Cerpen

Kembali

Ahad, 1 November 2026 | 17:00 WIB

Kembali

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Malam itu pandangannya tersita bulan purnama yang kelihatannya sedang mengendap-endap—memamerkan pancaran keindahan—dari balik awan. Dan, seketika benaknya mengajaknya dolan ke masa silam. Masa ketika kepolosan, sebagai seorang bocah, menciptakan momen-momen amat membahagiakan; masa ketika hikayat para nabi kerap singgah dalam imajinya yang diceritakan oleh guru ngaji di mushala kampungnya. Selepas itu, biasanya ia dan teman-teman sepermainannya jonjangan di pelataran rumah mereka. Dan, apabila malam terang bulan, mereka pun bersama-sama menembangkan keindahannya sebagai sebentuk pujian kepada Pencipta alam raya.

 

Entah mengapa, seiring bertambahnya usia, ia jarang merasakan kesenangan yang lepas (landas?) seperti itu. Terutama saat ia mulai menapaki usia dewasa. Sebuah fase hidup yang, sebetulnya, boleh dibilang merupakan masa keemasan baginya. Karena setelah melewati jenjang demi jenjang pendidikan di sekolah juga pergaulannya dengan bermacam orang dari berbagai kalangan, patutnya, menjadikannya menyelami kehidupan dengan penuh makna.

 

Namun, yang ia dapati malah semacam perasaan hampa.

 

Pada suatu perenungan, pernah pikirannya meraba-raba apa penyebabnya. Apa karena pengaruh dari buku-buku yang ia baca, film-film yang ia tonton juga obrolan dengan teman-temannya yang—mengikuti perkembangan zaman—lebih cenderung mengedepankan pemikiran Barat yang mana kemajuan, kebebasan, kecepatan, kemandirian (individualitas), keakalan (rasionalitas) dan lain sebagainya hampir selalu mewarnai hal-hal tersebut?

 

Mungkin.

 

Memang, pikirnya, dengan pola pikir seperti itu orang-orang Barat telah menghasilkan kemajuan demi kemajuan di berbagai bidang. Sehingga, bagi anak muda seperti dirinya, hal ini barang tentu menarik perhatiannya. Apalagi, gerakan-gerakan seperti itu hampir selalu didukung media yang kerap memberitakannya.

 

Ia sendiri, waktu itu, begitu senang (atau bahkan tergila-gila) mempelajari pemikiran-pemikiran seperti itu dan, baik secara tidak atau sadar, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mau tak mau mempengaruhi cara hidupnya. Kendatipun nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya sejak kecil—sebagai bocah ndesa, lahir dari keluarga dengan pola pikir sederhana di lingkungan masyarakat yang cenderung mengutamakan nilai-nilai agama, tradisi dan lain sebagainya—sesekali seperti mengingatkannya bahwa apa yang tengah ia pelajari bisa jadi tidak baik buatnya, namun, entah mengapa, ia selalu mengabaikannya.

 

Puncaknya ia begitu mengagung-agungkan budaya Barat sembari menganggap remeh budaya sendiri.

 

Namun, justru dari sinilah, perlahan-lahan kehampaan hidup menghampirinya.

 

Mula-mula ia merasa asing, dirinya seakan-akan hidup bukan di habitatnya. Ini menjadikannya suka menyendiri, jarang bergaul dengan kebanyakan orang yang, menurutnya, ketinggalan zaman.

 

Kendati awalnya ia menikmatinya, namun lama-lama kesepian mulai menggerogotinya.

 

Jika hanya kesepian, barangkali ia mampu menghadapinya.

 

Namun, lama-lama ia merasa seperti kehilangan dirinya—mengawang—tidak di sini atau disana: nilai-nilai yang kerap berlawanan dalam dirinya menjadikan hidupnya seperti tak punya sandaran. Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan seorang teman semasa kecil yang hidupnya tampak begitu tenang. Bahkan, seingatnya temannya itu hidupnya hampir-hampir selalu langsam, tak pernah mengalami masalah yang cukup berarti. Kemudian, karena mereka lama tak berjumpa, temannya itu mengajaknya dolan ke rumahnya.

 

Di awal obrolan ia mendengar keseharian temannya itu hanya untuk mengurus sepetak sawah warisan dari orang tua dan mulang ngaji anak-anak di mushala dekatnya rumahnya. Kemudian, bermula dari maksud sekadar berbagi hingga berharap temannya itu bisa memberi solusi, ia pun menceritakan apa yang dipikir-rasakannya.

 

Temannya itu menanggapinya dengan bercerita—dan ini sungguh di luar perkiraannya—bahwa temannya itu malah pernah mengalami masa-masa yang lebih parah ketimbang dengan apa yang sedang dialaminya. Temannya itu sempat mengalami semacam keraguan akan keberadaan Tuhan. Bisa jadi itu bermula saat temannya itu suka berpikir secara mendalam dan mulai meninggalkan perintah-perintah agama. Awalnya memang tak begitu dirasakan, namun lama-lama menjelma kekosongan—ketiadaan arti hidup. Hanya saja, temannya itu menghadapinya dalam keheningan, dalam arti jarang sekali menceritakannya pada orang lain. Hingga suatu saat, seorang anak tetangga memintanya mengajari membaca Al-Qur’an. Mula-mula ia tidak mau, namun karena bocah tersebut terus memintanya, ia pun mengajarinya sembari mengingat-ingat ngajinya sewaktu kecil dulu.

 

Yang tak terduga adalah, seiring mengajari bocah tersebut, selain ia kembali teringat makhraj dan tajwid bacaan al-Qur’an, perlahan-lahan keyakinan akan keberadaan Tuhan kembali bersemi di dalam hatinya. Kemudian, karena semakin banyak anak-anak yang ikut mengaji, ia pun mengajari mereka di mushola—memakmurkan mushola.

 

Demikianlah,

 

Langit malam kian terang benderang.

 

Awan mendung yang tadi berkejaran di sekitar bulan purnama pada menyingkir entah kemana, sepertinya memberi kesempatan bagi pandangannya untuk menikmati kemilau purnama.

 

Langit cerah secerah-cerahnya.

 

Awan-awan yang digiring angin (Siapa yang menggiring angin?) bisa jadi berkumpul dengan awan-awan yang lain menjadi hujan di suatu tempat, menyirami bumi, menumbuh-suburkan rerumputan yang kemudian dimakan oleh binatang yang kemudian dimakan oleh manusia.

 

Kebaikan hujan: hujan kebaikan.

 

Membayangkan itu, sembari terus menatap bulan, perlahan hujan air mata mengalir lewat kedua pipinya.

 

Ya, demikian benaknya, perlahan-lahan ia mulai mengerti; ia pun berusaha tak lagi menyesali segala peristiwa yang, menurutnya, mengantarkannya ke puncak kehampaan hidupnya. Karena di atas puncak kehampaan, tak ada lagi apa-apa selain kembali, kembali kepada muasal segala sesuatu, kembali kepada Tuhan. Tuhan Yang Maha Penyayang yang menciptakan kebahagiaan-kebahagiaannya sewaktu kecil dengan cara yang tampaknya sederhana seperti menyenandungkan keindahan bulan atau bermain hujan-hujanan.

 

Ya, demikian ia menyimpulkan, mungkin ada baiknya ia bersyukur mengalami semua itu. Karena pada akhirnya, semua itu mengarahkanya kembali, kembali menapaki jalan menuju Gusti Allah Ta’ala yang segala sesuatu kembali kepada-Nya. 

 

Doplangkarta, 23:55, 15 Oktober 2020

 

Baitul Muttaqin Al Majid, menulis cerpen dan humor, di antaranya dimuat di beberapa media online dan termaktub dalam buku antologi bersama. Cerpen-cerpennya banyak menjadi juara di ajang lomba seperti  Tumbuh Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Hari Santri GMNI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, November 2020. Jeruk Surga Juara 2 Lomba Cerita Inspiratif Festival Sastra Aksara (FSA) VII Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya, Oktober 2020. Parabel Sebatang Bambu Juara 1 Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Tingkat Nasional UPI Bandung, Agustus 2021. Pernah nyantri di beberapa Pesantren, di antaranya PP. Al Ihya ‘Ulumaddin Kesugihan Cilacap dan PP. Al Kahfi Somalangu Kebumen, Pernah bergiat di Tjlatjapan Poetry Forum Cilacap. Karya terbarunya berupa kumpulan cerpen yang tersedia dalam versi digital dan dapat dibeli secara daring.