Pernahkah anda marah? Di antara kita pasti pernah marah. Punya perasaan marah adalah sesuatu yang wajar. Nabi, sahabat dan para ulama juga pernah marah. Namun, yang paling penting diperhatikan adalah atas dasar apa kita marah dan bagaimana kita menyikapi gejolak itu: menahannya atau membiarkannya hingga memunculkan perlaku lanjutan, seperti berkata kasar, melukai orang lain, merusak barang, dan semacamnya.
Ada beberapa penjelasan tentang sisi negatif marah. Di antaranya:
ŁŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ Ł
ŁŲ±ŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŁ
ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ ŲŖŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁŲ Ų«ŁŁ
ŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŲ§ŲÆŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ ŲŖŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁĀ
āSeorang laki-laki pernah meminta nasihat, āWahai Rasulullah, perintahlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).ā Nabi menjawab, āJangan marah.ā Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, āJangan marahā.āĀ (HR al-Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan:
ŁŁŲ§Ł Ų§ŲØŁ Ł
Ų³Ų¹ŁŲÆ ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ§ ŲŖŁŲ¹ŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ±ŁŲ¹ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŁŁŲ§ ŲŖŁŲµŁŲ±ŁŲ¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ³Ł Ų°ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŁŁŁ
ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŲŗŲ¶ŲØ
āIbnu Masāud berkata, Nabi bertanya, āSiapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa?ā Kami menjawab, āDia yang tidak bisa dikalahkan keperkasaannya oleh siapa pun.ā Nabi menimpali, āBukan demikian, akan tetapi yang perkasa adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marahā.ā (HR Muslim)
Jakfar bin Muhammad berkata:
Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ Ł
ŁŁŁŲŖŁŲ§ŲŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŲ±ŁŁ
āMarah adalah kunci dari setiap keburukan.ā
Lalu bagaimana tips kita agar bisa menahan amarah?
Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi memaparkan bahwa ketika amarah memuncak, ada dua cara luapan emosi itu bisa diredam. Pertama, dengan ilmu. Kedua, dengan amal.
⢠Dengan Ilmu
Dari sisi ilmu, al-Imam al-Ghaazali menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Ų§ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁ: Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŲÆŁ ŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŁŁ ŁŁŲøŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŁŁŲøŁ ŁŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ§ŲŁŲŖŁŁ
ŁŲ§ŁŁŲ ŁŁŁŁŲ±ŁŲŗŁŲØŁ ŁŁŁ Ų«ŁŁŁŲ§ŲØŁŁŁŲ ŁŁŲŖŁŁ
ŁŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲŗŁŲØŁŲ©Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŲ¬ŁŲ±Ł Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁŁŁŲ§Ł
ŁŲ ŁŁŁŁŁŁŲ·ŁŁŁŲ¦Ł Ų¹ŁŁŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲøŁŁŁ.
āPertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.ā
Ų§ŁŲ«ŁŁŲ§ŁŁŁ: Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŁŁŲ§ŲØŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų£ŁŁ
ŁŲ¶ŁŁ ŲŗŁŲ¶ŁŲØŁŁŁŲ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁ
ŁŁŁ Ł
ŁŁŁ ŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ł
ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŁŁŲ¬Ł Ł
ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ
āKedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.ā
Ų§ŁŲ«ŁŁŲ§ŁŁŲ«Ł: Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŁŲ°ŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§ŁŁŲØŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŲÆŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁŁŁŲ§Ł
ŁŲ ŁŁŲŖŁŲ“ŁŁ
ŁŁŲ±Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŲÆŁŁŁŁ ŁŁŁ
ŁŁŁŲ§ŲØŁŁŁŲŖŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŲ³ŁŁŲ¹ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁ
Ł Ų£ŁŲŗŁŲ±ŁŲ§Ų¶ŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŲ“ŁŁŁ
ŁŲ§ŲŖŁŲ©Ł ŲØŁŁ
ŁŲµŁŲ§Ų¦ŁŲØŁŁŁŲ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ®ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ
ŁŲµŁŲ§Ų¦ŁŲØŁŲ ŁŁŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŁŁŲ§ŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ®ŁŲ§ŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¢Ų®ŁŲ±ŁŲ©Ł.
āKetiga, menakut-nakuti dirinya tentang akibat dari permusuhan dan pembalasan, bagaimana sergapan musuh untuk membalasnya, menggagalkan rencana-rencananya serta bahagianya musuh saat ia tertimpa musibah, padahal seseorang tidak bisa lepas dari musibah-musibah. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak.ā
Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŲØŁŲ¹Ł: Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁ ŁŁŲØŁŲŁ ŲµŁŁŲ±ŁŲŖŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁŲ ŲØŁŲ£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ°ŁŁŁŁŲ±Ł ŲµŁŁŲ±ŁŲ©Ł ŲŗŁŁŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŁ ŲŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁŲ ŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁ ŁŁŲØŁŲŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ ŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŲ ŁŁŁ
ŁŲ“ŁŲ§ŲØŁŁŁŲ©Ł ŲµŁŲ§ŲŁŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŲ¶ŁŁŲ§Ų±ŁŁ ŁŁŲ§ŁŲ³ŁŁŲØŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŲ§ŲÆŁŁŲ ŁŁŁ
ŁŲ“ŁŲ§ŲØŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲŁŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁŁŲ§ŲÆŁŁ Ų§ŁŲŖŁŁŲ§Ų±ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ ŁŁŁŁŲ£ŁŁŁŲØŁŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ
ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲŁŁŁŁ
ŁŲ§Ų”ŁŲ ŁŁŁŁŲ®ŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ“ŁŲØŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŲ§ŲØŁ ŁŁŲ§ŁŲ³ŁŁŲØŁŲ§Ų¹Ł ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲ§Ų°ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³ŁŲ ŁŁŲØŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ“ŁŲØŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ
ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ£ŁŁŁŲØŁŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§ŲÆŁŲŖŁŁŁŁ
ŁŲ ŁŁŲŖŁŁ
ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ ŲŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁŲÆŁŲ§Ų”Ł ŲØŁŁŁŲ¤ŁŁŁŲ§Ų”Ł Ų„ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁŁŁ Ł
ŁŲ¹ŁŁŁ Ł
ŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ
āKeempat, berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari. Berilah pilihan untuk dirimu, apakah lebih memilih serupa dengan anjing, binatang buas dan manusia-manusia hina; ataukah memilih untuk menyerupai ulama dan para nabi di dalam kebiasaan mereka? Agar hatinya condong untuk suka meniru perilaku mereka jika ia masih menyisakan satu tangkai dari akal sehat.ā
Ų§ŁŁŲ®ŁŲ§Ł
ŁŲ³Ł: Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŲØŁŲØŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŁŁŲÆŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁŁŁŲ§Ł
Ł ŁŁŁŁŁ
ŁŁŁŲ¹ŁŁŁ Ł
ŁŁŁ ŁŁŲøŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŁŁŲøŁŲ Ł
ŁŲ«ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁ: Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŲŁŁ
ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲ¬ŁŲ²Ł ŁŁŲ§ŁŲ°ŁŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲŖŁŲµŁŁŲ±Ł ŲŁŁŁŁŲ±ŁŲ§ ŁŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ: Ā«Ł
ŁŲ§ Ų£ŁŲ¹ŁŲ¬ŁŲØŁŁŁ! ŲŖŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŲŁŲŖŁŁ
ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲ¢ŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų®ŁŲ²ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ł
ŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲŁŲ°ŁŲ±ŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲµŁŲŗŁŲ±ŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁ
ŁŁŁŲ§Ų¦ŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁŁŁŁĀ» .
āKelima, berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah, semisal ketika dalam hati terdapat bujuk rayu setan; āSesungguhnya orang ini membuatmu lemah dan rendah serta menjadikanmu hina di mata manusiaā, maka jawablah dengan tegas di hatimu āAku heran denganmu. Kamu sekarang mencemoohku karena menahan diri, sedangkan kamu tidak mencemooh dari kehinaan di hari kiamat. Kamu tidak khawatir dirimu akan hina di sisi Allah, para malaikat dan para Nabiā.ā
ŁŁŁ
ŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲøŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŁŁŲøŁ ŁŁŁŁŁŁŲØŁŲŗŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŁŁŲøŁŁ
ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲ°ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŲøŁŁŁ
ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁĀ Ā
āKetika ia menahan amarah, maka seyogiayanya menahan amarah karena Allah. Yang demikian itu bisa membuatnya agung di sisi Allah.ā (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mauāidhah al-Muāmini Min Ihyaā Ulum al-Din, hal. 208)
⢠Dengan Amal
Sedangkan dari sisi amal cara menahan amarah adalah dengan berdzikir membaca taāawudz, kemudian berusaha menenangkan diri. Carilah posisi yang lebih rileks. Bila dalam keadaan berdiri, maka bisa berganti posisi dengan duduk. Jika dalam keadaan duduk, bisa berganti posisi dengan tidur miring. Dianjurkan pula berwudhu dengan air dingin.
Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:
ŁŁŲ£ŁŁ
ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁ
ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁ ŲŖŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ³ŁŲ§ŁŁŁŁ: Ų£ŁŲ¹ŁŁŲ°Ł ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŁŁ
ŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§Ų¦ŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ§Ų¬ŁŁŁŲ³ŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ Ų¬ŁŲ§ŁŁŲ³ŁŲ§ ŁŁŲ§Ų¶ŁŲ·ŁŲ¬ŁŲ¹ŁŲ ŁŁŁŁŲ³ŁŲŖŁŲŁŲØŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŲØŁŲ§ŁŁŁ
ŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŲØŁŲ§Ų±ŁŲÆŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų±ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§Ų±Ł ŁŁŲ§ ŁŁŲ·ŁŁŁŲ¦ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁ
ŁŲ§Ų”Ł.
āAdapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, AāĆ»dzu billĆ¢hi minasy syaithĆ¢nir rajĆ®m (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudhu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.ā (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mauāihhah al-Muāmini min Ihyaā Ulum al-Din, hal. 208).
Barangkali ekspresi kemarahan menurut sebagian kalangan adalah sebuah perbuatan yang menunjukan ketegasan, keberanian, dan keperkasaan. Mereka tidak sadar bahwa yang demikian tersebut timbul dari kebodohannya, pelakunya tidak mengerti bahwa untuk menunjukan keberanian tidak harus bersikap demikian. Bahkan menurut al-Ghazali perbuatan tersebut menunjukan sakitnya hati dan kurangnya akal. Orang yang bodoh tentang hal ini bisa diobati dengan dibacakan kepadanya hikayat-hikayat tentang ahli pemaaf dan kebaikan-kebaikan yang didapatkan dari mereka.
Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:
ŁŁŲ£ŁŲ“ŁŲÆŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŁŁŲ§Ų¹ŁŲ«Ł ŁŁŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų£ŁŁŁŲ«ŁŲ±Ł Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŲŖŁŲ³ŁŁ
ŁŁŁŲŖŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ Ų“ŁŲ¬ŁŲ§Ų¹ŁŲ©Ł ŁŁŲ¹ŁŲ²ŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲ³ŁŲ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŁ
ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ³Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲŖŁŲŁŲ³ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ°ŁŲ§ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁŲ ŲØŁŁŁ ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ±ŁŲ¶Ł ŁŁŁŁŲØŁ ŁŁŁŁŁŁŲµŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŲ¬Ł ŁŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¬ŁŲ§ŁŁŁŁ ŲØŁŲ£ŁŁŁ ŲŖŁŲŖŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŲŁŁŁŲ§ŁŁŲ§ŲŖŁ Ų£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁ
ŁŲ§ Ų§Ų³ŁŲŖŁŲŁŲ³ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŁŁ ŁŁŲøŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŁŁŲøŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŁŁŲØŁŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ
ŁŲ§Ų”Ł.
āDan motifasi paling besar yang mendorong untuk marah menurut mayoritas orang bodoh adalah apa yang mereka sebut kemarahan sebagai keberanian dan kemuliaan diri, sehingga dianggap baik dan dicondongi oleh nafsu. Ini adalah kebodohan, bahkan penyakit hati dan kurangnya akal. Orang bodoh ini bisa diobati dengan cara dibacakan kepadanya cerita-cerita orang yang ramah dan pemaaf, dan hal-hal yang dianggap baik dari mereka berupa menahan amarah, sesungguhnya hal tersebut dikutip dari para Nabi dan Ulama.ā (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mauāidhah al-Muāmini Min Ihyaā Ulum al-Din, hal. 207).
Demikian penjelasan mengenai tips menahan amarah yang dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali. Semoga kita bisa mengamalkannya.
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qurāan, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat