Harga Plastik Melonjak hingga 90 Persen di Rembang, Pedagang Mengeluh
Kamis, 9 April 2026 | 16:00 WIB
Anjani (kiri) pedagang plastik sedang melayani pembeli di Toko Naja Rizqi di Soditan, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)
Rembang, NU Online
Kenaikan harga plastik mulai terjadi sejak pekan kedua bulan puasa. Pada awalnya, lonjakan belum disadari masyarakat karena belum merata. Namun, secara bertahap kenaikan merambat ke berbagai jenis produk, seperti cup, gabus sintetis (styrofoam), hingga plastik kemasan lainnya.
Anjani, penjual toko plastik Naja Rizqi di Soditan, Lasem, Rembang, Jawa Tengah menyebut kenaikan harga dipicu oleh faktor global, termasuk konflik internasional antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah serta terbatasnya pasokan bahan baku biji plastik di Indonesia turut memperparah kondisi. Akibatnya, sejumlah pabrik plastik mengalami kekurangan bahan, bahkan menghentikan produksi. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen bahan baku plastik.
Menurut Anjani, kenaikan harga tidak serta-merta meningkatkan keuntungan. Meski omzet terlihat naik, hal itu sebanding dengan meningkatnya modal yang harus dikeluarkan. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru menurun karena harga plastik yang semakin tinggi. Konsumen cenderung menunda pembelian jika tidak terlalu mendesak.
Beberapa jenis plastik mengalami kenaikan harga signifikan, terutama plastik thinwall. Harga plastik bening naik hingga Rp15 ribu, sementara thinwall meningkat hingga 80-90 persen. Produk thinwall ukuran 3.000 ml yang sebelumnya dijual Rp65 ribu kini mencapai Rp110 ribu.
“Harga plastik bening bahkan naik hingga Rp15 ribu. Sementara itu, kresek hitam merek Mambo yang sebelumnya dijual Rp21 ribu kini mencapai Rp36.500,” ujar Anjani.
Penurunan jumlah pembeli juga dirasakan para pedagang. Munculnya pelanggan baru dinilai sebagai bentuk perbandingan harga antar toko, meskipun selisihnya hanya sekitar Rp1 ribu hingga Rp2 ribu.
“Antar toko hanya selisih Rp1 ribu atau Rp2 ribu saja karena kondisinya seperti ini. Kami juga belum bisa memprediksi ke depan. Kalau ada yang menjual terlalu murah, justru berisiko tidak bisa memutar modal,” ujar Anjani saat diwawancarai di kediamannya, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, kenaikan harga terjadi hampir setiap hari, sementara margin keuntungan tidak sampai 50 persen, sedangkan kenaikan harga bisa mencapai hingga 90 persen. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian bagi pedagang.
Untuk memenuhi kebutuhan stok, pedagang memperoleh barang langsung dari pabrik, distributor, maupun pemasok di Surabaya dan Solo. Berbagai upaya juga dilakukan, seperti survei ke pabrik dan mencari stok melalui media sosial guna mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
“Kami survei ke semua pabrik untuk memastikan ada tidaknya kenaikan. Jika ada yang lebih murah, kami ambil. Kami juga mencari barang lewat media sosial. Namun, meski disiasati, harga tetap naik karena faktor ekonomi global,” tambahnya.
Sebagai alternatif, pedagang beralih ke plastik daur ulang (loss) dengan kualitas lebih rendah namun harga lebih terjangkau. Namun, meningkatnya permintaan membuat harga bahan alternatif ini juga ikut naik.
Contoh lainnya terjadi pada plastik PP merek Boyo yang harganya meningkat karena pabriknya sudah tidak lagi berproduksi, sehingga permintaan beralih ke merek lain seperti Mambo.
Para pelaku usaha berharap adanya langkah mitigasi dari pemerintah, mengingat kondisi ini dinilai semakin mengkhawatirkan bagi pelaku usaha yang terus memantau perkembangan harga.
Keluhan serupa juga disampaikan pelaku usaha lain. Kiki Fatmala, penjual es teh kota, mengaku kenaikan harga plastik berdampak langsung pada keuntungan usahanya. Jika sebelumnya ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp3 ribu per produk, kini biaya kemasan seperti cup mengalami kenaikan signifikan.
Ia mengaku dilema untuk menaikkan harga jual karena khawatir memberatkan konsumen. Dampaknya, jumlah pembeli pun menurun. Selain itu, perputaran modal harus ditingkatkan untuk menyesuaikan harga bahan baku yang naik.
Kiki berharap harga plastik dapat segera stabil agar roda perekonomian tetap berjalan dengan baik.
“Saya berharap harga plastik cepat turun. Sebenarnya plastik itu tidak terlalu penting, tetapi saat harganya naik justru terasa penting karena menjadi kebutuhan. Padahal sebelumnya beberapa toko ritel dan swalayan sudah tidak menyediakan plastik,” tutupnya.