Tahun Baru, Khotib Nabawi NU Banget (1)
NU Online · Jumat, 10 Desember 2010 | 11:23 WIB
Tidak seperti biasanya yang selalu mengumbar pembahasan mengenai bid'ah dalam hal ibadah dengan kosa kata yang monoton dan terlalu mudah ditebak, kali ini Khotib Jum'at di Masjid Nabawi Madinah al-Munawwaroh, Jum'at (10/12) menghadirkan hal yang berbeda. Khotib menyampaikan Khutbah dengan pembahasan yang aktual mengenai refleksi tahun baru Hijriyah dengan diksi (pilihan kata) yang sangat puitis.
Hebatnya, beberapa rukun khutbah yang diselesaikan di bagian depan khutbah pertama seperti hamdalah, sholawat kepada Nabi SAW, washiyat untuk bertaqwa dan membaca ayat al-Qur'an pun tidak menyinggung-nyinggung tentang pembahasaan bid'ah yang terdengar berulang seperti kaset. Jum'at kali ini benar-benar lain, rukun-rukun tadi disampaikan dalam bahasa yang tidak bisa ditebak seperti biasa.
gt;
Khutbah diawali dengan membincang peredaran waktu yang menempatkan seluruh manusia sebagai hamba-hamba yang sedang berada dalam perjalanan. "Mereka yang selalu menanamkan kebajikan dalam setiap pengalaman perjalanannya di dunia, maka kelak dianugerahkan hasil panen yang diridhoi Allah di tujuan akhirat," tutur sang khotib.
Dengan kata-kata yang puitis seperti para khotib di pesantren-pesantren Indonesia, khotib menjelaskan bahwa, hari-berganti hari menuju kehancuran dunia. Namun para pejalan yang beriman dan beramal sholeh akan menemukan kebahagiaan.
"Kita juga sudah sering kali melihat banyak sekali orang-orang mati, yang sesungguhnya masih hidup. Kam min mayyitin kaana hayya. Mereka menjadi tanda-tanda keagungan Allah yang mempertebal keimanan kita," tandas sang khotib.
Tidak seperti biasanya yang hanya mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits saja, khotib kali ini juga mengutip penyataan para salafussholih seperti para ulama Nahdliyin di Indonesia. Bahkan jelas-jelas khotib memilih kata, "wa qoola bha'dhussalaf/berkata sebagian ulama salaf."
Salah seorang pejabat teras Misi Haji Indonesia, Abdul Mutholib menyatakan, isi materi khutbah jum'at ini sangat bagus dan tidak bertele-tela. "Hampir seperti di Indonesia yang disesuaikan dengan isi kitab al-Barzanji, memanjangkan sholat dan memendekkan khutbah Jum'at," tuturnya berseloroh. (min/Liputan langsung Syaifullah Amin dari arab Saudi)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua