Malam Pertama Ramadhan, Pidie Jaya Kembali Diterjang Banjir
Kamis, 19 Februari 2026 | 16:00 WIB
Pidie Jaya, NU Online
Malam pertama Ramadhan 1447 Hijriah di Kabupaten Pidie Jaya kembali disambut ujian banjir. Hujan deras yang mengguyur sejak sore menyebabkan sungai dan saluran irigasi meluap, sehingga Gampong Dayah Usen dan sejumlah wilayah sekitarnya terendam air, Rabu (18/2/2026) malam.
Banjir dipicu tidak hanya oleh tingginya curah hujan, tetapi juga kondisi sungai yang dangkal serta sistem sanitasi dan pembuangan air yang kurang optimal. Akibatnya, aliran air sulit tertampung dan merendam permukiman warga serta mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pimpinan Dayah Ribatul Muta’lim Al-Aziziyah Meurah Dua, Tgk. Yusri M. Gade, akrab disapa Abiya Yusri, menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut. Ia mengimbau warga tetap waspada serta menjaga keselamatan diri dan keluarga.
“Ramadhan adalah bulan penuh berkah, namun Allah juga menguji kita. Bagi warga terdampak banjir, tetap bersabar dan saling membantu satu sama lain,” ujarnya.
Ia juga turun langsung memantau titik-titik terdampak serta memastikan warga dan relawan siap membantu proses evakuasi maupun pendistribusian bantuan. Menurutnya, gotong royong dan solidaritas menjadi kunci menghadapi situasi sulit.
Banjir ini turut mendapat perhatian Tgk. Zahari, tokoh masyarakat setempat. Ia menegaskan pemerintah daerah perlu serius menangani persoalan banjir yang hampir terjadi setiap musim hujan.
“Sudah hampir tiga bulan, sebagian masyarakat masih tinggal di rumah yang berlumpur dan belum pulih. Penanganan yang cepat dan menyeluruh sangat diperlukan agar warga bisa kembali normal,” katanya.
Wilayah terdampak utama meliputi Gampong Dayah Usen, Meurah Dua, Keude Pidie Jaya, dan sekitarnya. Air tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial, terlebih pada malam pertama Ramadhan yang biasanya dipenuhi kegiatan ibadah.
Hujan yang terus turun membatasi upaya warga membersihkan lingkungan dan mengevakuasi barang-barang berharga. Meski demikian, semangat kebersamaan terlihat di berbagai titik, di mana warga saling membantu tetangga yang terdampak.
Dalam situasi tersebut, peran lembaga keagamaan dan sosial menjadi penting. Dayah Ribatul Muta’lim Al-Aziziyah bersama relawan lokal mendirikan posko sementara untuk membantu warga, menyediakan kebutuhan dasar, serta menyalurkan informasi terkait titik banjir dan jalur evakuasi.
Warga juga diimbau menjaga kesehatan, khususnya lansia dan anak-anak, serta memastikan ketersediaan makanan dan minuman selama Ramadhan meski dalam kondisi banjir.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus momentum memperkuat nilai persaudaraan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.