Daerah

Kopi Sancang, di Situ Anak Muda Berbincang

Sabtu, 5 November 2016 | 11:44 WIB

Kopi Sancang, di Situ Anak Muda Berbincang

Ketua PBNU H Eman Suryaman ((ketiga dari kanan) pernah mampir di Kopi Sancang

Bandung, NU Online
Jika sekali waktu Saudara bertandang ke kantor PCNU Kota Bandung, Jawa Barat, mampirlah ke kedai Kopi Sancang, berada di sebelah kiri halaman kantor tersebut. Di kedai seluas 18 meter kali 4 meter tersebut juga menyajikan minuman dan makanan lain. Tapi Kopi Sancang yang memiliki motto “kopinya para petualang”, menjadi andalannya.

Menurut pemilik kedai, Muhammad Sulaeman Yusuf, kopi tersebut didapatkan dari hutan gunung Waringin, sekitar Pangalengan, Kabupaten Bandung, dari seorang petani yang memiliki tanaman kopi sekitar 4 hektar. “Dinamakan Kopi Sancang karena letaknya berada di pinggir Jalan, Sancang,” katany kepada NU Online Sabtu malam (5/11).

Kopi gunung Waringin, kata dia, termasuk jenis Arabica. “Sedikit  asam, ada rasa frutynya, dan ada rasa wangi hutannya,” lanjut pria yang aktif di Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Jawa Barat tersebut.

Ia menambahkan, kopi ini tumbuh dengan pola tanam seperti hutan, tumbuh dibiarkan semauanya, tapi dirawat. Letak perawatannya adalah karena kopi tersebut diberi pupuk organik.

Pupuknya dari sisa-sisa rumput dan daun yang tersedia di hutan tersebut. “Rumputnya disatukan di satu lubang, dibiarkan beberapa minggu sampai membusuk, kemudian diangkut untuk memupuk pohon-pohon kopi tersebut.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Sule ini menyebutkan, Kopi Sancang adalah sarana bertemunya para aktivis NU di Kota Bandung, terutama anak mudanya “Di sini bisa ngumpul anak GP Ansor, IPNU, IPPNU, dan PMII, bahkan KNPI. Mereka bisa berdiskusi santai atau rapat organisasi. Pak Eman, Ketua PBNU pernah ngopi di sini,” jelasnya.

Ketika NU Online hadir ke Kopi Sancang, di situ beberapa anak muda nongkrong. Mereka ada dari IPNU dan IPPNU, seorang pengurus GP Ansor, serta pemuda sekitar.

Ani Ramayanti dari Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Barat Bidang Kominfo yang pada Sabtu malam nongkrong, tampak santai bercakap dengan salah seorang temannya. Di antara kedua perempuan berjilbab itu terdapat roti bakar yang dicicipi bergantian. “Beberapa hari lalu pengurus Ansor Kota Bandung rapat di sini, rapat Konfercab,” katanya.  

Sule membuka kedai selepas maghrib, kadang habis isya. Sementara tutup tidak ditentukan. Kadang di bawah jam 12 malam, kadang sampai jam lima subuh. “Tidak kurang dari 30 gelas kalau ada anak-anak yang ngumpul. Harga per gelas cuma 8 ribu. Kopi kelas kafe, harga warung kopi kaki lima,” kata alumnus PMII Kota Bandung tersebut. (Abdullah Alawi)
 



Terkait