Hal yang Harus Dihindari Jamaah Haji agar Dapat Predikat Mabrur
NU Online Ā· Sabtu, 1 Juni 2024 | 13:00 WIB
Sunnatullah
Kolumnis
Salah satu rukun Islam yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah ketika sudah mampu, baik secara finansial maupun fisik. Berbeda dengan ibadah pada umumnya, rukun Islam yang kelima ini tidak hanya membutuhkan fisik yang sehat saja, namun juga membutuhkan finansial yang cukup. Karenanya, Allah swt mewajibkan ibadah ini hanya sekali dalam seumur hidup.
Ritual dan beberapa rangkaian kewajiban yang harus dilakukan dalam ibadah haji sangat banyak macamnya dan berbeda-beda tempatnya, mulai dari ihram, tawaf, saāi dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar, berupa surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, bagi orang yang ibadah hajinya diterima atau meraih predikat sebagai haji yang mabrur. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
Ų§ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŲ§Ų±ŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŁ ŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§Ų ŁŁŲ§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲØŁŲ±ŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŲ³Ł ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲ²ŁŲ§Ų”Ł Ų„ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲ©Ł
Baca Juga
Haji Mabrur Sucikan Dosa Besar dan Kecil
Artinya, āDari satu umrah ke umrah yang lainnya (berikutnya) menjadi penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.ā (HR Muslim).
Mengingat hal tersebut, jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji harus benar-benar berusaha agar ibadahnya mendapat predikat haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah swt, sehingga mendapat balasan surga. Dengan haji mabrur pula, ia tidak hanya memiliki pengalaman spiritual, tapi juga akan memiliki derajat yang lebih dekat dengan Allah swt.
Tentunya, orang-orang yang hendak meraih haji mabrur tidak hanya memfokuskan diri dalam beribadah, namun juga harus menahan diri dari hal-hal yang tidak berfaedah dan bisa merusak terhadap pahala ibadah. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa perbuatan yang semestinya ditinggalkan oleh orang-orang yang haji, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qurāan, Allah swt berfirman:
Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ Ų£ŁŲ“ŁŁŁŲ±Ł Ł ŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŲ¶Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų±ŁŁŁŲ«Ł ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų¬ŁŲÆŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ
Baca Juga
Tanda Haji Mabrur dalam Sejumlah Hadits
Artinya, ā(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.ā (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Merujuk penjelasan Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya, ia menjelaskan bahwa dalam ayat di atas terdapat tiga hal yang harus dihindari oleh orang yang sedang menunaikan ibadah haji, yaitu:
- Rafats, seperti berhubungan badan atau hal-hal yang bisa menjadi perantara untuk melakukan hubungan badan;Ā
- Fusuk, yaitu semua perbuatan maksiat atau keburukan, seperti membunuh hewan, menggunakan wewangian dan lainnya;Ā
- Jidal, yaitu setiap perbuatan yang bisa menjadi penyebab pertengkaran, perdebatan dan perbedaan.
Beberapa larangan di atas bertujuan agar jamaah yang menunaikan ibadah haji tidak lagi memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi. Jamaah harus fokus terhadap semua kewajiban-kewajiban haji, mulai dari rukun dan syarat-syaratnya. Hal itu agar ia benar-benar fokus untuk beribadah kepada Allah swt dan menjadikan haji sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri,
ŁŁŁŁŲŖŁŲŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŲ“ŁŁŁŲÆŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŲŖŁŁŁŲ°ŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ³Ł ŁŁŲ„ŁŲ“ŁŲ¹ŁŲ§Ų±ŁŁŁŲ§ ŲØŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁ
Artinya, āMaka (dengan tidak melakukan tiga hal itu) akan nyata tujuan yang diinginkan dari ibadah haji, yaitu memperbaiki diri dan menumbuhkan kesadaran diri dengan beribadah kepada Allah.ā (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir fil Aqidah wal Manhaj wasy Syariah, [Damaskus: Darul Fikr, 1418], juz II, halaman 207).
Selain itu, salah satu hal yang bisa menjadikan ibadah haji tidak sempurna dan tidak akan meraih haji mabrur adalah salahnya niat. Niat yang salah juga akan menjadikan ibadah haji kurang sempurna. Misalnya, haji hanya untuk pamer, berwisata, jalan-jalan, untuk berdagang, untuk mencari uang dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł Ų²ŁŁ ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲŲ¬ŁŁ Ų£ŁŲŗŁŁŁŁŁŲ§Ų¤ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁŲ²ŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ£ŁŁŁŲ³ŁŲ§Ų·ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŲŖŁŁŲ¬ŁŲ§Ų±ŁŲ©Ł ŁŁŲ£ŁŲŗŁŁŁŲØŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŲ±ŁŁŁŁŲ§Ų”Ł ŁŲ§ŁŲ³ŁŁŁ ŁŲ¹ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŁŲ±ŁŲ§Ų¤ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁŲ©Ł
Artinya, āAkan datang pada manusia suatu masa, di mana orang-orang kaya menunaikan ibadah haji untuk berwisata, orang-orang menengah untuk berdagang, orang-orang pandai untuk mendapatkan pujian dan pamer, dan orang-orang fakir untuk meminta-minta.ā (HR Anas bin Malik).
Mengomentari hadits di atas, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali (wafat 505) dalam salah satu karyanya menjelaskan bahwa orang-orang yang menjadikan ibadah haji dengan tujuan hanya untuk meriah keuntungan duniawi, pamer, sombong, berdagang dan lainnya, maka mereka tidak akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan ibadah haji. Dalam kitabnya ia mengatakan:
ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲØŁŲ±Ł Ų„ŁŲ“ŁŲ§Ų±ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁ Ų¬ŁŁ ŁŁŁŲ©Ł Ų£ŁŲŗŁŲ±ŁŲ§Ų¶Ł Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲŖŁŁ ŁŁŲŖŁŲµŁŁŁŁŲ±Ł Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲŖŁŁŲµŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁŁŲ¹Ł ŁŁŲ¶ŁŁŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ ŁŁŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ¬ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŲŁŁŁŲ²Ł ŲŁŲ¬ŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲµŁŁŁŲµŁ
Artinya, āDalam hadits ini mengisyaratkan beberapa tujuan duniawi yang ia gambarkan untuk bisa diraih dengan haji. Padahal semua itu termasuk sesuatu yang bisa menjadi penghalang dari keutamaan haji, dan mengeluarkannya dari status hajinya orang-orang istimewa (khusus).ā (Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Maārifah: tt], juz I, halaman 262).Ā
Karena itu, sangat penting bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji untuk benar-benar meluruskan niat. Niat ibadah haji yang benar hanyalah semata karena Allah swt dan untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Mengesampingkan tujuan-tujuan yang bersifat duniawi adalah cara terbaik agar ibadah haji tidak ditolak dan tidak sia-sia. Berkaitan dengan pentingnya meluruskan niat, Allah swt berfirman dalam Al-Qurāan:
ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲŁŲ¬ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁŁŁ
Artinya, āDan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.ā (QS Al-Baqarah [2]: 196).
Syekh Sulaiman bin Umar al-Bujairami, dalam salah satu kitabnya menjelaskan bahwa ayat di atas merupakan bentuk isyarat dari Allah swt perihal keharusan meluruskan niat ketika menunaikan ibadah haji. Meluruskan niat dalam ibadah haji adalah dengan menjalani rukun Islam yang kelima ini dengan murni semata karena Allah swt dan penuh ikhlas, serta tidak ada tujuan ingin dipuji orang lain dan yang sesamanya. (Syekh Bujairami, Tuhfatul Habib āala Syarhil Khatib, [Beirut, Darul Fikr: tt], juz III, halaman 181).
Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan-perbuatan yang bisa menjadikan ibadah haji tertolak adalah (1) rafats, yaitu berhubungan badan, baik dengan istrinya sendiri apalagi dengan yang lain; (2) melakukan kemaksiatan dan keburukan; (3) melakukan perbuatan yang bisa menjadi penyebab perdebatan, pertengkaran dan kekacauan; dan (4) salah niat.
Demikian penjelasan perihal perbuatan-perbuatan yang harus dihindari oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji agar tidak tertolak dan bisa mendapatkan haji mabrur. Semoga bermanfaat. Wallahu aālam.
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Terpopuler
1
Hukum Mengambil Air Masjid untuk Kebutuhan Warga Saat Kekeringan, Bolehkah?
2
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
3
Membaca Ulang Fiqih Pajak: Agenda yang Tersisa dari Muktamar Ke-35 NU
4
Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan Mamah atau Ummi
5
Presiden Prabowo Tiba di India untuk Hadiri KTT Ke-18 BRICS
6
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua