Daerah BANJIR SUMATRA

Banjir Susulan Rendam Pesisir Aceh Tamiang, PCNU Imbau Warga Waspada

NU Online  ·  Selasa, 6 Januari 2026 | 18:00 WIB

Banjir Susulan Rendam Pesisir Aceh Tamiang, PCNU Imbau Warga Waspada

Warga berada di tengah banjir di Kampung Rantau Pakam, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang. (Foto: dok istimewa)

Aceh Tamiang, NU Online

Banjir kembali melanda sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Aceh Tamiang akibat meluapnya Sungai Tamiang. Banjir susulan ini terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat kembali mengguyur wilayah hulu, sehingga debit air sungai meningkat dan tidak tertampung.


Sejumlah kampung di Kecamatan Bendahara dilaporkan kembali terendam, di antaranya Kampung Balai, Kampung Raja, Lubukbatil, dan Marlempang. Meski pada siang hari air mulai berangsur surut, genangan masih terlihat di beberapa permukiman warga.


Tokoh pemuda Kecamatan Bendahara, Muhammad Daud, mengatakan bahwa banjir kali ini merupakan banjir susulan dari bencana besar yang terjadi pada 26 November 2025 lalu. Saat itu, banjir bandang menyebabkan tanggul di Kampung Raja jebol dan hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki.


“Siang ini air memang mulai surut, tetapi beberapa rumah masih tergenang. Ini banjir susulan karena tanggul yang rusak sejak banjir pertama belum juga diperbaiki,” ujarnya.


Menurut Daud, jebolnya tanggul di jalan penghubung Kecamatan Bendahara dengan Kecamatan Seruway membuat kawasan pesisir Aceh Tamiang menjadi sangat rentan. Apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi di wilayah hulu, banjir dikhawatirkan akan kembali meluas hingga ke kecamatan lain.


“Kalau hujan di hulu tinggi, kampung-kampung di Bendahara bisa terendam lagi, bahkan bisa melebar ke wilayah lain,” katanya.


Sementara itu, Sekretaris PCNU Aceh Tamiang, Tgk. Sultan, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap banjir susulan sebagai peristiwa biasa. Menurutnya, kondisi cuaca yang belum stabil menuntut kesiapsiagaan bersama, terutama bagi warga yang bermukim di bantaran sungai.


“Kami mengimbau warga agar tetap waspada, mengamankan barang-barang penting, serta mengikuti arahan pemerintah dan aparat setempat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama,” ujar Tgk. Sultan, Ahad lalu.


Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas sosial dan saling membantu antarwarga, khususnya bagi mereka yang kembali terdampak banjir dan terpaksa mengungsi.


Data sementara dampak banjir di Aceh Tamiang mencatat korban meninggal dunia mencapai 101 jiwa, dengan jumlah pengungsi sekitar 115 ribu orang. Selain itu, lebih dari 10 ribu rumah dilaporkan rusak berat, ribuan lainnya mengalami kerusakan sedang dan ringan, serta ratusan rumah ibadah turut terdampak.


Banjir besar yang membawa lumpur tebal tersebut juga menyebabkan kerusakan lahan pertanian, fasilitas umum, dan infrastruktur vital. Hingga kini, banyak warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat dengan keterbatasan air bersih dan kebutuhan dasar.


Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan BPBD terus melakukan pemantauan di titik-titik rawan banjir serta menyiagakan posko darurat. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dan segera melapor apabila terjadi peningkatan debit air yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang