Muktamar tinggal sebentar. Masyarakat bersiap. Panitia lokal bersedia. Kota itu akan penuh lautan manusia.
“Ini momen emas, Pak. Enggak tiap tahun ada Muktamar kan?" Sahid berusaha merayu bapaknya.
“Tenan kamu bakal untung kali ini?” bapaknya menjawab dengan tanya, beserta nada menagih janji.
“Yakin, deh. Ya, minimal balik modal. Insyaallah.”
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Ya sudah. Bapak transfer uangnya nanti siang. Tapi tenan lho, ya. Kali ini harus untung. Bapak emoh boncos terus tiap modalin kamu.”
Sahid girang bukan kepalang. Laki-laki 23 tahun itu sangat yakin dengan momentum yang bakal dia hadapi. Kota kelahirannya jadi tuan rumah Muktamar. Manusia dari seantero Indonesia akan datang. Ini kesempatan berharga untuk menggelar lapak. Di antara manusia se-Indonesia tersebut, Sahid yakin bakal ada yang tertarik dengan kaos-kaos yang nantinya dia jual.
Bagi Sahid, kaos adalah pilihan jualan paling fair. Dia sudah pernah jualan macam-macam. Dari punya toko sendiri sampai mendatangi event sudah pernah dia lakukan. Rokok elektrik, kopi, juga sepatu, adalah barang-barang yang pernah dia usahakan. Semuanya bapaknya yang memodali. Nahasnya, semuanya gulung tikar.
Akan tetapi, kali ini Sahid percaya dengan prediksinya sendiri. Untuk acara sekelas Muktamar, kaos adalah merchandise paling tepat untuk dijual. Modalnya tidak tinggi, karena Sahid bisa minta bapaknya. Produksinya gampang, tinggal beli kaos polos. Desainnya tinggal dicetak dalam format stiker lalu disetrika di bagian depan kaos. Harga jualnya juga tidak terlalu tinggi di mata konsumen, misal dibanding sarung atau busana Muslim lain.
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Pertimbangan-pertimbangan tadi yang membuat Sahid begitu bersemangat dalam memanfaatkan momentum Muktamar. Pagi hari saat acara dimulai, Sahid sudah duduk manis dalam stan yang dia dirikan di depan kantor kecamatan. Khusus untuk jualan saat Muktamar, biar nyambung dengan target pasarnya, Sahid mengenakan kostum sarung batik dan peci hitam, meski saban hari seringnya pakai topi dan celana pendek. Strategi Sahid boleh dibilang tepat sasaran. Masyarakat pengunjung jadi banyak yang mampir ke stan. Beberapa hanya sekadar melihat-lihat. Tetapi, sebagian besar memutuskan membeli.
Menjelang petang, suasana makin bertambah ramai. Sahid sedikit dibuat kelimpungan dengan pembeli yang makin banyak. Baru menginjak habis maghrib, pengunjung mulai berangsur berkurang. Sahid bisa sedikit berleha. Sembari menghembuskan asap rokok elektriknya, dia sejenak melamun.
Sahid senang berdagang di acara seperti Muktamar ini. Pasarnya luas. Konsumennya macam-macam. Dari remaja santri sampai rombongan ibu-ibu pengajian. Ada yang dari luar kota, terdengar dari logat dan dialeknya. Ada yang mampir karena beneran niat beli. Ada pula yang mampir sambil bawa kamera buat ngonten.Sahid tidak masalah. Malah, kesannya seperti diiklankan gratis. Yang penting dagangannya banyak yang laku. Dan, Sahid tidak malu saat mengembalikan modal ke bapaknya nanti.
***
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Guys, yuk kita mampir ke booth-nya Mas ini, nih. KAUSANTRI nama booth-nya, Guys.”
Sahid sedikit dibuat kaget. Sudah malam, masih ada saja content creator yang datang. Tapi Sahid tetap berprinsip, selagi dia masih buka siapa pun boleh mampir.
“Mari… Mari… Silakan mampir, Mas,” ucap Sahid menebar senyum.
“Oke, Mas. Kenalin, aku Erick. Izin sambil nge-live ya, Mas,” Si kreator konten mengawali bicara dengan ramah tamah.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
“Siap, Mas Erick.”
"Dengan siapa ini, Mas? Owner-nya KAUSANTRI, ya?”
“Hehe, Iya. Nama saya Sahid. Alhamdulillah, Mas. Usaha kecil-kecilan.”
“Mas Sahid, kalau boleh tahu, ini KAUSANTRI jualan apa saja, Mas?”
“Kita ada merchandise Muktamar, nih. Ada kaos, gantungan kunci, topi juga ada. Jaket tadi juga ada. Kalau tadi masih banyak, Mas. Sekarang sudah hampir sold out.”
“Wah, hampir habis, Mas? Baru hari pertama lho ini.”
“Alhamdulillah, Mas. Berkahnya Muktamar. Hehehe…”
Obrolan terus mengalir. Sahid dengan semangat bercerita tentang kaos-kaos yang dia desain sendiri. Sementara Erick, meskipun senyum masih tersungging di garis mulutnya, tampak sedikit kelelahan.
Tentu saja, Sahid adalah orang kesekian yang diajak ngobrol Erick sedari pagi. Seharian ini Erick sudah berkeliling di berbagai penjuru Jombang. Pagi hari diawali dengan berkunjung ke warung soto yang punya potensi jadi tempat “sarapan viral”. Lanjut siangnya dia jalan-jalan ke makam muassis. Niatnya mau memberi informasi kepada pengunjung Muktamar bila hendak singgah berziarah. Sore sedikit, Erick lanjut mencari warung kopi tempat nongkrong anak muda. Baru malam harinya, Erick berkeliling ke stan-stan di samping jalan. Setelah ngobrol dengan penjual seblak, telur gulung, dan mainan anak, Erick akhirnya singgah di tempat Sahid.
“Terima kasih, Mas Sahid, sudah mau kita tanya-tanya, nih.”
“Aman, Mas Erick.”
“Nih, buat teman-teman yang datang ke Muktamar, jangan lupa mampir ke stannya KAUSANTRI. Tempatnya di depan kecamatan persis.”
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
Erick menghadap kamera smartphone sembari mempersuasi pengikutnya. Setelah salaman dengan Sahid, Erick mengakhiri live di akun medsosnya. Dengan sedikit gontai dia berjalan menuju masjid terdekat. Kondisi fisik tak bisa berbohong. Seharian Erick sudah berkeliling Jombang. Sekujur tubuhnya terasa pegal. Terutama mulutnya, karena seharian dia harus berbicara dengan nada dipaksa sumringah.
Sesampainya di serambi masjid, Erick segera terbujur. Dengan memeluk tas pinggang, Erick berusaha menidurkan diri. Barang setengah jam berlalu, Erick sudah terbangun lagi. Dia memang sudah niat tidak mau ketiduran terlalu lama di tempat umum. Setelah sepenuhnya sadar, Erick membuka kembali akun medsosnya. Dia cek kembali, berapa orang yang melihat live-nya hari ini dan berapa sumbangan yang diberikan oleh pengikut-pengikutnya. Alhamdulillah, setelah Erick hitung-hitung, pendapatannya dari sumbangan cukup untuk menutup rasa lelah hari ini.
Erick kemudian mengecek jam. Pukul 20.06. Dia rasa waktunya masih cukup ideal kalau mau live sekali lagi. Mulutnya pun sudah agak tidak pegal. Erick kemudian memutar otak, kira-kira siapa lagi yang bisa dia tanya-tanya. Penjual makanan sudah. Peziarah sudah. Penjual baju sudah. Siapa lagi kira-kira yang unik dan antimainstream?
Di tengah perenungannya, mata Erick menangkap sebuah minibus yang masuk ke parkiran masjid. Oh, iya, kenapa tidak wawancara sopir minibus saja? Sopir tersebut jelas bukan orang Jombang. Erick langsung kepikiran topik yang bisa dia tanyakan ke sopir tersebut–bagaimana jalanan Jombang? Lancar atau tidak?
***
Erick mendekat saat para penumpang minibus turun. Minibus itu diisi rombongan laki-laki. Gagah-gagah, semuanya memakai sarung dan peci dengan rapi. Entah mereka santri dari mana. Saat turun, mereka langsung pergi menyebar ke mana-mana.
“Assalamualaikum, permisi, Om,” Erick mencoba menyapa sopir minibus. Yang ditanya agak kaget.
“Eh, waalaikumsalam. Ada apa, ya?” jawab sang sopir.
Baca Juga
Nuansa Lokal Cerpen-cerpen Guntur Alam
“Kenalin, Om. Saya Erick, konten kreator dari Jombang nih, Om. Mau nanya-nanya dikit boleh?”
“Mau bertanya buat apa, ya?”
“Buat konten, Om. Boleh, ya?”
“Hmm… Silakan, tapi sebentar saja, ya.”
“Saya lagi ngomong sama Om siapa nih, Om?
“Nama saya Karta Sukendra.”
“Om Karta ini kan sopir travel ya, Om. Gimana tadi kondisi perjalanan pas mau ke sini, Om?”
“Ya, lancar saja, sih.”
“Om Karta ini dari kota mana, Om?”
“Dari Mage – Eh, Semarang.”
“Wuih, jauh-jauh dari Jawa Tengah, ya, Om. Dari pondok atau dari mana, Om?”
“Rombongan pengajian saja.”
“Ini rencananya Muktamar mau nganter ke mana saja, Om?”
“Belum tahu, terserah rombongannya nanti.”
Dalam waktu singkat Erick langsung menyadari obrolannya menjadi membosankan. Yang dia hadapi jawabannya irit. Tidak ada semangat-semangatnya sama sekali. Tanpa berlama-lama, Erick segera memutuskan untuk mengakhiri percakapan.
“Om Karta, makasih ya sudah mau ditanya-tanya. Saya pamit, Om,” ujar Erick mengakhiri perbincangan.
“Baik, Dik. Sama-sama,” jawab Karta.
Dan Erick pun berlalu, pergi meninggalkan Karta. Yang ditinggalkan melihat Erick berjalan meninggalkan parkiran masjid. Karta kemudian mengangkat telepon yang dibawanya. Dia menuliskan pesan singkat, ditujukan untuk kontak yang namanya hanya dia tulis “K”.
“Maaf, tadi ada gangguan. Ada orang mendekat ke saya,” begitu Karta mengetik. Tak lebih dari setengah menit, balasan dari “K” masuk.
“Monitor. Segera keluar dan berbaur dengan siapa pun di situ.”
Karta segera memasukkan teleponnya ke saku celana. Dia kemudian beranjak menuju ke serambi masjid. Dia lihat, di sana tidak banyak ada orang. Hanya ada tiga orang istirahat dan seorang kakek yang sedang menuju tempat wudlu. Karta mengecek jam tangannya. Masih masuk akal kalau salat Isya’. Dia kemudian berjalan ke tempat wudlu.
Karta keluar berbarengan dengan kakek tadi. Saat hendak mulai salat, kakek tadi tersenyum sambil menjulurkan tangan kepada Karta, tanda mempersilakan Karta untuk menjadi imam. Karta balas menjulurkan tangan, memberi kode bahwa kakek saja yang menjadi imam. Kakek tadi pun akhirnya maju satu langkah di depan Karta.
Dengan suara lirih, dia membaca niat. Kedua tangannya kemudian terangkat, kali ini suaranya berubah lantang.
“Allahu Akbar…”
***
Salam terucap. Lanjut berwirid. Setelah itu, Sang Imam berbalik badan untuk menyalami makmum satu-satunya. Ternyata yang hendak disalami sudah pergi.
Usai melaksanakan salat sunnah, kakek tersebut duduk santai di serambi masjid. Dia membuka tas punggung tuanya dan mengeluarkan bungkusan nasi sisa siang tadi. Dia cium sebentar, apakah masih segar. Setelah memastikan masakannya masih aman, kakek itu lanjut menyantapnya.
Kakek tua tersebut bernama Ngatori. Aslinya dari Demak. Dia secara khusus datang ke Jombang untuk menghadiri muktamar. Ngatori sudah rutin datang ke muktamar sejak masih muda dan menjadi santri. Dia hanya alpa saat muktamar diselenggarakan di luar Jawa. Lebih karena faktor ekonomi sebenarnya. Beberapa bulan sebelum muktamar, Ngatori biasanya mengumpulkan bisyaroh dari khotbah ataupun tahlilan. Dana tadi dia alokasikan untuk biaya transportasi menuju kota tempat muktamar diselenggarakan.
“Assalamualaikum, Mbah,” tiba-tiba seorang pemuda dengan merunduk menghampirinya.
“Waalaikumsalam. Ya, Mas. Dos pundi?” jawab Ngatori.
“Saya dengan Husein, takmir masjid ini. Dengan Mbah siapa, ya?” ujar pemuda tersebut memperkenalkan diri.
“Oh, saya Ngatori. Saya dari Demak,” jawab Ngatori.
“Mbah Ngatori sendirian atau ada rombongan?” tanya Husein.
“Saya sendirian, Mas.”
“Mbah Ngatori, bila menghendaki, bisa beristirahat di kamar tamu ya, Mbah. Ruangannya di samping tempat wudlu,” Husein mengarahkan sembari menunjuk dengan jempol kanan.
“Wah, iya, Mas. Maaf merepotkan.”
“Tidak, kok, Mbah. Kamarnya memang sudah disediakan buat Muktamirin yang datang.”
“Iya, Mas. Terima kasih banyak, ya, Mas.”
Alhamdulillah. Ngatori mengucap syukur dengan lirih. Sebelum berangkat dari Demak, memang sudah dia niatkan untuk istirahat di masjid dekat-dekat tempat Muktamar. Istrinya sempat khawatir membayangkan Ngatori tidur malam di teras masjid. Apalagi Ngatori sudah tidak muda lagi. Ngatori sampai dibekali jaket tebal dan bantal tiup agar tidurnya masih terasa nyaman. Tak dia duga, warga lokal membuka pintu masjid seluas-luasnya. Ngatori bisa tidur di dalam kamar tamu dan terlindung dari angin malam.
Ngatori kemudian masuk ke kamar tamu. Di dalamnya sudah ada beberapa muktamirin lain. Setelah beramah tamah dan berkenalan sejenak, Ngatori merebah di pojok dan bersiap untuk beristirahat.
Ruangan masih belum sepenuhnya tenang. Beberapa orang masih mengobrolkan muktamar, terutama seputar pilihan pimpinan. Ngatori berusaha memejamkan mata sembari sedikit-sedikit mendengarkan obrolan mereka.
Pikir Ngatori, seru sekali obrolan mereka. Tapi Ngatori sudah lumayan lelah. Lebih baik dia istirahat. Besok dia masih harus sowan ke makam para muassis. Ngatori tidak pernah punya suara. Setiap datang Muktamar, agenda utamanya adalah sowan, terutama kepada para waliyullah yang tanahnya menjadi tuan rumah.
Itu hajat utama Ngatori. Seusainya, baru agenda lain menyusul belakangan. Bisa menonton pertunjukan, atau sekadar jalan-jalan. Satu lagi yang tidak boleh terlewatkan, membeli oleh-oleh. Cinderamata Muktamar tidak boleh terlewat. Dari dulu Ngatori selalu membeli. Istrinya selalu senang menerima oleh-oleh dari muktamar. Kali ini, Ngatori juga ingin memberi oleh-oleh buat cucu-cucunya. Dan sejak berangkat, Ngatori sudah kepikiran mau beli apa. Oleh-oleh kaos sepertinya menarik, bukan?
Muhammad Daniel Fahmi Rizal, alumnus Pesantren Ciganjur. Kini mengajar sastra di bawah lembah Gunung Tidar Magelang. Menulis cerita pendek di kala senggang.