Bagi Tugas Hizbullah-PETA
NU Online · Senin, 23 November 2009 | 10:07 WIB
Atas dua permohonan ini, Saikoo Sikikan meberikan persetujuannya. Kalau surat Gator melahirkan PETA, surat 10 ulama menghasilkan Hizbullah. Dua kelompok tentara inilah yang kelak ikut membangun tentara nasional kita. 10 ulama yang mengajukan permohonan itu adalah KH Mas Mansur, KH Adnan, Dr Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H Mansur, Guru H Cholid, KH Abdul Majid, Guru H Yakub, KH Djunaedi, H Mochtar dan H Moh. Sodri.<>
Tempat latihan calon prajurit yang disebut ksatrian untuk dua kelompok itu tak berjauhan. PETA dilatih di kota Bogor, Hizbullah agak ke pinggiran, di Cibarusah. PETA mewakili kelompok nasionalis, Hizbullah merepresentasikan kalangan Islam. Secara kultural, adanya dua kelompok ini memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam tubuh bangsa Indonesia. Hal ini diakui oleh Kiai Wachid Hasyim, sebagaimana dikutip Saifuddin Zuhri (1987), “Sukar bagi Nippon untuk hanya membuat satu wadah. Faktor-faktor obyektif yang ada pada golongan Islam dan Nasionalis tak bisa dibantah. Itu sudah ada sejak zaman Majapahit-Demak.”
Sebelumnya usulan soal Hizbullah ini sempat dibahas alot dalam rapat Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Dipersoalkan, mengapa harus ada dua kelompok, bukankah satu kelasykaran akan jadi lebih kokoh? Akhirnya pemisahan PETA dan Hizbullah disepakati karena dengan dua kelompok, musuh dianggap akan lebih sulit memecah atau menguasainya. Rapat memutuskan, “lebih baik pura-pura pecah daripada pura-pura bersatu.” Namun, sekalipun berdiri sendiri-sendiri, kurikulum kedua lasykar itu sama, yakni materi yang disusun oleh Kapten Yamazaki.
Adanya dua pelatihan itu, bagi para penggerak perjuangan kemerdekaan adalah sebuah strategi. Prinsipnya, semakin banyak yang mendapat latihan kemiliteran, kian baik buat bangsa Indonesia. Sementara penguasa militer berpikiran semakin banyak pasukan yang kelak akan membantu mereka, semakin baik untuk Nippon. Keinginan bisa sama, tetapi motif dan motivasi bisa berbeda. Di situlah seninya berkolaborasi atau bekerjasama.
Bagi para pemimpin Islam saat itu, adanya dua wadah keprajuritan itu menyisakan pekerjaan rumah. Yakni, siapa yang masuk PETA dan siapa yang mengisi Hizbullah. Kalangan Islam tentu tak bisa sepenuhnya dalam barisan Hizbullah, harus ada juga yang masuk PETA. Maka sejumlah pemuda pilihan yang mewakili ormas Islam pun bergabung dalam PETA. Dari NU ada Abdul Kholiq Hasyim, Wahib Wahab (Jatim), Syam’un (Jabar). Dari Muhammadiyah ada Yunus Anis (Yogyakarta), Muljadi Joyomartono (Jateng), Iskandar Idris (Jabar). Dari PUII diutus Basyuni (Jabar), sementara PSII antara lain mengirimkan Arudji Kartawinata.
Sementara para pemuda Islam lainnya berbondong-bondong masuk Hizbullah. Ringkasnya, pemuda sekolahan masuk PETA sementara para santri masuk Hizbullah. (Iip D. Yahya)
Terpopuler
1
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
2
Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste
3
Resmikan Klinik di Cilacap, Gus Yahya: Harus Profesional, Bukan Sekadar Khidmah
4
Haji 2026: 5.426 Jamaah Aceh Siap Terbang, Ini Rute dan Jadwalnya
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
Harlah Ke-76, Fatayat NU Instruksikan Ziarah hingga Aksi Sosial
Terkini
Lihat Semua