Di Balik Lumpur Banjir Aceh Tamiang, Hartati Menemukan Jalan ke Baitullah untuk Berhaji
Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:00 WIB
Hartati Musirun Mukmin (56), jamaah haji asal Aceh Tamiang, bersama Syaikh Abdul Latif Baltu, usai menerima dana wakaf di Sektor 6 wilayah Jarwal, Makkah, Selasa (12/5/2026). (Foto: MCH 2026/Abdul Aziz)
Aceh Tamiang, NU Online
Suara Hartati Musirun Mukmin bergetar saat mengingat malam paling kelam dalam hidupnya. Hujan deras yang mengguyur Aceh Tamiang berubah menjadi banjir bandang yang datang tanpa ampun. Air bercampur lumpur menerjang rumah peninggalan orang tuanya hingga nyaris tak menyisakan apa pun.
Dalam hitungan menit, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh berubah menjadi timbunan lumpur dan kayu. Dokumen penting, pakaian, perabot rumah tangga, hingga berkas haji miliknya hanyut diterjang banjir.
“Air itu naik sangat cepat. Kami tidak sempat lagi menyelamatkan barang-barang,” tutur Hartati Musirun Mukmin lirih kepada Tim Media Center Haji 2026 di Makkah.
Di tengah kehilangan besar itu, perempuan 56 tahun asal Aceh Tamiang tersebut justru sedang bersiap memenuhi panggilan suci menuju Baitullah.
Perjalanan Hartati menuju Tanah Haram bukan kisah yang lahir dari kemudahan hidup. Ia mendaftar haji bersama suaminya, Muhammad Sofyan, bertahun-tahun silam. Namun sebelum sempat berangkat, sang suami wafat pada 2014.
Sejak itu, Hartati menjalani hidup sebagai ibu tunggal. Dalam keterbatasan ekonomi, ia membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran sambil menyimpan harapan agar suatu hari bisa melihat Ka’bah dengan mata sendiri.
Harapan itu nyaris terasa mustahil ketika banjir datang merenggut hampir seluruh yang dimilikinya. Namun di tengah musibah, jalan Allah justru terbuka melalui ketiga anaknya yang bergotong royong membantu melunasi biaya haji sang ibu.
“Saya sendiri sebenarnya tidak punya uang lagi. Rumah saja belum bisa diperbaiki,” katanya sambil menahan tangis.
Petugas Haji Aceh, Khairul Huda, mengatakan kisah Hartati menjadi gambaran nyata tentang kekuatan doa dan kesabaran seorang hamba dalam menghadapi ujian hidup.
“Tidak semua orang yang kehilangan harta masih mampu menjaga harapan dan keyakinannya seperti Ibu Hartati. Ini pelajaran besar bagi kita semua bahwa Allah selalu punya cara memuliakan hamba-Nya,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan Hartati menuju Tanah Suci juga memperlihatkan kuatnya dukungan keluarga dalam membantu orang tua meraih cita-cita ibadah.
“Anak-anak beliau menunjukkan bakti yang luar biasa. Mereka bergotong royong membantu ibunya agar tetap bisa berangkat haji di tengah kondisi rumah yang rusak akibat banjir,” kata Khairul Huda.
Ia berharap kisah Hartati dapat menjadi motivasi bagi masyarakat agar tidak mudah menyerah menghadapi ujian hidup.
“Kadang manusia merasa semua jalan tertutup, tetapi Allah membuka jalan lain yang tidak pernah diduga. Karena itu tetaplah sabar, terus berdoa, dan terus berjuang dalam kebaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Mustofa Abdussalamsyah, menilai kisah Hartati menjadi pelajaran besar tentang kesabaran dan keyakinan kepada Allah di tengah ujian hidup.
“Kisah Ibu Hartati ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa manusia tidak boleh berhenti berharap kepada Allah meskipun sedang berada dalam kesulitan yang sangat berat,” ujarnya.
Menurutnya, musibah tidak seharusnya membuat seseorang menyerah, melainkan menjadi penguat untuk terus berjuang dalam kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
“Beliau kehilangan rumah dan harta benda, tetapi tidak kehilangan keyakinan. Justru di tengah ujian itu Allah memuliakannya menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” kata Tgk Mustofa.
Ia juga menilai pengorbanan anak-anak Hartati yang membantu ibunya berhaji merupakan contoh nyata bakti kepada orang tua yang patut diteladani masyarakat.
“Anak-anak yang membantu orang tua menunaikan ibadah haji memiliki kemuliaan tersendiri. Ini contoh bagaimana keluarga harus saling menguatkan dalam kebaikan,” ujarnya.
Tgk Mustofa mengajak masyarakat menjadikan kisah Hartati sebagai motivasi agar tetap sabar menghadapi ujian hidup dan terus berjuang melakukan hal-hal baik meskipun berada dalam keterbatasan.
“Kadang manusia merasa hidupnya sudah sangat berat, tetapi Allah tetap menyiapkan jalan kemuliaan bagi hamba-Nya yang sabar. Karena itu jangan berhenti berbuat baik dan jangan berhenti berharap kepada Allah,” katanya.
Kini Hartati berada di Kota Suci Makkah bersama ribuan jamaah Aceh lainnya. Di tengah hiruk-pikuk Tanah Haram, ia masih menyimpan bayangan rumahnya yang tertimbun lumpur di kampung halaman.
Namun perempuan sederhana itu memilih menggantungkan harapannya kepada Allah. “Saya yakin pulang dari sini Allah akan beri rezeki,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Di Aceh Tamiang, banjir mungkin telah meruntuhkan dinding rumah Hartati. Namun lumpur dan kehilangan tidak mampu menghancurkan keyakinannya. Dari reruntuhan musibah, perempuan itu justru menemukan jalan menuju Baitullah.