Warung Kerek hingga Warung Bolong, Potret Perjuangan Pedagang Kecil di Tengah Wacana Pemajakan
NU Online · Kamis, 5 November 2026 | 16:00 WIB
Warung Kerek Bu Neneng di Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (4/11/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Suwitno
Penulis
Jakarta, NU Online
Setiap hari, Muslimah alias Neneng bersahut-sahutan dengan pembeli dari seberang warungnya di Gang RT 001 RW 001, Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Pemandangan itu terlihat pada Rabu (4/11/2026). Para pembeli yang berada di seberang warung harus berteriak untuk menyampaikan pesanan makanan.
Setelah pesanan dipastikan, Neneng membungkus makanan tersebut. Selanjutnya, ia mengerek bungkusan menggunakan katrol yang terpasang di dapur warungnya. Bungkusan itu kemudian melintasi Kali Mampang menuju pembeli di seberang. Cara berjualan yang tidak biasa inilah yang membuat warung tersebut dikenal dengan sebutan Warung Kerek.
Neneng menjelaskan, sebelum menggunakan sistem kerekan, pembeli dari seberang sungai harus datang langsung ke warung untuk membeli makanan. Bahkan, dahulu pembeli masih bisa duduk dan makan di depan rumahnya.
Namun, perubahan kawasan di seberang sungai menjadi area perkantoran dan pembangunan hotel membuat akses masyarakat semakin terbatas. Kondisi tersebut kemudian mendorongnya menggunakan tali kerekan untuk melayani pembeli.
"Awalnya tidak pakai kerekan. Pembeli bisa turun dan makan di sini, di depan rumah. Dulu semuanya masih pakai bangku. Setelah kawasan seberang berubah menjadi hotel dan perkantoran, aksesnya sudah berbeda," ujarnya.
Dalam melayani pesanan, Neneng mengaku awalnya hanya mengandalkan teriakan dan alat komunikasi sederhana seperti handy talky (HT). Bahkan, ia pernah menggunakan kertas untuk mencatat pesanan pembeli. Namun, cara tersebut kerap mengalami kendala, terutama ketika hujan karena kertas menjadi basah dan tulisannya sulit dibaca.
"Dulu kita tidak pakai HP atau WhatsApp. Kalau ada yang pesan, kita teriak-teriak. Pernah juga pakai HT dan tulisan di kertas. Cuma kalau hujan, kertasnya basah sehingga tulisannya tidak terbaca. Sekarang lebih enak karena sudah pakai WhatsApp," tuturnya.
Menurut Neneng, berjualan menggunakan sistem kerekan memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya ketika hujan deras disertai angin kencang. Kondisi tersebut terkadang menyebabkan makanan maupun uang pembeli terjatuh saat proses pengiriman menggunakan tali.
"Kadang makanan kita jatuh, termasuk uangnya juga. Kalau sudah begitu, saya yang mengganti. Namanya juga risiko orang berdagang. Tapi kejadian seperti itu tidak terlalu sering, biasanya kalau anginnya sedang kencang," jelasnya.
Meski demikian, Neneng mengaku tetap menikmati pekerjaannya. Baginya, berjualan dengan sistem kerekan bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga membuat tubuh tetap aktif bergerak. Selain itu, pekerjaan tersebut memungkinkan dirinya tetap memiliki waktu untuk mengurus anak.
"Kita nikmati saja, seperti olahraga. Sambil bekerja, kita juga bisa mendapatkan rezeki dan tetap bisa menjaga anak," katanya.
Pedagang Kecil Tanggapi Wacana Pajak Warung Makan
Lebih lanjut, Neneng turut menanggapi wacana pengenaan pajak terhadap warung makan. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi pedagang kecil yang memiliki pendapatan terbatas. Sebab, penghasilan warung sederhana tentu berbeda dengan restoran yang menawarkan harga lebih tinggi.
"Kalau kita, pendapatannya tidak seberapa. Kita jualan juga minim dan harganya tidak mahal. Beda dengan restoran yang harganya lebih tinggi dan biaya sewanya juga besar. Yang penting kita bisa mendapatkan penghasilan untuk makan dan anak juga bisa makan," ungkapnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga bahan pokok juga menjadi tantangan dalam menjalankan usaha. Modal belanja yang sebelumnya sekitar Rp200 ribu kini bisa meningkat menjadi Rp300 ribu, meskipun barang yang diperoleh tidak jauh berbeda.
"Belanja sembako yang biasanya Rp200 ribu, sekarang bisa Rp300 ribu. Itu baru untuk kopi, terigu, gula, dan telur. Belum termasuk kertas nasi dan styrofoam. Tapi harga jual makanan tetap kita pertahankan. Jadi, kita pintar-pintar mengatur porsinya. Kalau pembeli ingin tambah nasi, ya bisa tambah lagi," tambahnya.
Di tengah kondisi tersebut, Neneng berharap perekonomian masyarakat ke depan semakin membaik. Ia juga berharap harga kebutuhan pokok lebih stabil sehingga tidak semakin membebani pedagang kecil.
"Harapannya semoga ekonomi kita lebih baik. Harga-harga jangan terus naik, kalau bisa stabil. Pemerintah juga harus turun langsung melihat bagaimana masyarakat kecil mencari nafkah," pungkasnya.
Sementara itu, Darto, salah satu pembeli Warung Kerek, menilai sistem pelayanan menggunakan katrol tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Menurutnya, pelayanan yang diberikan juga mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.
"Pelayanannya cocok dan bagus serta selalu memenuhi semua kemauan konsumen sampai puas. Menu masakannya juga enak, masih cocok dengan lidah saya," katanya.
Warung Bolong
Warung Kerek milik Neneng bukan satu-satunya warung makan dengan konsep unik di Jakarta Selatan. Di kawasan Kemang, Kecamatan Mampang Prapatan, tepatnya di belakang Lippo Mall Kemang, terdapat warung sederhana yang dikenal dengan sebutan Warung Bolong.
Warung tersebut memanfaatkan lubang pada tembok tinggi yang memisahkan area parkir pusat perbelanjaan dengan permukiman warga di belakangnya. Saat waktu makan siang tiba, sejumlah karyawan pusat perbelanjaan terlihat mendatangi lubang tersebut untuk membeli makanan dan minuman.
Keberadaan Warung Bolong menjadi alternatif bagi para pekerja di tengah kawasan perkantoran dan pusat perbelanjaan. Selain lokasinya mudah dijangkau, harga makanan yang ditawarkan juga relatif terjangkau sehingga ramah di kantong pelanggan.
Sania (25), salah satu karyawan pusat perbelanjaan sekaligus pelanggan Warung Bolong, mengaku kerap membeli makanan di tempat tersebut. Menurutnya, warung itu menjadi pilihan karena mudah dijangkau dan menawarkan harga yang sesuai dengan kantong pekerja.
"Di dalam tidak ada warteg, jadi lebih enak jajan dan makan di sini. Selain enak juga hemat. Dekat juga dengan pintu keluar," katanya.
Sania juga menyoroti wacana pengenaan pajak terhadap warung makan. Menurutnya, kebijakan tersebut kurang tepat jika berujung pada kenaikan harga makanan yang justru memberatkan masyarakat berpenghasilan pas-pasan.
"Kayaknya enggak cocok ya kalau warteg dipajakin. Nanti harga menunya pasti naik. Kasihan orang-orang yang gajinya pas-pasan. Seperti ini saja sudah nyaman, harga dan rasa juga sudah pas," ungkapnya.
Terpopuler
1
Digugat ke MK, Pemohon Sebut Masyarakat Dipaksa Menyetujui Program KDKMP
2
Innalillahi, Penyusun Syair Asmaul Husna KH Amjad Al Hafidz Wafat
3
Eks Kapolri Listyo Sigit Jadi Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
4
Kemenhaj Buka Lowongan Maganghub bagi Lulusan S1, Pendaftaran hingga 4 November
5
Khutbah Jumat: 3 Pesan Rasulullah untuk Meraih Keselamatan Hidup
6
Perjuangan dan Dedikasi Nyai Shinta Nuriyah: Dari Sahur Bersama hingga Kesetaraan Gender
Terkini
Lihat Semua