Semarang, NU Online
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) milik NU diminta membangun jejaring kerja agar bisa melayani dengan standar yang sama dan baik. PCNU tiap daerah tidak perlu membuat KBIH sendiri, apalagi tiap MWC atau PR.
Cukup PCNU yang telah memiliki unit KBIH berijin dan punya reputasi baik dikembangkan di daerah-daerah lain dengan cara membuat kantor cabang. Hal itu menjadi efektif dan efisien karena cukup dengan satu ijin KBIH, sudah bisa memberi layanan kepada setiap warga NU yang ingin umroh atau haji.
<>
Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom mengatakan hal itu setelah melihat keberhasilan BMT NU Sejahtera milik Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Kota Semarang yang memiliki 14 cabang di Jawa Tengah. Yaitu di Kendal, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Magelang dan Kebumen. Dan akan membuka enam cabang lagi di Temanggung, Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, Wonogiri dan Kota Salatiga.
Dia menyatakan idenya itu saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) BMT NU Sejahtera di kantor pusatnya di Semarang pada Minggu (22/1), serta dia laporkan dalam Rapat Koordinasi PWNU Jateng di Hotel Semesta Semarang, Senin (23/1).
“KBIH NU perlu dijadikan jejaring. Tak perlu mendirikan sendiri-sendiri yang perlu ijin dan memulai dari awal. Terlebih sekarang ijin KBIH distop,” tuturnya.
Ia memaparkan, BMT NU Sejahtera milik PCNU Kota Semarang berhasil menjadi salah satu koperasi syariah terbaik di Jawa Tengah. Manajemennya dipuji Dinas Koperasi Jateng maupun lembaga perbankan. Sehingga Bank Syariah Mandiri Semarang telah menjadikannya sebagai mitra, termasuk fasilitas ATM untuk anggota BMT NU Sejahtera.
Karena jaringan sudah mapan, lanjut Anasom, sistem teknologi komputer BMT NU Online telah bisa melayani pengambilan dan penyetoran di kantor manapun secara online.
Jadi, cabang-cabang yang didirikan oleh PCNU anggota jaringannya, tidak perlu membuat sendiri yang pengurusannya tidak gampang serta butuh biaya banyak.
“Ada baiknya KBIH membuat jaringan seperti BMT NU Sejahtera. Secara merk juga enak, secara keuangan juga jadi ringan. Karena tidak perlu membuka sendiri dan memodali sendiri,” lanjutnya.
Anasom mengungkapkan, sudah banyak pengalaman pahit lembaga NU gagal mengelola amal usaha. Menurutnya, terlalu sering kabar unit ekonomi yang diusahakan organisasi NU di berbagai level, mengalami kegagalan karena tidak bisa mengelola secara profesional.
“Marilah kita belajar dari pengalaman. Banyak cerita pahit kegagalan unit ekonomi jamiyyah NU karena tidak bisa mengelola secara profesional. Maka yang sudah terbukti berhasil tinggal dikembangkan saja model cabang-cabang,” pungkasnya.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
4
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua