Mahomet Karya Maxime Rodinson: Sirah Nabawiyah dengan Sudut Pandang Marxisme
NU Online · Selasa, 3 Maret 2026 | 06:00 WIB
Rifqi Iman Salafi
Kolomnis
Maxime Rodinson (26 Januari 1915-23 Mei 2004) adalah seorang sejarawan cum sosiolog berkebangsaan Prancis yang pernah menorehkan kontroversi dengan menulis sirah nabawiyah dari sudut pandang Marxisme. Biografi Nabi Muhammad SAW yang ditulis Rodinson terbit dengan tajuk singkat, Mahomet (ejaan Muhammad dalam bahasa Prancis). Sirah nabawiyah ‘kiri’ ini terbit pertama kali dalam bahasa Prancis pada 1961.
Karena ditulis dari sudut pandang sekuler dan Marxis, sirah nabawiyah satu ini mengalami pencekalan di negara-negara Arab, salah satunya Mesir. Biografi berasaskan pendekatan sosiologi itu dicekal pemerintah Mesir pada 1998. American University in Cairo selaku penerbit Mahomet di Negeri Para Fir’aun itu terpaksa menghentikan perederannya.
Rodinson yang juga mendalami studi Orientalisme, menggunakan pisau bedah materialisme historis dalam menjelaskan kemunculan Islam di Jazirah Arab. Sebagai seorang Yahudi anti-Zionis, ia secara demikian memandang Muhammad sebagai seorang jenius politik yang mampu merespons krisis sosial-ekonomi di Hijaz pada abad ke-7.
Materialisme Historis Jazirah Arab
Karya Rodinson tidak fokus pada fenomena-fenomena metafisika (keajaiban prakelahiran maupun mukjizat-mukjizat) yang muncul dalam kehidupan Nabi Muhammad saw., tetapi pada kondisi material masyarakat Makkah di masa Nabi Muhammad diutus. Bagi Rodinson, kota Makkah di masa kemunculan Nabi Muhammad adalah pusat modal yang tengah mengalami eskalasi hebat pada laba. Fenomena ini melahirkan ketimpangan sosial yang ekstrem.
Ketimpangan ini muncul dari perubahan watak masyarakat Makkah yang awalnya mengedepankan solidaritas komunal kesukuan, beralih ke individualisme sebagai jalan hidup. Hal ini adalah dampak dari menguatnya semangat dagang yang terpaku pada logika untung rugi, "The sudden growth of wealth from the transit trade had created great inequalities. The rich merchants... were no longer interested in the traditional obligations of the clan towards its poorer members" (Maxime Rodinson dan Anne Carter (penerjemah), Mahomet, [Britania Raya: Penguin,1971], hal. 42).
Dalam suasana penuh ketimpangan ini, Muhammad datang membawa pesan kesetaraan dan keadilan sosial. Visinya adalah sebuah perlawanan ideologis terhadap hegemoni para plutokrat Quraisy. Ia adalah penyambung lidah bagi kaum mustadl’afin yang termarginalisasi.
Muhammad sebagai Revolusioner Politik
Baca Juga
Nur Muhammad dalam Kitab Barzanji
Salah satu topik utama dalam buku ini adalah bagaimana Rodinson memandang Nabi Muhammad sebagai seorang revolusioner. Ia mampu mewujudkan perdamaian di antara klan-klan Arab yang sebelumnya terlibat dalam konflik berkepanjangan. Ia mengikat mereka semua dengan sebuah ideologi transenden, agama Islam. Rodinson melihat bahwa Nabi Muhammad tak hanya punya bekal wahyu ilahi, tetapi juga taktik politik yang lihai, "He was a political genius. He saw what was needed to be done and he did it, with a combination of flexibility and firmness which is the mark of all great statesmen" (Rodinson, 1971, hal. 203).
Di sini, Nabi Muhammad mampu menjadi purwarupa bagi pemimpin revolusioner yang mampu menggerakkan massa proletar untuk meruntuhkan tatanan lama yang feodal dan korup. Klimaksnya adalah ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Ia berhasil menggalang kekuatan dan persatuan seluruh golongan di sana untuk menciptakan tatanan baru yang melampaui batas-batas tribalisme, bahkan agama.
Dialektika Agama dan Kekuasaan
Sebagai seorang Marxis, Rodinson tertarik pada ‘character development’ ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, yakni agama Islam. Bermula dari hanya sebuah gerakan spiritual, Islam yang disiarkan Nabi Muhammad berkembang menjadi cikal bakal nasionalisme. Lahir di Makkah sebagai gerakan spiritual berisi khotbah mengenai moral dan teologi, Islam di Madinah berevolusi menjadi spirit bernegara dengan ajaran yang didominasi oleh hukum keluarga, sosial, dan tata negara. Rodinson melihat perkembangan ini bukan sebagai hipokrasi, melainkan keniscayaan historis.
Wahyu sebagai Instrumen Revolusioner
Rodinson tidak memandang penerimaan wahyu yang dialami Nabi sebagai sebuah peristiwa supranatural yang tak bisa dijelaskan dengan akal manusia. Rodinson berpendapat bahwa wahyu yang turun kepada Nabi adalah rangkaian perenungan psikologis yang mendalam tentang penderitaan masyarakat di sekitarnya. Kemudian, Nabi mengejawantahkan hasil serangkaian perenungan tersebut menjadi pesan-pesan universal berupa wahyu.
Meski menjadi pemegang otoritas religius tertinggi, Nabi Muhammad tetap tunduk pada sosiologi. Wahyu yang ia bawa turun adalah instrumen revolusioner yang berperan dalam menyelesaikan masalah yang hadir pada zaman itu. Ia bukan seorang agamawan yang tinggal di menara gading, "Religious thought is not a separate, independent sphere; it is part of the life of society... Muhammad's message was an answer to the questions which the society of his time was asking" (Rodinson, 1971, hal. 294).
Membela Nabi Muhammad dari tuduhan-tuduhan orientalis
Kendati menganalisis kisah hidup Nabi Muhammad dengan kacamata Barat, Rodinson tak segan mengoreksi pandangan para ahli Barat, utamanya kaum orientalis, yang kerap melihat sosok Nabi Muhammad dengan pandangan yang bias dan rasis.
Sebagai contoh, pembelaannya mengenai tuduhan para orientalis, salah satunya Voltaire, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penipu. Rodinson bersikukuh bahwa, berdasarkan seluruh informasi yang ia peroleh, Nabi Muhammad adalah sosok yang tulus dan punya tendensi positif (Rodinson, hlm. 77)
Rodinson membela keputusan-keputusan Nabi Muhammad yang terkesan keras dalam peperangan dengan berargumen bahwa Nabi Muhammad bertindak sesuai zaman yang ia hadapi. Tidak adil jika menghukumi tindakan-tindakan Nabi yang dilakukan pada abad ke-7 Masehi di lokasi tanah Arab dengan perspektif orang-orang Eropa di masa modern (Rodinson, hlm. 214).
Jembatan antara Islam dan Marxisme
Pemeluk Islam dan penghayat Marxisme sering kali terjebak dalam prasangka antara satu sama lain. ‘Sirah nabawiyah’ karya Maxime Rodinson bisa menjembatani jurang prasangka di antara dua golongan ini. Rodinson menjabarkan bahwa agama bisa menjadi bahan bakar yang efektif dalam melakukan gerakan pembebasan jika ia mampu menjadi instrumen revolusioner bagi krisis material yang dihadapinya.
Pada kesimpulannya, Rodinson begitu menaruh hormat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengatakan bahwa kendati Nabi Muhammad adalah manusia sebagaimana manusia biasa, terdiri dari daging dan darah, hidup di eranya (era penuh keterbatasan dan ketidaktahuan), tetapi dengan tekad dan kejelasan visinya, ia sanggup mengubah jalannya sejarah, "Muhammad was a man of flesh and blood, a man of his time, but a man who, by the power of his will and the clarity of his vision, changed the course of history.” (Rodinson, hlm. 312).
Dengan demikian, Mahomet karya Maxime Rodinson dapat dibaca bukan hanya sebagai biografi alternatif, melainkan sebagai upaya memahami Nabi Muhammad melalui lensa sejarah sosial yang kritis. Setuju atau tidak dengan pendekatannya, karya ini memperlihatkan bahwa figur Nabi Muhammad tetap berdiri sebagai tokoh besar sejarah dunia, melampaui sekat agama, ideologi, dan peradaban.
Ustadz Rifqi Iman Salafi, alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta, Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes, dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat.
Terpopuler
1
Gerhana Bulan Total Bakal Terlihat di Seluruh Indonesia pada Selasa 3 Maret 2026, Dianjurkan Shalat Khusuf
2
Gus Yahya Sebut Kepergian Ketum Fatayat Margaret adalah Kehilangan Besar bagi Keluarga NU
3
Ali Khamenei Wafat dalam Serangan Israel-Amerika
4
PBNU Instruksikan Qunut Nazilah Respons Agresi Israel-AS ke Iran
5
Innalillahi, Ketum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat
6
Ketua Umum PBNU Mengutuk Serangan AS-Israel atas Iran
Terkini
Lihat Semua