Dari Surga Perbukitan ke Lahan Kosong: Cerita Desa Tandihat Tapsel yang Hilang Ditelan Longsor
Selasa, 30 Desember 2025 | 13:15 WIB
Salah satu titik di Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Tapanuli Selatan Sumut yang hancur karena tanah longsor. Foto diambil Rabu (24/12/2025). (Foto: dok NU Peduli)
Tapanuli Selatan, NU Online
Hamparan perbukitan yang saling menyambung menciptakan kenyamanan bagi setiap mata yang memandang. Barisan tanaman sawit tersusun rapi, bukit-bukit hijau menjulang lembut, dilapisi kabut tipis yang menggantung seperti tirai halus. Cahaya matahari yang redup selepas tengah hari, Rabu (24/12/2025), merambat di sela awan, menambah kesan hangat pada lanskap alam.
Pemandangan perbukitan di wilayah PTPN IV, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kerap menjadi tujuan warga untuk menikmati panorama alam, terutama pada pagi dan sore hari.
“Iya, Mas. Dulu banyak yang datang ke sini untuk foto-foto dan melihat pemandangan,” kata Sekretaris Desa Tandihat, Aslan Dalimunthe, yang mengantar kami dengan sepeda motor.
Tujuan kami adalah Desa Tandihat, salah satu desa yang terdampak bencana alam berupa tanah longsor dan tanah bergerak pada November 2025 lalu. Sekitar setengah perjalanan telah kami tempuh dari Pos Pengungsian PTPN IV menuju desa tersebut, berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah lembah.
Di pos pengungsian itu, Tim NU Peduli membuka layanan kesehatan, menyediakan obat-obatan, menyalurkan bantuan sembako, hygiene kit, serta perlengkapan dapur umum bagi para penyintas.
Belum sampai setengah perjalanan, mobil yang dikendarai Sekretaris LAZISNU Padangsidimpuan, Ali Akbar Siregar, gagal menanjak. Hujan yang turun sekitar setengah jam sebelumnya, meski hanya berlangsung sekitar sepuluh menit, membuat jalan tanah menjadi licin dan berlumpur.
Kami pun memutuskan turun dari mobil. Aslan yang sejak awal membawa sepeda motor menawarkan agar kami melanjutkan perjalanan secara bertahap dengan kendaraannya.
Namun, medan yang dilalui tetap tidak mudah. Di banyak titik, jalan masih berupa lumpur tebal. Saya yang dibonceng pertama pun beberapa kali memilih turun. “Masih jauh, Bang?” tanya saya.
“Itu di batas pohon sawit yang paling ujung. Di balik hutan itu desa kami,” jawab Aslan.
Sekitar setengah jam kemudian, kami tiba di Desa Tandihat. Aslan lalu menunjukkan permukiman warga yang kini telah ditinggalkan sepenuhnya.
“Kalau kami sendiri, tidak bisa memastikan secara teknis ini disebut bencana apa. Yang jelas, ini fenomena yang aneh. Tanah bergerak, amblas, rumah-rumah ambruk, semuanya miring,” ujar Aslan.
Ia menjelaskan, tanda-tanda awal bencana mulai terasa pada sore hari, 25 November 2025. Saat itu sudah terjadi pergerakan tanah, meski belum terlalu parah. Kondisi memburuk pada malam hari, sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WIB, ketika tanah mulai roboh dan ambruk secara nyata.
“Yang pertama ambruk itu bagian muka jalan. Jalannya amblas. Di bawah jalan memang tidak ada rumah, tapi ada sumber mata air yang mengalir ke masjid, MCK, dan surau perempuan. Itu kejadian pertama, pada malam tanggal 26,” tuturnya.
Menurut Aslan, sehari sebelumnya memang sempat terjadi longsor kecil di bagian atas kampung. Meski pada malam kejadian hujan tidak turun, wilayah tersebut sebelumnya diguyur hujan hampir setiap hari selama tujuh hingga sepuluh hari berturut-turut.
Setelah jalan amblas, aliran listrik di seluruh kampung terputus. Hari-hari berikutnya, pergerakan tanah terus terjadi secara perlahan. Tanah amblas di bagian tengah kampung, disusul pergerakan di bagian atas dengan lebar mencapai lebih dari sepuluh meter.
Pada 26 November 2025, warga masih bertahan di desa, namun sudah mulai siaga. Keesokan harinya, aparat kecamatan dan kabupaten turun ke lokasi setelah menerima laporan.
“Kami dapat pemberitahuan dari Pak Camat untuk siaga. Tanggal 27 masih sempat masak dan belanja ke pasar untuk persediaan. Tapi setelah tanggal 28, semua warga diwajibkan mengungsi ke bawah,” jelas Aslan.
Permukiman Desa Tandihat akhirnya ditinggalkan sepenuhnya. Pada 29 November 2025, masih ada dua warga yang tertinggal karena sakit, hingga akhirnya dievakuasi oleh tim Basarnas.
Sebelum bencana, Desa Tandihat dihuni sekitar 157 kepala keluarga (KK). Jika digabung dengan warga dari dusun lain, total warga terdampak mencapai sekitar 186 KK.