Gubernur Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan pendekatan ekonomi yang dilakukan untuk membangun Indonesia cenderung memudarkan kedekatan suatu bangsa sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan dalam kesejahteraan.
"Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia sebenarnya dapat menjadi kekuatan melalui perubahan strategi kebudayaan," kata Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjadi pembicara dalam sebuah dialog nasional tentang Kebangkitan Nasional di Pontianak, Sabtu (14/6).<>
Ia mengatakan, dalam sejarah Indonesia, setiap pemimpin bangsa mempunyai cara tersendiri dalam membangun negara ini. Presiden Soekarno misalnya mengedepankan "character building" sedangkan di masa Orde Baru pendekatan ekonomi menjadi "panglima".
Contoh Malaysia, Jepang, dan negara maju lainnya
Namun, lanjutnya, yang muncul adalah sesama bangsa maupun pemimpin tidak lagi pernah membicarakan soal moral dan etika tetapi lebih ke ekonomi dalam membangun Indonesia.
Ia menambahkan, Malaysia dengan sub kultur-sub kultur yang dimiliki masyarakatnya mampu mengedepankan semangat dalam mengabdikan keakuan untuk membangun bangsa. Sementara di Indonesia yang terjadi sebaliknya, semangat keakuan tersebut lebih mendominasi di bidang penguasaan terbatas sehingga yang muncul adalah kekerasan.
Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, negara maju tetap mengedepankan budaya dalam membangun diri. Ia mencontohkan semangat masyarakat Jepang yang mampu mempertahankan kemajuan dan kemandirian bangsa melalui tradisi.
"Indonesia punya Bhinneka Tunggal Ika, dari keberagaman menjadi satu. Untuk sebaliknya, dari satu menjadi keberagaman, seharusnya juga bisa karena membicarakan Indonesia yang multi kultur dan mengakui adanya perbedaan menjadi kekuatan," katanya seperti dilansir sumber Antara.
Ia tidak sepakat adanya dominasi baik dalam bentuk budaya, etnik maupun sektor lain di Indonesia. Ia menyatakan, tanpa dominasi dengan segala keberagaman yang ada di Indonesia, masyarakat yang termasuk golongan minoritas seharusnya merasa aman dan tenang berada di tengah-tengah mayoritas.
"Perubahan strategi ini pendekatannya kebudayaan, bukan politik karena hanya akan menghitung untung rugi," kata salah satu figur yang disebut-sebut akan maju dalam Pemilihan Presiden 2009 itu.
Rasa saling menghargai perbedaan merupakan perilaku budaya milik kearifan lokal yang dipahami seluruh etnik di Indonesia. Bentuk strategi dari aplikasi kebudayaan yang dapat dilakukan untuk membangun dapat berupa peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.
Ia berharap, dengan perubahan pendekatan untuk membangun bangsa itu maka akan melahirkan Indonesia yang lebih mempunyai karakter. (dar)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua