Warta RAPIMNAS LTM NU

Masjid, Pesantren Aset Berharga NU, Jangan sampai Dikuasai Orang Lain

NU Online  ·  Sabtu, 3 Maret 2012 | 03:21 WIB

Medan, NU Online
Masjid dan Pesantren adalah aset terbesar yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama (NU). Karenanya, jangan sampai aset berharga itu dikuasai oleh kelompok lain atau kelompok yang mengatasnamakan agama, tapi untuk kepentingan pribadi. Bagaimanapun caranya, apapun bentuknya asset harus dipelihara dan dikembangkan.

Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) regional I yakni Medan dan Aceh, di Aula Kemenag, Medan, Sumatra Utara, Jum’at, (2/3).
<>
Hadir dalam pembukaan Rapimnas sejumlah tokoh NU dan Pejabat Pemerintah Sumut, diantaranya, KH Masdar F. Masudi (Syuriyah PBNU), KH Manan Abdul Ghani (Ketua LTM NU), KH Arwani Faisal (Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU), dan KH Pagar Hasibuan (Rais Syuriyah PWNU Sumut), H Azhari Tambunan (Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut), H Zulfan Arif Nasution (Wakil Kakanwil Kemenag Sumut). Tampak hadir juga perwakilan lembaga dan Banom NU Sumut.    

Rapimnas I LTMNU Sumut diikuti 120 peserta, dari 30 PCNU (Kabupaten Kota) se Sumatra Utara. Dengan mengangkat tema “Konsolidasi kelembagaan, Renstra dan program kerja LTMNU 2012 dan revitalisasi masjid”.

Dikatakan Waketum, masjid, selain tempat beribadah, bisa digunakan untuk kegiatan modern artinya bisa untuk mengembangkan kegiatan sosial, ekonomi dan budaya. tapi bedanya kalau merubah Pesantren menjadi manajemen modern rada susah, membutuhkan kesabaran, karena faktor keulamaanya sangat dominan, berbeda dengan Masjid.

“Contohnya, kalau terlambat itukan bawaan dari pesantren, tapi kalau solat subuh, kan harus adzan tepat waktu, mana ada adzan subuh jam 6 pagi, itu bedanya,” terangnya. 

Karenanya, budaya masjid, merupakan cara yang efektif untuk merubah gaya dan kultur ‘terlambat’ yang selama ini menjadikan nahdliyin gampang tertinggal, kalah bersaing dengan ormas lain, untuk itulah tradisi santri, model terlambat harus dirubah. “Kita tidak bisa bersaing, kalau gaya kita terus seperti itu,” jelasnya.

Selain itu, kata As’ad, kini masjid menjadi incaran orang yang tidak bertanggungjawab, dijadikan sasaran teroris untuk melampiaskan dendam, dijadikan transaksi yang tidak semestinya. “Untuk itulah, ini pentingnya ada Rapimnas LTMNU, bagaimana mencari solusi, bagaimana memanaj masjid dan lain sebagainya,” pungkasnya.  

Sementara itu, Ketua LTM PBNU KH Manan Abdul Ghani mengatakan, Rapimnas LTMNU akan terus digelar di 17 daerah dari 33 provinsi yang dibagi dalam regional berisi 2 provinsi se Indonesia. Dan diawali dari Regional I Medan dan Aceh. “Jadi, Rapimnas akan melakukan penataan (manajemen), pemberdayaan dan pemakmuran masjid,” ujarnya.   

Dijelaskannya, salah satu alasan kuat mengapa Rapimnas penting dilakukan, karena masjid NU sudah tahap “bahaya” artinya banyak kelompok tertentu berusaha menguasai masjid NU hingga keberbagai pelosok daerah, karena masjid adalah sentral kegiatan kegamaan, sentral silaturrahmi, sentral komunikasi dan lain sebagainya. “Menguasai masjid sama dengan menguasai masyarakat,” pungkasnya.



Redaktur: Mukafi Niam

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang