KH Ubaidullah Shodaqoh: Mendirikan Buntet Pesantren Bentuk Tanggung Jawab Keulamaan Mbah Muqoyyim
NU Online · Ahad, 2 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Sabtu (1/8/2026). (Foto: Junaedi)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Cirebon, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan bahwa tanggung jawab kekhilafahan di tangan para ulama.
"Sebagai seorang ulama, sebagai waratsatul anbiya bertanggung jawab atas kekhalifahan ini," katanya saat menyampaikan mauidhoh hasanah pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon , Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).
Sebab, lanjut Kiai Ubaid, ulama merupakan pewaris para Nabi yang mengemban tanggung jawab dalam kesejahteraan umat di muka bumi. Sudah kewajiban bagi ulama menegaskan kepemimpinan. Hal inilah, menurutnya, yang dilakukan Mbah Muqoyyim dengan mendirikan Pondok Buntet Pesantren.
Di masanya, Belanda mulai menjajah Negeri Nusantara dan mengurangi peran kerajaan-kerajaan di Cirebon. Dalam masa penjajahan itu, para ulama memiliki tanggung jawab dari bangsa dari belenggu penjajahan orang kafir.
"Maka dalam hal ini, beliau (Mbah Muqoyyim) melaksanakan perintah suci. Dengan tekanan Belanda, dengan penjajahan demikian sulit, maka tanggung jawab kembali pada ulama. Tanggung jawab mengusir penjajah kembali pada ulama," katanya.
Betapa sulit mendirikan pesantren saat itu karena keselamatan terancam akibat penjajahan."Beliau pernah dikejar Belanda dan bahkan pesantrennya dibakar," katanya.
Mbah Muqoyyim berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cirebon hingga ke Pamelang demi selamat dan dapat terus menyebarkan Islam.
Saat Cirebon terkena wabah yang membuat ribuan orang meninggal, Mbah Muqoyyim pun kembali ke kota asalnya. Ia mengemban tanggung jawab mengayomi umat. Kembalinya ke Cirebon dilakukan dengan syarat pesantren tidak diganggu dan pendirian masjid di setiap desa.
Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peranan kiai pesantren sekaligus menunjukkan pesantren sebagai basis titik nol perjuangan itu sendiri.
"Maka kalau kita berbicara masalah bangsa masalah negara ini, maka kita tidak bisa melepaskan persatuan barisan para ulama yang telah dikonkritkan Hadratussyekh KH Haysim Asy'ari. Membariskan ulama di Nusantara," katanya.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah hasil tangan para kiai. Karenanya, santri dan warga pesantren sudah semestinya menjaga negeri ini. "Kita bertanggung jawab pula merawat bangsa dan negara Indonesia," katanya.
Dalam kesempatan itu, hadir Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Syuriyah PBNU KH Reza Ahmad Zahid, dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani.
Hadir pula Sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani beserta seluruh anggota dewan sepuh Buntet Pesantren, Ketua Umum YLPI Buntet Pesantren KH Aris Ni'matulloh beserta jajarannya, Ketua Umum Panitia Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Ust Ammar Firman Maulana. Kegiatan ini juga dihadiri Kapolda Irjen Pol Pipit Rismanto dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung Abdul Hakim.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga hadir dalam Ziarah dan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Sabtu (1/8/2026) sore di Makbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
2
Ini Rangkaian Kegiatan HUT Ke-81 RI, dari Zikir Kebangsaan hingga Pesta Rakyat
3
Trump Umumkan Perjanjian Pelucutan Senjata di Gaza, Hamas Tegaskan Baru Diterapkan Setelah Israel Mundur Total
4
Pemerintah Siapkan 8.100 Kuota bagi Masyarakat untuk Saksikan Langsung Upacara HUT Ke-81 RI di Istana
5
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
6
Khutbah Jumat: Adab Bertamu dalam Islam, Wujud Akhlak Seorang Muslim
Terkini
Lihat Semua