Pulot Ijo Cot Geuleungku, Ikon Kuliner Ramadhan yang Menguatkan Identitas di Bireuen
Selasa, 24 Februari 2026 | 16:30 WIB
Bireuen, NU Online
Setiap sore Ramadhan, kawasan Cot Geuleungku di Kabupaten Bireuen, Aceh, menjelma menjadi pusat keramaian warga. Deretan lapak takjil memadati pinggir jalan, menghadirkan beragam hidangan berbuka. Di antara aneka jajanan itu, pulot ijo tampil mencolok dengan warna hijau cerah yang tersusun rapi di atas nampan besar.
Pulot ijo, olahan beras ketan berpewarna alami daun suji atau pandan, telah lama menjadi ikon kuliner Ramadan di Bireuen. Proses pembuatannya masih tradisional, yakni dikukus lalu dipanggang hingga menghasilkan tekstur kenyal di dalam dan sedikit kering di luar. Cita rasanya yang manis lembut kerap dinikmati bersama kopi Aceh atau teh hangat saat azan Magrib berkumandang.
Sejak selepas Ashar, pulot ijo berjejer panjang di sentra kuliner Cot Geuleungku. Warga datang silih berganti, membeli untuk keluarga maupun suguhan tamu. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan ruang perjumpaan dan silaturahmi.
Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bireuen, Gus Dir, menilai pulot ijo telah menjadi simbol identitas Kota Santri.
“Ramadhan di Bireuen tidak lengkap tanpa pulot ijo. Kita bisa lihat bagaimana ia berjejer panjang setiap sore. Itu bukti tradisi ini masih hidup,” ujarnya.
Menurutnya, makna pulot ijo tidak hanya terletak pada rasanya. Ketan yang lengket melambangkan persatuan, sedangkan warna hijau identik dengan kesejukan dan nilai-nilai Islam yang melekat pada karakter masyarakat Bireuen.
Pandangan serupa disampaikan Tgk Iswadi atau Abah Laweung, tokoh budaya dan sosial-keagamaan Bireuen sekaligus akademisi di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga. Ia menilai pulot ijo merupakan ekspresi budaya yang menyatu dengan nilai keislaman.
“Memuliakan tamu adalah bagian dari iman. Pulot ijo dan kopi Aceh menjadi medium sederhana untuk menjalankan nilai itu,” ujarnya.
Menurut Abah Laweung, proses memasak yang sederhana dan bahan alami mencerminkan karakter masyarakat yang bersahaja namun sarat makna. Menjaga tradisi pulot ijo berarti merawat sejarah sosial dan spiritual masyarakat Bireuen.
Selain sebagai simbol budaya, pulot ijo juga menggerakkan ekonomi rakyat. Banyak pedagang kecil menggantungkan penghasilan tambahan selama Ramadhan dari penjualan penganan tersebut.
“Ini ekonomi kerakyatan. Pulot ijo menghidupi banyak keluarga. Kita harus bangga sekaligus menjaganya,” katanya.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan kuliner warisan daerah sebagai bagian dari menjaga jati diri.
Menjelang Maghrib, pulot ijo di atas nampan perlahan habis. Warga membawa pulang bungkusan sederhana itu untuk berbuka bersama keluarga. Di Bireuen, pulot ijo bukan sekadar camilan Ramadan, melainkan simbol kebersamaan dan identitas Kota Santri yang terus hidup di tengah perubahan zaman.