Warta

Mewarisi Tradisi Menulis Al-Ghazali

NU Online  Ā·  Ahad, 26 Desember 2010 | 05:54 WIB

Tegal, NU Online
Hari ini, Ahad (26/12) IPNU-IPPNU anak cabang Talang kabupaten Tegal, mengadakan pendidikan dan pelatihan jurnalistik, di TPQ Raudlotul Ulum Pekiringan Tegal. Acara yang digagas dalam upaya mewarisi tradisi menulis Al-Ghazali ini di pandu oleh praktisi media termasuk dari NU Online.

Menurur Syamsul Arifin, ketua IPNU anak cabang Talang, acara pelatihan menulis akan dilaksanakan selama sehari penuh dengan tutor beberapa praktisi media termasuk dari NU Online. <>

ā€œKita merasa prihatin dengan kondisi kader muda NU terutama IPNU-IPPNU masih sangat kurang dalam hal menulis, padahal kita tahu menulis adalah tradisi para ulama terdahulu sehingga kita mengenal ajaran Islam. Andaikan dulu para ulama tidak menulis maka kita kesulitan belajar keislaman,ā€ katanya.

Umat Islam mengenal dan paham ilmu tasawuf karena Al-Ghazali menulis dan mengabadikannya tulisan tersebutĀ  dalam satu kitab yaitu kitab Ihya Ulumuddin. Tidak cuma itu bahkan Al-Ghazali menulis tentang filsafat dalam Maqasid Alfalasifah walaupun pada akhirnya Al-Ghazali mengkritik ilmu filsafat.

ā€œDalam ilmu Fiqih kita mengenal madzahibul arbaah karena mereka menulis. Misalnya Imam Syafii yang menulis kitab Al Umm, imam Malik kitab Muwatha dan sederetan ulama penulis yang muaranya dalam upaya menyebarkan ajaran Islam. Memang karya klasik tidak selamanya relevan dengan kondisi sekarang karena adanya pergeseran persoalan dan tantangan zaman, tapi setidaknya itu sebagai contoh bahwa dengan menulis mereka dikenal hingga sekarang bahkan karyanya masih menjadi rujukan terutama oleh Nahdliyin,ā€ tandasnya.

Dalam pandangan Syamsul, menulis adalah kegiatan ibadah kalau dalam menulis diniatkan untuk dakwah menyebarkan kebenaran, menanamkan nilai-nilai keislaman dan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban berdakwah adalah kewajiban individu setiap muslim. Sayangnya budaya menulis sebagai upaya dakwah dikalangan nahdliyin masih rendah.

ā€œLemahnya budaya menulis inilah menjadikan kita lebih suka berdakwah lewat mimbar secara lisan daripada tulisan. Para kiai dan mubaligh lebih suka membangkitkan emosi keagamaan dengan retorika daripada membangun nurani dan rasionalitas pemikiran yang mendalam lewat karya ilmiah. Umat Islam juga lebih suka mengadakan peringatan serimonial dengan biaya tinggi daripada mengeluarkan biaya untuk sebuah karya tulisan,ā€ jelasnya.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan jurnalistik kali ini menurut Syamsul, akan diikuti oleh utusan dari ranting IPNU, banom NU, lembaga dan unsur aktifis muda NU. Materi yang akan disampaikan diantarnya teknik menulis berita, teknik wawancara, bahasa danĀ  kode etik jurnalistik, teknik menulis artikel dan kolom serta menulis karya ilmiah.

ā€œUntuk pematari kita mengundang dari praktisi media, Radar Tegal (Jawa Pos Group), Koran Tegal, Suara Merdeka dan NU Online.ā€ pungkasnya. (fth)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang