Warta

Katib Aam PBNU: Al-Quran Kitab Tak Tertandingi

NU Online  ·  Senin, 20 Februari 2012 | 11:39 WIB

Jakarta, NU Online
Katib Aam PBNU KH Malik Madany menyampaikan Al-Quran adalah kitab yang tak tertandingi kitab suci apa pun; baik dari bahasanya, sastranya, isinya dan lain sebagainya. Dan yang paling mengagumkan, Al-Quran kitab satu-satunya yang mampu dihapal ratusan ribu pemeluknya, hingga keasliannya terjaga.

“Keasliannya terjaga dengan dua metode, yaitu metode penulisan dalam mushaf dan metode penghapalan dalam dada para huffaz. Oleh karena itu, prestasi yang diukir terkait Al-Quran ini, adalah prestasi yang sungguh-sungguh sangat membanggakan,” ujarnya.
<>
Hal ini disampaikan ketika memberi taushiyah saat menyambut delegasi Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz (JQH-NU) yang dikirm pada MTQ internasional yang berlangsung di Iran (3-15/2). Taushiyah itu disampaikan di gedung PBNU, jalan Kramat Raya 164, Jakarta (17/2) pukul 19. 00, dihadiri oleh Ketua Umum Jamiyyatul Qurra Wal-Huffaz (JQH-NU) KH Muhaimin Zen, peserta MTQ, anggota JQH, pengurus lajnah, lembaga, dan banom NU.

Selanjutnya, Katib Aam mengutip ucapan Ibnu Mas’ud r.a. yang mendeskripsikan zaman sahabat Nabi terkait sikap mereka terhadap Al-Quran. Pada masa itu, banyak yang paham Al-Qur’an, meski sedikit yang mampu membacanya dengan indah. Lebih dari itu, aturan-aturan yang digariskan Al-Quran dijaga dengan ketat, sementara huruf-hurufnya nyaris tersia-siakan.

“Pada masa sahabat, kita tahu Al-Quran ditulis di pelepah kurma, di kulit unta dan di berbagai alat atau media yang sangat terbatas sehingga seperti digambarkan oleh Ibnu Mas’ud, hurufnya nyaris tersia-siakan. Tapi aturan-aturan yang digariskan terjaga dengan baik,” terangnya.

Lalu Katib Aam melanjutkan, masa sahabat Nabi banyak orang merasa wajib zakat, tapi sedikit mustahiqnya. Orang-orang cenderung memperpanjang salatnya, sebaliknya, khutbahnya diperpendek. Dan, mereka mendahulukan amal perbuatan nyata, sebelum berwacana.

Dosen di UIN Sunan Kalijaga ini menambahkan, nanti akan datang suatu zaman, dimana qorinya banyak, tapi yang paham Al-Quran sedikit. Huruf-hurufnya dijaga dengan seni kaligrafi yang indah, tapi aturan-aturan yang digariskan disia-siakan. Banyak orang mengaku berhak disantuni, tapi sedikit orang yang membayar zakat.

“Pokoknya kebalikannya,” tegas Katib Aam, “Kemudian orang cenderung khutbah berlama-lama, ngalor ngidul, bahkan kadang-kadang sampai jam satu baru selesai khutbahnya. Sebaliknya waktu untuk salat Jumat tinggal sedikit; rakaat pertama membaca Al-Kautsar rakaat kedua Al-ikhlas.”

Lalu, zaman tersebut orang-orang mengedepankan hawa nafsunya, dalam bentuk wacana, sebelum menunjukkan bukti nyata dalam perbuatan.

“Saya berharap JQH yang bernaung di jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini menjadi motor penggerak bagi upaya untuk memasyarakatkan Al-Quran, bukan hanya dari segi tilawahnya, tahfiz, tapi jauh dari itu, penanaman nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari masyarkat kita, dimulai dari msayarakat nahdliyin, masyarakat muslimin hingga bangsa Indonesia,” pungkasnya.


Redaktur: Mukafi Niam
Penulis   : Abdullah Alawi

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang