Dukung Swasembada Pangan, NU Bogor Giatkan Santri Tani
NU Online · Jumat, 17 Februari 2012 | 06:14 WIB
Bogor, NU Online
Nahdlatu Ulama Bogor giatkan kegiatan Santri Tani (Santan) bekerjasama dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Jimmy Corporation di Sukamantri, Tamansari, Bogor.
Pelatihan Santan (Santri Tani) kali ini adalah gelombang kedua, dan dihadiri oleh anak-anak kiai dan lurah pondok pesantren dari Bogor, Banyuwangi, Yogyakarta, Tegal, Banyumas, Ciamis, Pandeglang, Lampung dan lainnya. Pelatihan ini dimaksudkan untuk membangun Indonesia sehat dan swasembada pangan.
<>
Kenaikan harga beras belakangan ini telah dirasakan masyarakat bawah diberbagai tempat, termasuk di Kabupaten Bogor. Di sisi lain, keinginan makan sehat tanpa pestisida juga telah menjadi kesadaran masyarakat menengah ke atas. Tapi bukan berarti masyarakat bawah tidak berkeinginan hal yang sama. Alih-alih berkeinginan bahan pokok organik (tanpa pestisida) yang harganya melambung tinggi, bisa terpenuhi keseharian ala kadarnya saja mereka sudah bersyukur.
Menurut Ahmad Ikrom, ketua Lembaga Dakwah NU kabupaten Bogor, yang juga sebagai team fasilitator pelatihan Santan, keterpurukan dalam ketahanan pangan di Indonesia dikarenakan generasi muda bangsa semakin tidak berminat untuk jadi petani. Bahkan pemuka agama sendiri hampir tidak ada yang menyerukan santrinya untuk menjadi petani.
Hal ini sangat wajar karena pekerjaan menjadi petani di Indonesia baik secara sosial maupun status perekonomian tidak membanggakan. Selama di sini santri juga akan merasakan memulung sampah tiap pagi hari untuk dijadikan media tanam sekaligus membersihkan lingkungan.
“Namun demikian, jika dibandingkan dengan alumni-alumni sekolah-sekolah umum, alumni pesantren masih lebih banyak yang mau jadi petani, imbuhnya.
Keresahan yang sama juga dirasakan oleh KH Masdar F Mas'udi, rais syuriyah PBNU mengatakan Indonesia dengan anugerah Sumber Daya Alam (SDA) yang telah diberikan mestinya sanggup hidup sehat dan berkecukupan pangan.
Ia mengatakan; PBNU harus dapat mencetak tiga tipe kiai; mutaffaqih, muballigh dan mursyid. Kiai Mutaffaqqih adalah kiai yang mendalami ilmu-ilmu keagamaan secara kaffah (komprehensif), mulai dari aqidah, fiqh dan akhlaq seperti yang telah diajarkan di pesantren-pesantren.
Kiai Muballigh adalah kiai yang pintar berorasi agama (tabligh) dipanggung-panggung pengajian. Sementara kiai mursyid adalah kiai yang dapat mendampingi masyarakat dengan segala kesulitannya, termasuk di antaranya adalah mendampingi petani-petani yang belakangan menghadapi berbagai kesulitan.
“Sudah saatnya NU mencetak kiai mursyid sebanyak-banyaknya untuk menuju Indonesia sehat dan berketahanan pangan,” paparnya.
Dalam sambutan pembukaan santri tani, di Bogor ia berpesan “Kalian harus menjadi garda depan untuk mendampingi petani-petani di Indonesia. Kalian harus belajar banyak dan merasakan betul bagaimana menjadi petani, dan berterimakasihlah pada Bapak Jimmy yang telah siap membimbing kalian bertani selama tiga bulan di sini,“
Dalam kesempatan yang sama, Jimmy, Pengasuh Padepokan Santan menjelaskan bahwa selama tiga bulan di sini, santri akan diajarkan menanam berbagai tanaman buah, sayuran, padi dan umbi-umbian serta peternakan. Prinsipnya nantinya mereka harus dapat meyakinkan bahwa petani bisa kaya.
“Oleh karena itu, saya meminta para santri tani di sini untuk mengumpulkan uang yang ada disakunya. Tidak boleh di antara mereka belanja sebelum mendapatkan uang sendiri,“ jelasnya.
Uang yang dibekali oleh kiai atau orang tua dari rumah, diminta dikumpulkan sendiri oleh lurah pondok, dan nanti diberikan lagi dalam keadaan utuh. Adapun kebutuhan hidup, pesantren yang menanggungnya.
Ia menambahkan pesan kepada santri, maksimal dua belas hari sudah bisa berbelanja dengan uang hasil sendiri. Karena menamam sayuran seperti sawi dan kangkung dua belas hari sudah dapat dipanen.
Selain itu, santri pulang dari sini pasti akan membawa hasil dari keringatnya sendiri. “Selain itu, saya sudah siapkan anakan ayam kampung tiap santri lima puluh ekor. Silahkan dirawat dengan sistem peternakan di sini, insyaallah lima puluh hari sudah dapat dipanen,“ imbuhnya.
Bagaimana petani bisa menjadi kaya? Petani harus menanam yang dapat dipanen dalam jangka dua mingguan dan bulanan. Dengan adanya Santri Tani ini, Jimmya menyatakan ingin membantu impian kiai Masdar yang juga telah diharapkan masyarakat.
Sementara di tempat terpisah, KH Romdhon (Kang Doni), ketua PCNU Kabupaten Bogor mengucapkan selamat datang dan akan silaturahim. “Saya sangat bangga dan mendukung kegiatan ini. Dengan adanya santri tani yang professional jelas akan menarik minat warga untuk bertani dengan baik.“
Ia juga mengatakan; Kegiatan ini juga akan dikembangkan di seluruh pesantren di kabupaten Bogor.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Ahmad-Ayad
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
5
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
6
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
Terkini
Lihat Semua