Warta

Wilayah Mataraman Target Pertama Roadshow Aswaja Center Jatim

NU Online  ·  Senin, 23 Januari 2012 | 04:36 WIB

Ngawi, NU Online
Di awal 2012, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur mengawali road show-nya ke daerah-daerah di Jatim. Karesidenan Matraman terpilih sebagai daerah pertama yang mendapatkan pelatihan kader Aswaja tersebut. Daerah lain akan segera menyusul.

Training of Trainer (ToT) adalah salah satu program Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur untuk merekrut dan mengkader para trainer Aswaja. Acara ToT perdana ini berlangsung di Talok, Karangjati, Ngawi, tepatnya di Pesantren al-Amnaniyah yang diasuh KH Watsiq Amnani.
<>
Selama dua hari, Rabu-Kamis (17 – 18/1), sekitar 80 peserta mengikuti ToT tersebut. Mereka berasal dari berbagai MWC NU di Kabupaten Ngawi, Nganjuk, dan Madiun.

Sama seperti ToT yang diselenggarakan sebelumnya di PWNU di akhir tahun 2011, program yang diselenggarakan Bidang Dakwah (Daurah Kader Ahlussunnah wal Jama’ah) ini mengambil tema Meneguhkan Tradisi Islam Aswaja, Membendung Arus Penyimpangan Paham.

Secara resmi, acara Daurah Aswaja NU ini dibuka oleh Bupati Ngawi H Budi Sulistyono dan Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis. Pembukaan diselenggarakan pada Kamis pagi hingga waktu Shalat Zhuhur.

Dalam sambutannya KH Abdurrahman Navis menjelaskan, kaum nahdhiyyin yang mencerminkan mayoritas umat Islam di Indonesia ini merasa terganggu dengan adanya cap bid’ah, khurafat, syirik pada amaliah yang telah menjadi kebiasaan mereka selama ini. Sebagaimana maklum, pihak yang gencar menggembar-gemborkan kampanye anti “takhayyul, bid’ah, dan khurafat” itu adalah orang-orang Wahabi, yang juga menyebut dirinya kaum Salafi.

Oleh karena itu, menurut Pengasuh PP Nurul Huda Sencaki Surabaya itu, pembiasaan warga NU terhadap keyakinan dan amaliah mereka selama ini, sekarang harus ditingkatkan menjadi pemahaman dan pembelaan.

“Jadi intinya, kalau dulu yang dilakukan warga nahdhiyyin hanya sebatas pembiasaan, misalnya tiap malam Jum’at baca Surat Yasin dan Tahlil, tiap pekan baca maulid, istighatsah, maka sekarang hal itu tidak cukup, karena ritual tersebut kini diserang oleh orang-orang Wahabi. Tidak sedikit warga NU yang bingung. Maka Aswaja NU Center berusaha meningkatkan pembiasaan warganya menjadi pemahaman, bahkan pembelaan,” terang KH Navis.

Selanjutnya, segera setelah Shalat Zhuhur, digelar sesi pertama daurah kader Aswaja tersebut. Pada sesi ini, peserta mendapatkan materi tentang Fikrah Nahdhiyyah dan Mafhum (pengertian) Aswaja, disampaikan oleh KH Abdurrahman Navis. Materi ini meliputi kajian tentang hadits firqah (perpecahan yang terjadi di tengah umat Islam) dan makna Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri.

Selanjutnya, KH Navis menerangkan tentang rumusan konsep Ahlussunnah wal Jama’ah yang disebutkan KH Hasyim Asy’ari, dalam kitab al-Qanun al-Asasiy li Jami’yyah Nahdlah al-‘Ulama (Anggaran Dasar Organisasi Nahdhatul Ulama). Kajian ini meneguhkan, bahwa dakwah Islam ala Walisongo yang telah berhasil mengislamkan Nusantara, telah dan akan diteruskan misinya oleh Nahdhatul Ulama, organisasi terbesar di negeri ini.

Setelah Shalat Ashar, dilanjutkan sesi kedua, dengan tema Kelompok-Kelompok di Indonesia yang Mengklaim sebagai Penganut Aswaja. Kajian ini disampaikan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam.

Di awal pemaparannya, alumnus Universitas al-Ahgaff Hadhramaut Yaman yang menjadi Koordinator Bidang Dakwah Aswaja NU Center PWNU Jatim ini menjelaskan tentang kelompok-kelompok di luar Aswaja, antara lain Syi’ah dan Khawarij, untuk memetakan posisi Aswaja yang moderat.

Secara empiris dan akademik, menurutnya, Salafi-Wahabi bisa saja dimasukkan dalam kategori penganut Aswaja. Teori yang dikemukakan al-Subki sebagaimana dikutip al-Safaraini dan al-Zabidi juga menegaskan hal tersebut. Dalam kitab tersebut ditegaskan, bahwa pada kenyataannya, Ahlussunnah wal Jama’ah terbagi menjadi tiga kelompok pemikiran, yaitu Atsariyah (literalis), Nazhariyah ‘Aqliyah (Rasionalis), dan Shufiyyah (Tasawwuf).

Paham Atsariyah yang memahami al-Qur’an dan Sunnah secara harfiah, diikuti oleh kaum Salafi atau Wahabi. Sedangkan paham Nazhariyah ‘Aqliyah menjadi dasar pemikiran Asy’ari – Maturidi yang kemudian dianut oleh Nahdhatul Ulama. Lalu, paham Shufiyah yang tidak memiliki perbedaan mendasar dengan Nazhariyah ‘Aqliyah, juga diikuti oleh Nahdhatul Ulama. Organisasi terbesar di Indonesia ini memiliki lembaga bernama Jam’iyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdhiyyah.

Namun, karena paham literalismenya, Salafi-Wahabi tidak mau menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat. Dengan kata lain, mereka menerjemahkan ayat-ayat tersebut sesuai harfiahnya. Hal ini telah membuat mereka terjebak dalam paham tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Allah memiliki anggota tubuh seperti manusia).

“Yadullah, mereka artikan dengan tangan Allah, padahal menurut Asy’ari – Maturidi, kata itu ditakwilkan dengan kekuasaan Allah. Wajhullah mereka artikan wajah Allah, padahal menurut Asy’ari – Maturidi, kata itu ditakwilkan dengan wujud dan Dzat Allah. Jadi cara berpikir Atsariyah (literalis) telah menyebabkan mereka menjadi penganut paham mujassimah dan musyabbihah,” jelas dia.

Hal inilah yang menjadi tantangan bagi Asy’ari – Maturidi, yang diikuti oleh NU. “Kaum Wahabi dalam banyak kitabnya tidak mengakui Asy’ari – Maturidi sebagai bagian dari Aswaja, karena dianggap menyimpang. Namun kita pun bisa mengeluarkan mereka dari barisan Aswaja, karena penyimpangan-penyimpangan mereka,” ujar Ustadz Faris yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kota Malang itu.

Setelah istirahat, shalat, dan makan, sesi ketiga dilanjutkan sekitar pukul 20.30. Sesi ini mengangkat tema tentang Tradisi-Tradisi Islam dan Dalil-Dalilnya, disampaikan oleh Ustadz M Idrus Ramli.

Ketua Lembaga Bahtsul Masail NU Jember, yang terkenal jago debat melawan kaum Wahabi itu menjelaskan tentang dalil-dalil amaliah yang biasa dilakukan oleh warga Nahdhatul Ulama, misalnya tahlil, maulid, istighatsah, dzikir berjama’ah, tingkepan, dan lain sebagainya. Intinya, tidak seperti yang dituduhkan kaum Wahabi, jelas Ustadz alumnus PP Sidogiri ini, amaliah nahdhiyyin itu ada dasar pijakannya, baik dari al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW.

Pada hari kedua, Kamis, pukul 08.00 – 10.00, digelar sesi keempat. Sesi ini kembali diisi oleh Ustadz Idrus yang juga masuk dalam kepengurusan Aswaja NU Center Jatim. Kali ini, tema yang diangkat adalah Cara Pintar Berdebat dengan Wahabi.     

Ustadz Idrus yang banyak menulis buku-buku Ahlussunnah wal Jamaah itu memberikan tips dan trik untuk berdebat dengan Salafi-Wahabi. Menurut pengalamannya di berbagai tempat, setelah mendapatkan materi khusus ini, para kader Aswaja dapat mendebat Wahabi dengan baik. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mengikuti kajian yang dilakukan kalangan Wahabi, kemudian mendebatnya dengan dalil-dalil yang kuat. “Kalau diajak berdebat dalam suatu acara khusus, mereka biasanya menolak,” tutur Ustadz Idrus yang dikaruniai dua putra dan satu putri ini.

Pada pukul 10.00 hingga Zhuhur, kajian dilanjutkan dengan mengkaji tema Nahdhatul Ulama Menjawab Berbagai Tuduhan. Sesi kelima ini diisi oleh Ketua PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar.

Dengan suasana serius tapi santai, KH Marzuki mendedah buku yang ditulisnya dalam bahasa Arab, al-Muqtathafat li Ahli al-Bidayat. Buku setebal 79 halaman tersebut membahas tentang fadhilah-fadhilah surat dan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an, dan hokum menghadiahkan bacaan al-Qur’an kepada orang yang meninggal dunia. Kesemuanya dijelaskan dengan menyertakan dalil-dalil shahih.

Buku tersebut juga mengungkap pembahasan seputar shalawat, dzikir, macam-macam doa ma’tsur, tawassul, tabarruk, ziarah kubur, telonan, yasinan, dan sebagainya. Pemaparan KH Marzuki yang disampaikan secara gamblang dan doktrinal – karena disertai dengan dalil naqli dan ‘aqli, membuat perserta daurah makin meyakini bahwa amaliah dan tradisi islami yang dilakukan warga nahdhiyyin selama ini, semua berlandaskan dalil, bukan merupakan takhayyul, bid’ah, khurafat, atau bahkan syirik.

Pada acara penutupan, KH Navis selaku Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim mengharapkan, setelah acara ini selesai, para kader tidak hanya diam. Namun diharapkan, mereka terus mengkaji dan menggali kembali, untuk kemudian diajarkan kepada calon kader lain di tingkat struktur NU di bawahnya.

“Bolehlah kita meniru sistem Multi Level Marketing (MLM). Gunakan sistem sel. Berikan ilmu yang antum pelajari dan antum kaji itu, kepada 5 calon kader lain, dan tiap satu kader, punya lima kader lagi,” jelasnya.

Berikutnya, Aswaja NU Center PWNU Jatim akan melanjutkan road show-nya di daerah lain, sesuai jadwal yang diprogramkan Bidang Dakwah. Selain itu, Aswaja NU Center PWNU Jatim juga memiliki program daurah yang bersifat tentatif. Misalnya adalah kegiatan daurah yang diselenggarakan baru-baru ini selama dua hari (11-12/1), di sela-sela Mukmamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdhiyyah di PP. al-Munawwariyah Sudimoro, Bululawang, Malang.



Redaktur: Mukafi Niam

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang