Daerah BANJIR SUMATRA

Viral di Media Sosial, Surat Cinta Anak Pengungsi Aceh Tamiang untuk Abu Mudi Menggetarkan Hati

NU Online  ·  Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:00 WIB

Viral di Media Sosial, Surat Cinta Anak Pengungsi Aceh Tamiang untuk Abu Mudi Menggetarkan Hati

Surat pengungsi Aceh Tamiang yang menyentuh hati. (Foto: istimewa)

Aceh Tamiang, NU Online
Sebuah unggahan di media sosial milik seorang warganet mendadak menyita perhatian publik. Dalam unggahannya, warga tersebut membagikan foto surat tulisan tangan seorang anak pengungsi banjir di Aceh Tamiang yang ditujukan kepada Abu Mudi, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.


Unggahan itu bukan sekadar berbagi kabar. Ia menuliskan narasi singkat yang menyentuh, menceritakan bagaimana anak-anak di pengungsian tetap menyimpan rasa syukur di tengah keterbatasan.

 

“Di tengah tenda pengungsian dan lumpur yang belum kering, anak-anak ini masih sempat menulis surat cinta untuk Abu Mudi. Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya berterima kasih,” tulis akun tersebut dalam keterangan unggahannya, Jumat, (13/2/2026). 


Surat itu ditulis oleh Tumina, siswi kelas 7 MTs dari Kampung Sekumur. Dengan ejaan sederhana dan tulisan tangan yang apa adanya, ia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para santri Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang bertugas di Aceh Tamiang dan tergabung dalam Komunitas Da’i Dayah MUDI Mesra Samalanga (NIDA).

 

Berikut isi surat yang dibagikan dalam postingan tersebut:


"Assalamu’alaikum Abu Mudi, apa kabar di sana. Ini saya dari Kampung Sekumur, nama saya Mina, kelas 7 MTs. Saya meminta terima kasih kepada Abu Mudi karena anak murid Abu sudah mengajar kami sekolah dan mengaji di Sekumur walaupun mereka lelah, tetapi mereka tetap semangat mengajar kami. Abu Mudi sangat hebat dan orangnya sangat baik. Semoga Abu Mudi di sana baik-baik saja. Terima kasih."

 

Unggahan itu langsung dibanjiri komentar warganet. Banyak yang mengaku terharu membaca ketulusan seorang anak yang sedang berada di pengungsian, namun tetap memikirkan orang lain dan menyampaikan rasa terima kasih.


Sejak banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh Tamiang, ratusan warga masih bertahan di tenda darurat. Aktivitas pendidikan sempat lumpuh. Dalam kondisi tersebut, santri-santri MUDI yang tergabung dalam NIDA turun langsung ke lokasi terdampak. 


Mereka menggelar kelas darurat, mengajar pelajaran sekolah sekaligus mengaji, agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan penguatan akidah.


Tak hanya mengutus santri, Abu Mudi bersama rombongan juga pernah mengunjungi Aceh Tamiang untuk menjenguk masyarakat terdampak sekaligus memantau langsung aktivitas dakwah dan kemanusiaan yang dijalankan melalui Komunitas Dai Dayah MUDI Mesra Samalanga (NIDA). Kehadirannya di lokasi terdampak menjadi penguat moril bagi para korban, terutama anak-anak dan para santri yang bertugas di lapangan.

 

Dalam kunjungan tersebut, Abu Mudi menegaskan bahwa musibah tidak boleh memutus mata rantai ilmu dan iman. Ia berpesan agar para santri tetap istiqamah mengajar, meski dalam keterbatasan.


Dukungan juga datang dari Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang, Tgk Mustofa Abdussalamsyah, yang menyampaikan apresiasi terhadap peran para santri dan relawan. Ia menilai kehadiran mereka bukan hanya membantu secara materi, tetapi juga menjaga semangat dan mental generasi muda di tengah bencana.

 

“Anak-anak ini butuh perhatian dan penguatan ruhani. Kehadiran para santri yang mengajar dan membersamai mereka adalah bentuk kepedulian yang sangat bermakna,” ujarnya.

 

Dalam unggahan yang sama, pemilik akun juga menuliskan doa singkat: “Cepat pulih Tamiang.”

 

Kini, surat Tumina bukan lagi sekadar pesan pribadi. Ia menjadi simbol harapan di tengah duka. Dari tenda pengungsian dan kampung yang masih diliputi lumpur, lahir suara kecil yang menggema luas: tentang terima kasih, tentang ketulusan, dan tentang cahaya ilmu yang tetap menyala di tengah musibah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang