Daerah

Banjir Bogor Rendam 326 Rumah Warga Akibat Luapan Kali Sindangbarang dan Hujan Deras

Rabu, 6 Mei 2026 | 13:00 WIB

Banjir Bogor Rendam 326 Rumah Warga Akibat Luapan Kali Sindangbarang dan Hujan Deras

Penanganan longsor akibat banjir di Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/5/2026). (Foto: tangkapan layar Instagram Kecamatan Dramaga)

Jakarta, NU Online
 
Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat sejak Senin (4/5/2026) sore hingga merendam ratusan rumah warga di tujuh desa yang tersebar di lima kecamatan. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan hujan deras dan diduga dipicu oleh terganggunya daerah aliran sungai akibat pekerjaan normalisasi Kali Sindangbarang, yang menyebabkan air meluap ke permukiman.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menjabarkan lima kecamatan terdampak meliputi Kecamatan Ciomas, Sukaraja, Dramaga, Ciampea, dan Babakan Madang. Ketinggian muka air tercatat bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter, cukup untuk mengganggu aktivitas warga dan merusak fasilitas permukiman.


“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mendata dampak akibat peristiwa ini antara lain 346 kepala keluarga (KK) atau 1.128 jiwa terdampak, 326 unit rumah terdampak, satu bangunan majelis dan satu unit jembatan terdampak,” katanya pada Selasa (5/5/2026).


Dampak hujan deras tidak hanya dirasakan di permukiman warga, tetapi juga mengganggu operasional transportasi publik. Salah satunya adalah perjalanan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line di jalur antara Stasiun Kebayoran dan Pondok Ranji yang sempat tidak dapat dilalui akibat kondisi lintasan yang terdampak cuaca ekstrem.


Situasi memburuk pada Selasa (5/5/2026) ketika hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut dan memicu bencana tanah longsor di Kampung Cibeureum, Kecamatan Dramaga. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warga tertimbun material longsor.


“Telah terjadi musibah tanah longsor di Kp. Cibeureum RT01/RW09, Desa Petir, Kecamatan Dramaga pada Selasa (05/05) sekitar pukul 13.30 WIB. Kejadian bermula saat warga sedang melaksanakan kerja bakti membersihkan aliran sungai dari pohon bambu yang tumbang,” ujar laporan warga yang diunggah di Instagram Kecamatan Dramaga, diakses NU Online, Rabu (6/5/2026).


Akibat intensitas hujan yang sangat tinggi, tebing di sekitar lokasi mengalami longsor secara mendadak dan menimbun salah satu warga yang sedang bertugas. Korban diketahui merupakan anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Desa Petir berinisial (B), berusia sekitar 60 tahun, yang saat itu sedang membantu kegiatan kerja bakti.


Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti persoalan tata ruang sebagai faktor krusial di balik berulangnya bencana di wilayah Bogor.


Ia mengatakan bahwa kerusakan tata ruang tidak hanya memicu banjir dan longsor di daerah setempat, tetapi juga berdampak luas hingga ke wilayah hilir.


Dedi mengungkapkan bahwa lahan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan air dan penahan longsor kini banyak dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman. Perubahan tersebut, menurutnya, terjadi dalam skala besar sejak kebijakan tata ruang sebelumnya.


Ia menambahkan, dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Bogor, tetapi juga merambat ke daerah lain.


“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” ujarnya pada Selasa (5/5/2026).