Syariah

Nikah di Bulan Syawal: Mengubah Tradisi Jahiliah

NU Online  Ā·  Sabtu, 5 April 2025 | 07:00 WIB

Nikah di Bulan Syawal: Mengubah Tradisi Jahiliah

Pernikahan di bulan Syawal. (Foto: NU Online/Freepik)

Selain lebaran Idul Fitri, kebiasaan yang telah menjadi tradisi umat di bulan Syawal ialah melangsungkan pernikahan. Banyak orang memilih tanggal akad nikah tepat pada bulan yang jatuh setelah Ramadhan ini. Hal ini karena merupakan kesunahan bila terjadi akad di bulan Syawal.


Jika kita melihat sejarah, akan kita temukan jika bulan Syawal ini dianggap oleh masyarakat jahiliah pra-Islam sebagai bulan yang buruk, kehancuran, dan pemecah belah masyarakat. Anggapan semacam ini berdampak buruk pada apapun jalinan hubungan yang terjadi antara suami dan istri.


Para ahli tata bahasa, seperti Sayyid Murtadho Az-Zabidi dalam kitabnya, Tajul ā€˜Arus menerangkan bahwa asal muasal penamaan Syawal ini karena pada waktu itu bertepatan dengan saat unta mengangkat ekornya (tasyulul Ibil).


Ł‚Ų§Ł„ŁŽ ابنِ ŲÆŁŲ±ŁŽŁŠŁ’ŲÆŁ: Ų²ŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŽ Ł‚ŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŒ Ų£Ł†Ł‘ŁŽŁ‡ Ų³ŁŁ…Ł‘ŁŁŠŁŽ} Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„Ų§Ł‹ Ł„Ų£Ł†Ł‘ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ§ŁŁŽŁ‚ŁŽ ŁˆŁŽŁ‚Ł’ŲŖŲ§Ł‹ {ŲŖŁŽŲ“ŁŁˆŁ„Ł ŁŁŠŁ‡Ł Ų§Ł„Ų„ŁŲØŁŁ„Ł: Ų£ŁŽŁŠ ŲŖŁŽŲ±Ł’ŁŁŽŲ¹Ł Ų°ŁŽŁ†ŁŽŲØŁŽŁ‡Ų§ŲŒ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ Ł‚ŁŽŁˆŁ’Ł„Ł Ų§Ł„ŁŁŽŲ±Ł‘ŁŽŲ§Ų”Ł


Artinya: ā€œIbnu Duraid berkata: suatu kelompok meyakini Syawal dinamakan demikian karena bertepatan dengan waktu unta-unta mengangkat ekornya. Ini adalah pendapat Imam Al-Farra’.ā€Ā (Sayyid Murtadho Az-Zabidi, Tajul ā€˜Arus min Jawahiril Qamus, Juz 29 hal. 304)


Kondisi seperti ini pertanda jika terjadi perkawinan di antara unta tersebut, jalur perkawinannya (persetubuhannya) terhalang apabila unta-unta itu menaikkan ekor mereka. Pendapat lain kata Az-Zabidi, ada yang mengatakan bahwa di saat itu adalah waktu unta-unta berkurang air susunya. Sama halnya di waktu musim yang sangat panas dan kelembaban berkurang.Ā 


Jika diperhatikan, kedua makna tersebut berkonotasi pada hal-hal yang negatif. Hal ini yang kemudian diyakini oleh masyarakat Arab Jahiliah bahwa melangsungkan pernikahan di bulan Syawal akan membawa malapetaka dan kesialan. Mereka menyamakannya dengan kebiasaan hewan unta di waktu tersebut.


ŁˆŁƒŲ§Ł†ŁŽŲŖŁ’ Ų§Ł„Ų¹ŁŽŲ±ŁŽŲØŁ ŲŖŁŽŲ·ŁŽŁŠŁ‘ŁŽŲ±Ł مِنْ Ų¹ŁŽŁ‚Ł’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł…ŁŽŁ†Ų§ŁƒŁŲ­Ł ŁŁŁŠŁ‡ŁŲŒ ŁˆŲŖŁ‚ŁˆŁ„Ł: ā€ŒŲ„Ł†Ł‘ŁŽ ā€ŒŲ§Ł„Ł…ŁŽŁ†Ł’ŁƒŁŁˆŲ­ŁŽŲ©ŁŽ ā€ŒŲŖŁŽŁ…Ł’ŲŖŁŽŁ†ŁŲ¹Ł ā€ŒŁ…ŁŁ† ā€ŒŁ†Ų§ŁƒŁŲ­ŁŁ‡Ų§ŲŒ ā€ŒŁƒŁŽŁ…ŁŽŲ§ ā€ŒŲŖŁŽŁ…Ł’ŲŖŁŽŁ†ŁŲ¹Ł ā€ŒŲ·ŁŽŲ±ŁŁˆŁ‚ŁŽŲ©Ł ā€ŒŲ§Ł„Ų¬ŁŽŁ…ŁŽŁ„Ł ā€ŒŲ„ŁŲ°Ų§ ā€ŒŁ„ŁŽŁ‚ŁŲ­ŁŽŲŖŁ’ ā€ŒŁˆŲ“Ų§Ł„ŁŽŲŖŁ’ ā€ŒŲØŁŲ°ŁŽŁ†ŁŽŲØŁŁ‡Ų§ ŁŲ£ŁŽŲØŁ’Ų·ŁŽŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŲØŁŁŠŁ‘ŁŲŒ صلى الله Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³Ł„Ł… Ų·ŁŁŠŲ±ŁŽŲŖŁŽŁ‡ŁŁ…


Artinya: "Orang Arab menanggap sial melakukan akad pernikahan di bulan Syawal, mereka berkata: sungguh wanita yang dinikahi terhalang disetubuhi suaminya, sebagaimana terhalang jalan masuk (kelamin) unta-unta apabila hewan itu melakukan perkawinan dan mengangkat ekornya. Nabi Muhammad lalu menghilangkan anggapan kesialan merekaā€ (Sayyid Murtadho Az-Zabidi, Tajul ā€˜Arus min Jawahiril Qamus, hal. 304).


Pasca Islam datang, asumsi lemah semacam ini dihilangkan oleh Nabi Muhammad. Cara yang beliau lakukan adalah dengan menikahi AisyahĀ RAĀ dan berkumpul dengannya di bulan Syawal. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang bersumber langsung dari Ummul Mukminin Aisyah.


ŲŖŁŽŲ²ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ¬ŁŽŁ†ŁŁŠ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł ŲµŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ…ŁŽ فِي Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„Ł. ŁˆŁŽŲØŁŽŁ†ŁŽŁ‰ بِي فِي Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„Ł. Ā : Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’


Artinya:Ā ā€œDari Aisyah berkata: Rasulullah SAWĀ menikahiku di bulan Syawal dan berkumpul (bersetubuh) denganku pada bulan Syawal.ā€Ā (Shahih Muslim, Juz 2, hal. 1039, Dar Ihya At-Turats, Beirut, 1995).


Berdasarkan hadits ini, para ulama kemudian menjadikannya sebagai dalil bahwa sunah dan dianjurkan bagi seseorang untuk melangsungkan pernikahan, menikahkan, dan berkumpul (suami-istri) di bulan Syawal. Seperti yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi tatkala mensyarh hadits ini.


ŁŁŁŠŁ‡Ł Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŲ­Ł’ŲØŁŽŲ§ŲØŁ Ų§Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŲ²Ł’ŁˆŁŁŠŲ¬Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŲ²ŁŽŁˆŁ‘ŁŲ¬Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲÆŁ‘ŁŲ®ŁŁˆŁ„Ł فِي Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ Ł†ŁŽŲµŁ‘ŁŽ Ų£ŁŽŲµŁ’Ų­ŁŽŲ§ŲØŁŁ†ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŲ­Ł’ŲØŁŽŲ§ŲØŁŁ‡ŁŲ› ŁˆŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŲÆŁŽŁ„Ł‘ŁŁˆŲ§ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŲ«Ł. ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲµŁŽŲÆŁŽŲŖŁ’ Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’ŁƒŁŽŁ„ŁŽŲ§Ł…Ł Ų±ŁŽŲÆŁ‘ŁŽ Ł…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽŲŖŁ’ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ„ŁŁŠŁ‘ŁŽŲ©Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ®ŁŽŁŠŁ‘ŁŽŁ„ŁŁ‡Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł…Ł‘Ł Ų§Ł„Ł’ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ مِنْ ŁƒŁŽŲ±ŁŽŲ§Ł‡ŁŽŲ©Ł Ų§Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŲ²ŁŽŁˆŁ‘ŁŲ¬Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲŖŁ‘ŁŽŲ²Ł’ŁˆŁŁŠŲ¬Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲÆŁ‘ŁŲ®ŁŁˆŁ„Ł فِي Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„ŁŲ› ŁˆŁŽŁ‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ ŲØŁŽŲ§Ų·ŁŁ„ŁŒ Ł„ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲµŁ’Ł„ŁŽ Ł„ŁŽŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ مِنْ Ų¢Ų«ŁŽŲ§Ų±Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ„ŁŁŠŁ‘ŁŽŲ©ŁŲ› ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŁˆŲ§ ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ·ŁŽŁŠŁ‘ŁŽŲ±ŁŁˆŁ†ŁŽ ŲØŁŲ°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ł„ŁŁ…ŁŽŲ§ فِي اسْمِ Ų“ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ł„Ł مِنْ Ų§Ł„Ł’Ų„ŁŲ“ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų±Ł‘ŁŽŁŁ’Ų¹Ł


Artinya: ā€œHadits ini berisi anjuran untuk menikahkan, menikah, dan berkumpul suami-istri di bulan Syawal. Para ashab kami (Syafi’iyyah) juga telah meredaksikan kesunahannya. Mereka beristidlal dengan hadits ini. Maksud Aisyah dengan ungkapannya itu untuk menolak kebiasaan orang jahiliah dan apa yang dibayangkan sebagian orang awam bahwa makruh menikahkan, menikahi, dan berkumpul di bulan Syawal. Ini batil tidak ada dasarnya dan termasuk peninggalan jahiliah, mereka menganggap sial hal itu berdasar nama ā€œSyawalā€ dari kata, ā€œunta yang mengangkat ekornyaā€. (Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Juz 5, hal. 55)


Apa yang dilakukan Rasulullah dengan menikahi Aisyah di bulan Syawal ini merupakan bentuk tindakan perlawanan beliau terhadap anggapan sial dan pesimisme yang seringkali dialamatkan pada momen tertentu. Dua penyakit ini telah lama merambat dan menimpa kaum jahiliah pra-Islam.Ā 


Setelah Islam datang, keduanya diobati sebisa mungkin oleh Rasulullah. Salah satunya lewat jalur amaliah (praktik) beliau dengan melangsungkan pernikahan dan juga bersetubuh denganĀ Aisyah di bulan Syawal. Alhasil, keyakinan buruk, asumsi negatif, dan segala bentuk tuduhan miring terkait nikah di bulan Syawal berubah menjadi sebuah sunah yang dianjurkan hingga sekarang. Karena sebagai bentuk imtisal (melaksanakan) apa yang pernah dikerjakan oleh Nabi.


Para ulama terkemuka dalam bidang hadits pun banyak yang memberikan bahasan khusus terkait kapan disunahkannya menikah dalam karya-karya mereka. Imam Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Imam Ahmad dan lainnya, mereka sama berpendapat dianjurkannya menikah di bulan Syawal. Wallahu A’lam


Ustadz Muhammad Izharuddin, Mahasantri STKQ Al-Hikam.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang