Daerah

Hampir Tiba Ramadhan, Ada Warga Aceh Tamiang Tidur di Kuburan, Bantuan Belum Juga Datang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 22:30 WIB

Hampir Tiba Ramadhan, Ada Warga Aceh Tamiang Tidur di Kuburan, Bantuan Belum Juga Datang

Foto: Penampakan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang. (YouTube Sekretariat Presiden)

Aceh Tamiang, NU Online

Derita warga terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh belum berakhir. Dua bulan lebih pascabencana, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian. Bahkan, kabar memilukan menyebut ada yang terpaksa tidur di area kuburan karena tak lagi memiliki rumah untuk ditempati.

 

Kondisi ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Tgk Sultan. Ia mengaku sangat prihatin mendengar langsung kisah warga yang belum mendapatkan bantuan memadai, padahal bulan suci Ramadhan tinggal menghitung hari.


"Ini bukan sekadar soal tempat tinggal yang rusak. Ini soal martabat manusia. Ada warga kita yang tidur di kuburan karena tidak tahu harus ke mana lagi. Sementara Ramadhan sudah di depan mata,” ujar Tgk Sultan dengan nada lirih, Jumat (13/2/2026).

 

Ia menyebut, sebagian korban belum menerima bantuan uang tunai untuk pemulihan ekonomi maupun perbaikan rumah. Bantuan sembako yang sempat diterima pun disebut hanya sekali dan berasal dari relawan, bukan dari skema bantuan pemerintah yang diharapkan.


Menurut Tgk Sultan, kondisi psikologis masyarakat kini semakin tertekan. Selain kehilangan harta benda, mereka juga dihantui ketidakpastian. Sebagian kepala keluarga terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup, membersihkan rumah orang lain atau mengais sisa-sisa barang yang masih bisa dijual.

 

“Ramadhan seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan dan persiapan ibadah. Tapi bagaimana mereka bisa khusyuk jika tempat berteduh saja tidak ada? Ini yang mengetuk hati kita semua,” katanya.

 

Ia juga menyoroti keluhan warga yang merasa janji bantuan belum terealisasi. Sejumlah program yang disebut-sebut akan membantu pelaku usaha kecil terdampak banjir, menurutnya belum menyentuh banyak korban di lapangan.


“Banyak yang mengaku tidak pernah menerima bantuan UMKM. Padahal mereka ingin bangkit. Mereka tidak meminta-minta, hanya ingin difasilitasi agar bisa berdiri kembali,” ujarnya.


Tgk Sultan berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan pascabencana. Ia meminta pendataan ulang korban secara transparan agar bantuan tepat sasaran.


“Jangan sampai ada warga yang tercecer dari data. Kalau memang ada kekurangan administrasi, dampingi mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri,” tegasnya..


Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pengurus masjid, dayah, dan komunitas sosial, untuk meningkatkan solidaritas menjelang Ramadhan. Menurutnya, tradisi gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh harus kembali dihidupkan.


“Kita tidak boleh menunggu semua selesai dari atas. NU bersama elemen masyarakat siap bergerak. Tapi tentu peran pemerintah tetap sangat dibutuhkan, terutama untuk rehabilitasi rumah dan bantuan ekonomi jangka panjang,” katanya.


Menurut Tgk Sultan, tidur di kuburan bukan sekadar gambaran ekstrem, tetapi simbol betapa beratnya beban yang kini ditanggung sebagian warga. Ia khawatir, jika tidak segera ditangani serius, kekecewaan masyarakat akan semakin meluas.

 

“Harapan kami sederhana. Jangan biarkan Ramadhan datang dalam suasana duka yang berkepanjangan. Pastikan sebelum puasa tiba, ada langkah nyata yang dirasakan langsung oleh korban,” ujarnya.

 

Di tengah segala keterbatasan, ia tetap mengajak warga untuk menjaga kesabaran dan persaudaraan. Namun, ia menegaskan bahwa kesabaran masyarakat tidak boleh diuji tanpa batas.

 

“Kesabaran bukan berarti diam menerima keadaan. Kesabaran harus dibarengi ikhtiar dan keadilan. Kami berharap pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya dalam rapat dan wacana, tetapi di tengah lumpur dan tenda pengungsian,” pungkasnya.