Tantangan Global Jadikan “Jihad NU” Bergelora
NU Online Ā· Rabu, 30 Maret 2011 | 02:17 WIB
Di tengah hiruk-pikuk persaingan globalisasi, sudah sepatutnya berbagai teladan dari para pendiri NU dalam mengemban amanat jamāiyyah dan jamaāah NU selalu dijadikan pedoman. Mereka tidak pernah mengeluh untuk selalu memperbaharui model dakwah yang membumi sehingga konsumsi spiritualitas jamaāah tetap terhasrati dengan suguhannya.
Demikian dalam acara Halaqah Aswaja yang diselenggarakan di Pesantren Al-Falah desa Cileles kecamatan Jatinangor, Ahad (27/3) kemarin. Halaqah ini dihadiri sekitar 100 peserta dari perwakilan seluruh pengurus ranting NU se-kecamatan Jatinangor.<>
āTantangan berupa cemoohan dan pelecehan yang dihadapi oleh para ulama tidak menjadikan jihad jamāiyyah yang menggelora dalam jiwa mereka tidak pernah mengerut bahkan semakin merasa tertantang untuk selalu memodifikasi variasi tabligh approach, hatta piranti-piranti budaya bagian kearifan local menjadi bagian variasi tabligh yang tak dapat dipisahkanā kata Sekretaris PCNU Sumedang Aceng Muhyi dalam sambutannya.
Pimpinan Pesantren Al-Falah ini, menambahkan bahwa saat ini pun NU menghadapi hal yang sama terutama wilayah Jatinangor dimana penetrasi ideologi Wahabi begitu gencar menggurita menggoyang imunitas sosio-spiritualitas warga NU (Nahdliyin).
āKarena itu sebagai warga Jatinangor sekaligus pengurus MWCNU kami mengharapkan kepada para kiai semua untuk selalu memproteksi setiap gerakan mereka dengan pendekatan yang lebih elegan karena mereka kebanyakan kaum migrant akademik yang notabene civitas akademika," katanya.
Halaqah yang dihadiri para pengurus ranting NU kecamatan Jatinangor menghasilkan beberapa beberapa kesimpulan dan sikap penting. Berkaitan dengan fenomena Ahmadiyyah dan Wahabiyyah di Jatinangor, diharapkan seluruh pengurus baik ranting maupun MWCNU untuk selalu mempertajam muatan dakwah agar jamaāah NU tidak berpaling.
Kepada pemerintah setempat, para peserta halaqah berharap pemerintah mampu menjawab penyimpangan agama ini dengan cepat dan tepat apalagi Jatinangor merupakan daerah pendidikan dan gerbang sumedang.
Pemerintah juga diharapkan mampu mengejawantahkan kebijakan publik yang proporsional dan berkeadilan terutama untuk Jatinangor. āSelama ini masyarakat lokal hanya mendapatkan getah kemajuan semu karena tidak ada kuota khusus untuk penduduk lokal yang berprestasi dan miskin berkuliah gratis di perguruan tinggi di Jatinangor,ā demikian dalam halaqah Aswaja itu. (nam)
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Hukum Mengambil Air Masjid untuk Kebutuhan Warga Saat Kekeringan, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
Membaca Ulang Fiqih Pajak: Agenda yang Tersisa dari Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua