Hadapi Ramadhan dan Pemulihan Belum Tuntas, Warga Sumbar Cemas Bencana Susulan
Rabu, 4 Februari 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi: kondisi rumah warga terdampak bendana di Padang, Sumatra Barat. (Foto: NU Online/Armaidi Tanjung)
Padang, NU Online
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatera Barat masih menghadapi kondisi pemulihan yang belum sepenuhnya tuntas. Perbedaan suasana Ramadhan tahun ini sangat dirasakan, terutama oleh warga yang hingga kini masih tinggal di hunian sementara (huntara).
Rina, penyintas bencana asal Desa Bayang Utara, mengatakan dirinya bersama keluarga masih menempati huntara. Menurutnya, sebagian huntara telah dihuni, sementara satu lokasi lainnya masih dalam tahap pengerjaan dan ditargetkan rampung sebelum Ramadhan.
“Huntara ini direncanakan bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga terdampak,” ujar Rina kepada NU Online, Senin lalu.
Ia menyebutkan, kebutuhan dasar warga di pengungsian relatif tercukupi. Persediaan sembako dinilai cukup untuk tiga bulan ke depan, ditambah bantuan uang bulanan dari pemerintah serta dukungan donasi yang masih tersedia.
“Kebutuhan makan dan perlengkapan harian seperti alat mandi dan alat salat sudah disediakan. Warga tinggal menempati dan beristirahat di huntara,” katanya.
Meski demikian, rasa cemas masih membayangi para penyintas. Curah hujan yang masih tinggi disertai angin kencang menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bencana susulan, terutama longsor.
“Yang paling kami khawatirkan kalau bencana datang lagi. Hujan masih sering turun, jadi kami masih cemas,” imbuhnya.
Rina berharap bantuan ke depan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga berupa dukungan jangka panjang, seperti tabungan atau program pemulihan ekonomi untuk menopang kehidupan pascabencana.
Sementara itu, Yani, warga Kecamatan Koto XI Tarusan, menyampaikan kondisi di wilayahnya mulai berangsur membaik. Meski terdampak bencana, ia menilai kerusakan di daerahnya tidak separah yang terjadi di Bayang Utara.
“Aktivitas masyarakat sudah mulai berjalan, tetapi siklus ekonomi memang masih menurun drastis,” ujarnya.
Yani juga mengungkapkan bahwa harga bahan pangan yang sempat melonjak pascabanjir kini mulai kembali normal. Beberapa komoditas mengalami penurunan, di antaranya bawang merah di kisaran Rp50 ribu per kilogram, cabai merah Rp52 ribu per kilogram, dan bawang putih sekitar Rp43 ribu per kilogram.