Jakarta, NU Online
Menghadapi penetrasi ideologi salafi dan wahabi ke dalam masjid, masyarakat Nahdliyin dihimbau untuk lebih arif dalam bersikap. Langkah-langkah yang terlalu reaksioner dinilai akan berakibat kondisi rentan konflik dan solusi dakwah menjadi tidak produktif.
<>
Dari data yang dihimpun Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU), masih ditemukan sikap sejumlah pengelola masjid yang terlalu emosional dalam melakukan resistensi. Hal ini tampak misalnya dari jawaban peserta Rapat Pimpinan Nasional LTM NU di Medan, 2-3 Maret dalam lembar pertanyaan yang dibagikan panitia tentang solusi resistensi masjid.
“Jawaban mereka masih banyak yang reaksioner. Misalnya “dilarang masuk”, “usir saja”, dan macam-macam,” kata Sekretaris PP LTMNU K Ibnu Hazen kepada NU Online, (15/3).
Menurut Ibnu, jawaban atas solusi ini harusnya tidak harus demikian. Sebab, masih banyak alternatif sikap yang lebih bijak dan produktif. Pendekatan personal dan dialog secara baik-baik akan dapat lebih mengena tanpa menimbulkan gesekan sosial yang berarti.
“Seharusnya sikapnya jangan seperti itu. Masih banyak pendekatan lain yang lebih baik dari sekadar mengusir atau reaksi emosional lainnya,” tandasnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Mahbib Khoiron
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
6
Ketum GP Ansor: Keteladanan KH Abbas Buntet Layak Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional
Terkini
Lihat Semua