Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
NU Online · Senin, 18 Mei 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi penjual dan pembeli sembako di pasar Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)
M Fathur Rohman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp17.600 memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada sektor industri besar, tetapi juga berpotensi menekan kehidupan masyarakat hingga lapisan bawah.
Anggota Komisi XI DPR RI, Erik Hermawan, menegaskan depresiasi rupiah memiliki efek berantai terhadap harga kebutuhan masyarakat.
Menurut Erik, lonjakan kurs dolar AS harus direspons serius melalui penguatan koordinasi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus melindungi daya beli rakyat.
Ia memandang tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tunggal. Faktor eksternal berupa eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah disebut memicu arus keluar modal asing, sementara dari dalam negeri muncul kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal ke depan.
“Mengingat struktur industri nasional yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor mencapai 70 persen di sektor kimia, tekstil, elektronik, hingga farmasi, depresiasi ini dipastikan akan mendongkrak biaya produksi (cost of production),” kata Erik, dikutip NU Online, Senin (18/5/2026).
Erik menjelaskan pelemahan rupiah secara langsung akan meningkatkan tekanan inflasi, khususnya pada barang-barang yang masih bergantung pada impor maupun bahan baku luar negeri.
Menurut dia, dampak tersebut mulai terasa di tingkat masyarakat kecil. Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti kedelai, misalnya, disebut telah membuat pelaku usaha tahu dan tempe kesulitan menjaga biaya produksi tetap stabil.
“Ketika biaya modal dan bahan baku melonjak akibat melemahnya rupiah, produsen dihadapkan pada pilihan sulit: mengikis margin keuntungan atau membebankan biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga,” ujarnya.
Ia menilai langkah Bank Indonesia yang menyiapkan tujuh instrumen taktis untuk menjaga stabilitas rupiah patut diapresiasi. Namun, Erik mengingatkan bahwa penanganan tekanan kurs tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter.
“Diperlukan sinergi fiskal yang agresif dari Kementerian Keuangan untuk menjaga kesinambungan jangka pendek,” katanya.
Erik kemudian meminta pemerintah segera mengaktifkan mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF) secara transparan untuk meredam tekanan di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ia juga mendorong penggunaan anggaran darurat guna membantu subsidi logistik dan distribusi pangan, terutama bagi komoditas pokok yang mulai melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain itu, ia menyoroti ketimpangan harga pada komoditas impor seperti kedelai. Meski harga global mengalami penurunan, harga di dalam negeri disebut tetap tinggi akibat adanya jeda distribusi dan distorsi tata niaga.
Karena itu, Erik meminta kementerian terkait bersama lembaga pengawas memperketat pengawasan rantai pasok impor agar pelaku usaha kecil dan UMKM tidak dirugikan oleh praktik asimetri informasi di pasar.
Ia menambahkan kesehatan ruang fiskal negara tetap harus dijaga agar APBN mampu berfungsi sebagai bantalan ekonomi di tengah tekanan kurs dan ancaman pelemahan daya beli masyarakat.
“Respons kebijakan fiskal kita harus adaptif, cermat, dan terukur. Di tengah postur belanja APBN 2026 yang diakomodasikan untuk berbagai kementerian/lembaga strategis seperti Kementerian Pertahanan, Polri, hingga Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah wajib menjaga ruang fiskal (fiscal space) yang sehat,” katanya.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini telah menembus level Rp17.600. Meski rupiah menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah, Prabowo menepis pandangan negatif terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
Dalam sambutannya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo mengatakan narasi mengenai Indonesia akan mengalami kehancuran ekonomi terus berulang.
“Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” kata Prabowo.
Meski posisi rupiah telah menyentuh level terendah, ia optimistis kondisi Indonesia masih aman, baik dari sisi pangan maupun energi, di tengah banyak negara lain yang mengalami kepanikan. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” katanya.
Terpopuler
1
Film Pesta Babi: Antara Pembangunan dan Kezaliman atas Tanah Adat
2
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
3
Kemenhaj Tetap Izinkan Jamaah Haji Bayar Dam di Tanah Air
4
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
5
200 Ribu Anak Terpapar Judol, Komdigi: Peran Tokoh Agama hingga Orang Tua Penting sebagai Benteng
6
LBH Sarbumusi Desak APH Tindak Dugaan Penyelewengan Dana MBG
Terkini
Lihat Semua