Pendidikan Karakter Penting Agar Moral Bangsa Tidak Lenyap
NU Online · Jumat, 9 September 2011 | 13:23 WIB
Makassar, NU Online
Motivator ternama Indonesia, Ary Ginanjar Agustian, mengajak pemerintah dan seluruh civitas akademika untuk mengedepankan pendidikan karakter di tingkat perguruan tinggi jika tidak ingin moral bangsa ini lenyap dalam 20 tahun ke depan.<>
"Bukan lagi demonstrasi, tapi sudah di atas demonstrasi, arahnya sudah bisa dikatakan anarkis. 20-50 tahun ke depan kalau mereka jadi pejabat apa yang terjadi dengan bangsa kita," tandasnya di depan pimpinan perguruan tinggi, tokoh pendidikan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Sulsel dalam dialog publik bertajuk "Revitalisasi Karakter Masyarakat Sulsel Berbasis Kearifan Lokal" di Makassar, Jum'at (9/9).
Ia mengemukakan, unjuk rasa mahasiswa yang kerap berakhir anarkis khususnya di Sulsel, sudah mengarah pada pembentukan karakter, sehingga harus segera diakhiri. Menurutnya, moral bangsa ini hanya bisa bagus apabila pola pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan intelektual, tetapi harus dipadukan dengan kecerdasan emosional dan spiritual.
"Harus memandang serius, ini bukan hanya merusak moral, tapi juga politik dan ekonomi. Krisis moral luar biasa. Ekonomi tumbuh pesat, tapi moral hancur apakah ini yang diinginkan? Kita jadi homo homini lupus," ucapnya.
Ia mencontohkan kerusakan moral generasi dari peningkatan tajam pengguna narkoba yakni 3,5 juta di 2008, 4,5, juta di 2009, dan 6 juta di 2010, serta larisnya kondom menjelang pengumuman Ujian Akhir Nasional tingkat SMU.
Pola pendidikan di Indonesia dikemukakan Ary ibarat gunung di tengah lautan yang hanya memperhatikan di atas permukaan saja, sementara di bawah permukaan diabaikan, yang suatu saat gunung tersebut akan runtuh karena bagian bawah terkikis oleh ombak.
"Kalau intelektual terpisah dengan emosional dan spiritual maka akan lahir anarkis. Berbahaya kalau seseorang yang cerdas, yang paham Undang-Undang tapi moral rusak. Manusia yang lebih berbahaya dari bom atom. Setiap tahun berapa universitas yang memproduksi orang-orang seperti ini," ucapnya.
Meski sering demonstrasi anarkis, Ary tidak sependapat jika mahasiswa Sulsel terus-menerus disalahkan. Sebab di balik itu, lanjut dia, karakter masyarakat Sulsel setara dengan karakter orang Jepang.
"Konsep Jepang hanya dimiliki Sulsel, masalahnya tidak dikelola, bocor sana-sini," ucapnya. Konsep "Siri Napacce" yang menjadi karakter masyarakat Sulsel, jika dipadukan dalam kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, disebut Ary adalah energi besar yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan negara.
Redaktur : Syaifullah Amin
Sumber  : Antara
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Imbau Masyarakat Aceh Jaga Kondusivitas usai Kerusuhan dan Pengibaran Bendera GAM Sabtu
Terkini
Lihat Semua