Semarang, NU Online
Gerakan Pemuda (GP) Ansor menggencarkan kaderisasi. Organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) ini dituntut mendidik para anggotanya menjadi kader ideal. Yaitu yang selalu berpegang teguh pada ajaran Islam agama pembawa kedamaian, dan cinta tanah air Indonesia.
Karena itu Pelatihan Kader Ansor dan Diklat untuk Banser harus diadakan secara disiplin, terencana dan semakin berkualitas. Beberapa bidang garapan harus diurus secara baik, agar menjadi organisasi yang modern dan profesional.
<>
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Nusron Wahid menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi dengan Pimpinan Wilayah GP Ansor Jateng dan Pimpinan Cabang-Cabang GP Ansor se-Jateng, di Aula kantor PWNU Jateng, Jl Dr Cipto 180 Semarang, kemarin (Jum’at, 20/1).
Nusron didampingi unsur pimpinan pusat, Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, setiap cabang GP Ansor harus menggelar Pelatihan Kader dan Diklatsar Banser minimal setahun sekali. Targetnya dalam 4 tahun periode kepengurusan, setidaknya ada 1.000 kader baru untuk Pulau Jawa, dan 500 untuk Luas Pulau Jawa.
“Setiap Cabang harus menggelar pelatihan kader Ansor dan Diklatsar Banser setahun sekali. Dalam empat tahun minimal 4 angkatan. Targetnya seribu anggota baru kalau di Jateng ini,” tutur mantan Ketua Umum PB PMII ini.
Para kader yang telah mengikuti pendidikan di tingkat cabang, lanjut anggota DPR ini, perlu dididik di tingkat wilayah untuk menjadi calon pemimpin di jenjang lebih tinggi. Untuk anggota Banser digembleng dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan). Seterusnya, ada Pelatihan Kader tingkat nasional yang diikuti dari kader yang terleseksi.
Lebih lanjut pemuda asal Kudus ini menjelaskan, Pimpinan Pusat GP Ansor bertanggungjawab mengoordinasi dan mendorong aktifnya PimpinanCabang di kabupaten atau kota. Sedangkan Pimpinan Wiilayah bertanggungjawab mendinamisasi Pimpinan Anak Cabang di setiap Kecamatan. Apabila ada unit organisasi yang tidak aktif, harus dievaluasi dan diterapkan penghargaan dan hukuman (reward and punishment).
“Setiap bulan April, yaitu di Hari Lahir Ansor, harus diadakan evaluasi. Unit yang aktif diberi hadiah, berupa umroh untuk tiap pimpinan cabang yang berhasil. Sedangkan yang tidak aktif diberi sanksi. Terberat berupa pencabutan SK kepengurusan,” lanjut politisi asal Golkar ini.
Indikator keberhasilan kerja setiap PW, PC maupun PAC, lanjut Nusron, ada lima perkara. Yaitu aktif tidaknya Majelis Dzikir & Sholawat Rijalul Ansor, kegiatan dan konsolidasi organisasi, kaderisasi, amal usaha, dan pembinaan Banser.
“Lima ihwal itu untuk menyiapkan kader Ansor sesuai bidang masing-masing. Juga untuk kemandirian kita semua. Soal amal usaha, ukurannya adalah dimilikinya koperasi dan lembaga pendidikan ketrampilan (LPK) di tingkat kabupaten/kota,” terangnya didampingi ketua umum PW GP Ansor Jateng Jabir Al-Faruqi dan Kepala Satkorwil Banser Jateng Ali Mahfudz.
Kerahkan 40 ribu Banser di Solo
Dalam Rakor tersebut Nusron meminta setiap pimpinan cabang menyiapkan personil Banser untuk dikerahkan dalam acara Harlah GP Ansor ke-78 yang akan dipusatkan di Surakarta.
Direncanakan akan mengerahkan 40 ribu Banser Jateng dan DIY untuk upacara pembukaan di Stadion Manahan Solo. Sementara acara intinya, berupa majelis sholawat Habib Syekh, dan pengajian oleh ketua Jam’iyyah Ahlut Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, di Ponpes Al-Muayyad Solo. Even ini akan dilaksanakan pada April atau Juli.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan
Terpopuler
1
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
4
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
5
Mulai 1 Juli 2026, Kemenhaj Alihkan Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus ke Terminal 2F
6
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, Bukti Pelatihan Militer bagi Sipil Tidak Relevan
Terkini
Lihat Semua