Yogyakarta, NU Online
Sejarah bangsa Indonesia tidak sepenuhnya utuh. Dalam ilmu sejarah kerap kali fase sejarah Walisongo diabaikan. Paparan sejarah selalu dimulai dari Hindu.<>
“Walisongo, spiritualitas, selalu tidak dibicarakan. Selalu meloncat dari Hindu ke Indonesia,” papar Agus Sunyoto, Jumat (21/11) malam, di Aula Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, dalam diskusi Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa.
Menurut Agus, peran Walisongo sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Diantaranya perkembangan wayang. Selain kebudayaan, Islam, sebagai agama dominan di Indonesia, juga tak terlepas dari peran Walisongo.
Agus menjelaskan, wayang sebelum masuknya Islam tidak mengenal cerita Ramayana dan Mahabarata. Penyebar Islam memasukkan cerita tersebut untuk menggantikan perihal pemanggilan arwah. Sebelumnya penyebaran Islam, masyarakat beragama Kapitayan menggunakan wayang untuk memanggil arwah.
“Orang Belanda menyebut agama Kapitayan itu dengan sebutan Animisme Dinamisme,” kata Agus menambahkan.
Di dalam Islam Indonesia juga banyak menggunakan istilah-istilah Kapitayan. Di antaranya “sembahyang”, “bedug”, dan “bidadari”. “Logika berfikir betul-betul konteks, tidak terperangkap oleh bahasa,” kata Agus.
Saat ini materi pelajaran sejarah di dalam dunia pendidikan jarang memasukkan fase sejarah perkembangan Islam oleh Walisongo. Bahkan kepercayaan asli Nusantara kerap kali disebut sebagai anismisme dinamisme, istilah yang digunakan Belanda. (red: mukafi niam)