Daerah

Pembukaan Ngaji Kitab di Pidie Jaya, Abu Mudi Ijazahkan Sanad Keilmuan kepada Abiya Kuta Krueng

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Pembukaan Ngaji Kitab di Pidie Jaya, Abu Mudi Ijazahkan Sanad Keilmuan kepada Abiya Kuta Krueng

Peuphon kitab di Masjid Baitul Izzah Syaikhuna Abu Kuta Krueng, Pidie Jaya, Selasa (18/8/2026) malam malam (Foto: Darul Munawwarah Kuta Krueng)

Pidie Jaya, NU Online 
Tradisi keilmuan dayah Aceh kembali diteguhkan melalui majelis ibtida’ al-kitab atau peuphon (pembukaan) pengajian kitab di Masjid Baitul Izzah Syaikhuna Abu Kuta Krueng, Kompleks Utama Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (18/8/2026) malam.


Majelis tersebut dipimpin langsung Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Al-Mukarram Syaikhuna Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG atau akrab disapa Abu MUDI. Ratusan dewan guru, alumni, mahasantri, dan jamaah mengikuti pengajian dengan penuh khidmat.


Guru Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Tgk. Mujlisal, mengatakan kehadiran Abu Mudi memberikan makna penting bagi keluarga besar dayah. “Ini menjadi momen yang sangat berharga bagi keluarga besar Dayah Darul Munawwarah. Para guru, santri, alumni dan jamaah dapat bersama-sama mengikuti majelis yang penuh keberkahan ini,” ujar Tgk. Mujlisal.


Dalam kesempatan tersebut, Abu Mudi yang juga Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga secara resmi mengijazahkan sanad keilmuan kepada Pimpinan Dayah Darul Munawwarah, Tgk. H. Anwar Kuta Krueng atau akrab disapa Abiya Kuta Krueng.


Pengijazahan itu dikukuhkan melalui syahadah di hadapan para jamaah. Momentum tersebut bukan sekadar penyerahan ijazah, melainkan simbol kesinambungan mata rantai keilmuan ulama dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Peuphon Kitab, Menyambung Tradisi Keilmuan
Setelah prosesi pengijazahan, majelis dilanjutkan dengan ibtida’ al-kitab atau peuphon kitab. Tradisi tersebut menjadi penanda dimulainya pengkajian kitab mu’tabarah yang menjadi bagian penting dalam pendidikan dayah Aceh.


Dua kitab yang mulai dikaji ialah Tuhfatul Muhtaj karya Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami dan Jam’ul Jawami’ fi Ushul Fiqh karya Al-Imam Tajuddin Al-Subki.

 

“Ibtida’ al-kitab atau peuphon kitab bukan hanya pembukaan pengajian. Ini merupakan bagian dari tradisi keilmuan dayah yang menghubungkan seorang murid dengan guru dan mata rantai keilmuan para ulama terdahulu,” jelas Tgk. Mujlisal.

 

Ia menegaskan, sanad merupakan amanah untuk menjaga ilmu, adab, dan tradisi yang telah diwariskan para ulama. “Sanad bukan sekadar ijazah yang diberikan seorang guru kepada murid. Di dalamnya ada amanah untuk menjaga ilmu, adab dan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama,” ujarnya.

 

Menurutnya, kesinambungan sanad harus diwujudkan melalui pengajian, pengamalan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang diwariskan guru tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus menjadi sumber kemanfaatan bagi umat.


Abu Sibreh: Tradisi Dayah Harus Dipelihara
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H Faisal Ali atau Abu Sibreh, menilai ibtida’ al-kitab merupakan kekayaan pendidikan dayah Aceh yang harus terus dipelihara.

 

Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan bahwa proses menuntut ilmu tidak hanya berorientasi pada penguasaan teks, tetapi juga membutuhkan adab, keteladanan, dan bimbingan guru.

 

“Harapan kita, majelis seperti ini terus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak dan mampu meneruskan perjuangan para ulama,” ujar Abu Sibreh.

 

Ia mengatakan, keberlangsungan dayah tidak hanya ditentukan oleh bangunan atau jumlah santri, tetapi juga kesinambungan ilmu dan sanad yang dijaga dari generasi ke generasi.

 

“Majelis peuphon kitab ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi keilmuan masa lalu dan generasi masa depan. Para santri dan jamaah menyaksikan langsung bagaimana mata rantai keilmuan terus disambungkan melalui guru, kitab dan pengajian,” katanya.


Abu Sibreh berharap pengkajian kitab mu’tabarah dapat memperkuat tradisi keilmuan yang diwariskan ulama terdahulu. Pendidikan dayah, menurutnya, harus tetap menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki kedalaman ilmu, kokoh dalam akhlak, dan kuat dalam pengabdian.


“Ilmu, sanad dan adab harus berjalan bersama. Itulah kekuatan tradisi pendidikan dayah yang harus kita jaga,” ujarnya.


Dari Guru kepada Generasi Berikutnya
Momentum pengijazahan sanad dan peuphon kitab memperlihatkan kuatnya hubungan keilmuan antargenerasi ulama Aceh. Abu Mudi hadir sebagai ulama senior yang meneruskan tradisi keilmuan kepada Abiya Kuta Krueng, sementara para guru dan santri Darul Munawwarah menjadi saksi sekaligus bagian dari kesinambungan tersebut.

 

Bagi keluarga besar Dayah Darul Munawwarah, majelis ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi penguat semangat untuk terus menghidupkan majelis ilmu dan menjaga warisan ulama.

 

Tgk. Mujlisal menegaskan keberkahan ilmu berkaitan erat dengan penghormatan kepada guru, kesinambungan sanad, serta kesungguhan mengamalkan ilmu.


“Semoga apa yang dimulai dalam majelis ini terus berkembang dan memberikan manfaat. Kita berharap lahir generasi yang kuat ilmunya, baik akhlaknya dan mampu berkhidmat kepada agama serta masyarakat,” pungkasnya.


ibtida’ al-kitab di Masjid Baitul Izzah Syaikhuna Abu Kuta Krueng bukan sekadar dimulainya pembacaan kitab. Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa mata rantai keilmuan Aceh terus berdenyut dari guru kepada murid, dengan sanad, adab, dan khidmat sebagai pijakannya.