jumlah warga organisasi tersebut diikuti peningkatan kualitas kader dalam berbagai bidang strategis.


Ia mempertanyakan belum optimalnya kontribusi yang dihasilkan dari besarnya jumlah warga NU. Menurutnya, kuantitas perlu diimbangi dengan kualitas agar organisasi mampu menghasilkan karya dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.


“Bagaimana kebesaran ini sampai sekarang belum melahirkan produk-produk perjuangan yang besar? Berarti kita hanya besar dengan jumlahnya, tetapi tidak besar kualitasnya, besar hitungannya, tapi tidak besar dengan kualitas-kualitas yang dimiliki,” ungkapnya.


Karena itu, ia mendorong penyusunan rencana strategis (renstra) yang matang untuk meningkatkan kualitas kader ulama dan pemimpin bangsa. Upaya tersebut, katanya, membutuhkan proses panjang dan perjuangan berkelanjutan.


“Inilah menjadi garapan penting setelah satu abad kita lalui, kita masuk ke abad yang kedua. Ini harus ada program-program renstra, renstra, rencana strategis. Bagaimana bisa mengingatkan, mengajak kembali saudara-saudara kita, kader-kader kita, tentu membutuhkan perjuangan yang panjang, perjuangan yang melelahkan,” pesannya.


Menjelang akhir sambutannya, Kiai Miftach mengapresiasi penyelenggaraan resepsi Hari Santri dan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina di Surabaya. Ia berharap Kota Pahlawan terus melahirkan generasi muda yang mewarisi semangat perjuangan, keberanian, dan ketulusan para pendahulu.


“Semoga ibu-ibu yang ada di depan kita ini melahirkan putra-putri yang punya semangat Resolusi Jihad, dan bapak-bapak juga tidak ketinggalan karena ibu tanpa bapak tentu tidak lengkap,” tutup Kiai Miftach.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang