Warta

Jelang Konfercab Aktifis Muda NU Tegal Adakan Gerakan Moral

NU Online  Ā·  Selasa, 28 Desember 2010 | 07:31 WIB

Tegal, NU Online
Dianggap rawan money politic dan khawatir MWC NU salah pilih dalam pemilihan tanfidziah PCNU kabupaten Tegal, di konferensi cabang, beberapa aktifis muda NU kabupaten Tegal membentuk Germo (Gerakan Moral) untuk mencegah terjadinya money politic.

ā€œGarakan kami independen, tidak berpihak kepada salah satu kandidat ketua PCNU kabupaten Tegal. Kami ingin konferensi cabang NU tidak dikotori oleh permainan-permainan yang membawa NU kepada jurang kenistaan, karena hanya sebagai kendaraan politik saja setelah itu ditinggalkan,ā€ kata Miroj Adhika SPdI, salah satu anggota Germo (Gerakan Moral), di sela-sela pelatihan jurnalistik IPNU anak cabang Talang, belum lama ini.<>

Menurut Miroj, gerakan moral yang ia bentuk bersama aktifis muda NU yang beranggotakan aktifis di masing-masing kecamatan se kabupaten Tegal, bertujuan untuk membendung praktek-praktek yang jauh dari akhlakul karimah dan melenceng dari nilai-nilai ajaran ahlussunah wal jamaah.

ā€œJadi perlu penegasan kembali bahwa untuk mencapai jabatan ketua NU dengan menyuap itu perbuatan yang tidak bermoral, tidak berakhlakul karimah dan melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah,ā€ tandasnya.

Dalam teknis kerjanya, lanjut Miroj, para aktifis yang tergabung dalam Germo, akan terjun langsung ke lapangan, dalam arti melakukan pendekatan persuasif kepada MWC-MWC se kabupaten Tegal karena merekalah yang punya hak suara, agar dalam memilih sesuai kriteria yang diajukan oleh aktifis gerakan moral.

ā€œKami juga akan mengundang secara khusus kepada MWC-MWC. Mereka dipertemukan dalam satu tempat, untuk selanjutnya diberi wejangan oleh kiai yang independen, di luar kabupaten Tegal, misalnya habib Lutfi bin Yahya,ā€ katanya.

Diantara kriteria yang diajukan oleh Germo, Miroj menjelaskan, ketua NU harus bersih dari kepentingan politik misalnya ia jangan dipilih karena terindikasi jabatan ketua NU akan dijadikan kendaraan untuk nyalon bupati atau wakil bupati, karena bisa merusak NU.

ā€œKarena kecenderungannya, kalau orang ingin jadi ketua NU dengan tujuan untuk pencalonan bupati/wakil atau mendukung pencalonan bupati/wakil tertentu, maka setelah jadi ia akan lupa kepada NU karena yang menjadikanya bukan NU tapi partai-partai pendukung dan apabila ia mendukung pencalonan bupati tertentu kemudian tidak jadi, maka yang terjadi ia tidak aktif lagi bahkan organisasi stagnan juga dibiarkan, contohnya seperti sekarang,ā€ jelasnya.Ā 

Calon ketua NU, lanjut Miroj, juga mereka yang sudah melalui perjuangan di NU, istilahnya berkeringat dulu di NU. Jangan hanya karena punya duit kemudian ingin nyalon jadi ketua NU tanpa menempuh jalur pengkaderan di NU. Kalau orang seperti ini nyalon maka patut dicurigai ia akan memanfaatkan NU untuk kepentingan kekuasaan tertentu,ā€ pungkasnya.(Fth)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang