Aswaja Mencintai Keluarga dan Sahabat Secara Proposional
NU Online · Kamis, 22 Maret 2012 | 02:25 WIB
Jombang, NU Online
Ahlussunnah wal jama’ah dikenal sebagai faham yang konsisten dalam mencintai keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad. Namun kecintaan itu tetap berpedoman pada prinsip seimbang (tawazun), tengah-tengah (tawassuth), dan tegak lurus (i’tidal), serta tidak berlebih-lebihan.
”Ahlussunnah mencintai keluarga dan sahabat nabi secara moderat dan tidak berlebih-lebihan, tidak sebagaimana sementara golongan lain yang cenderung berlebihan mencintai keluarga rasul, dan mengkritik berlebihan pada sementara para sahabat,” demikian disampaiakan Yusuf Suharto pada Pembekalan Aswaja hari kedua, Rabu (21/03) di asrama Sunan Ampel Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang.
<>
Di hadapan puluhan santri putra putri tersebut sekretaris Aswaja NU Center ini juga menjelaskan beberapa golongan yang berbeda dengan Ahlussunnah waljama’ah mainsteram, yaitu Musyabbihah, Mu’tazilah, Khawarij, Jabbariyah, dan sementara aliran kebatinan yang menisbatkan diri sebagai muslim.
”Kita juga harus mewaspadai aliran kebatinan ini, yang menganggap syariat tidak penting, karena terpancang pada klaim makrifat,” ujarnya.
Terkait dengan Hizbut Tahrir pria kelahiran Banyuwangi ini juga mengkritik konsep Khilafah Nubuwwah dalam fase kelima sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Hudzaifah yang diyakini Hizbut Tahrir sebagai khilafah yang ditunggu-tunggu. Dinyatakannya bahwa pendapat HTI itu salah menurut para ulama sunni.
“Karena menurut para ulama sunni itu yang dimaksud dengan bisyarah khilafah al-nubuwwah pada fase kelima dalam hadits di atas adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz. Di antara ulama tersebut adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Hafizh al-Baihaqi, al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, dan Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani,” ujar pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN-NU) Jombang ini.
Di akhir pembekalan Yusuf Suharto mengajak para santri untuk membekali secara luas dan mendalam dalil dan landasan amaliyah dan doktrin aswaja agar ketika terjun ke masyarakat tidak goyah. Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan sesama muslim adalah keniscayaan, asal bukan untuk perpecahan.
“Mari mengaktualisasikan semboyan di Nahdlatul Ulama untuk bersatu padu dan tidak berpecah belah,“ pungkasnya sembari menyitir surat Ali Imran ayat 103.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Abdullah
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Seni Berlapang Dada di Tengah Ujian Kehidupan dari Imam al-Qusyairi
2
Khutbah Jumat: Menata Hati di Tengah Zaman Penuh Fitnah
3
Khutbah Jumat: Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh
4
Tiga Peserta Meninggal, Amnesty Minta Latsarmil Pengelola Kopdes Dihentikan
5
Harga Barang Naik, Rakyat Menjerit: Di Mana Letak Tawakal dan Kritik Kebijakan?
6
Khutbah Jumat: Mengambil Teladan Abdurrahman bin Auf dalam Membangun Bisnis yang Berkah
Terkini
Lihat Semua