Saat Aroma Kuah Pliek U Menghangatkan Ramadhan Masyarakat Aceh
Kamis, 26 Februari 2026 | 14:30 WIB
Banda Aceh, NU Online
Di bulan Ramadhan, dapur-dapur gampong di Banda Aceh kembali hidup. Aroma santan, rempah, dan pliek u mengepul dari kuali besar, menandai persiapan berbuka puasa. Kuah Pliek U bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kebersamaan yang terasa semakin kuat di bulan penuh berkah ini.
Pliek u, ampas kelapa fermentasi yang dikeringkan, menjadi inti rasa masakan khas Aceh tersebut. Dipadukan dengan beragam sayuran seperti nangka muda, pepaya mengkal, kacang panjang, daun melinjo, daun singkong, dan jantung pisang, Kuah Pliek U menghadirkan cita rasa gurih, sedikit asam, dan kaya rempah.
Kuliner Ramadhan yang Menguatkan Silaturahmi
Dalam tradisi masyarakat Aceh, Kuah Pliek U kerap hadir saat kenduri Ramadhan, buka puasa bersama di meunasah, atau santapan keluarga besar menjelang tarawih. Proses memasaknya pun biasanya dilakukan secara kolektif, ibu-ibu memotong sayur, para lelaki membantu mengaduk kuah di kuali besar.
Menurut Azwar, Ketua GP Ansor Aceh, Kuah Pliek U di bulan Ramadhan memiliki makna lebih dalam.
“Ramadhan itu bulan persaudaraan. Kuah Pliek U mengajarkan kita bahwa keberagaman bisa menyatu dalam satu rasa. Seperti sayur-mayur yang berbeda tetapi menjadi harmonis dalam satu kuah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tradisi memasak bersama menjelang berbuka mencerminkan nilai gotong royong yang sejalan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“Tidak ada yang paling dominan dalam kuah itu. Semua unsur saling melengkapi. Ini gambaran masyarakat yang rukun dan moderat,” katanya.
Dari Dapur Gampong ke Meja Berbuka
Selain Kuah Pliek U, Ramadhan di Aceh juga identik dengan timphan, boh rom-rom, kanji rumbi, dan asam sunti yang menyegarkan. Namun Kuah Pliek U tetap memiliki tempat istimewa karena sering disajikan dalam jumlah besar untuk disantap bersama.
Dalam suasana berbuka, satu kuali Kuah Pliek U biasanya cukup untuk banyak orang. Anak-anak, orang tua, hingga tamu yang singgah menikmati sajian yang sama. Tidak ada perbedaan, semua duduk sejajar.
“Di situlah letak berkahnya. Makan bersama itu menguatkan silaturahmi,” ujar Azwar.
Bagi masyarakat Aceh, Kuah Pliek U bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang memuliakan hasil bumi dan menjaga tradisi. Pliek u yang berasal dari ampas kelapa menunjukkan kearifan lokal: tidak ada yang terbuang sia-sia.
Di bulan Ramadhan, filosofi itu terasa semakin relevan, mengajarkan kesederhanaan, syukur, dan kebersamaan. Dalam setiap sendok kuahnya, tersimpan pesan bahwa keberagaman dapat dirajut menjadi harmoni.
Selama dapur-dapur gampong masih mengepul dan Ramadhan masih disambut dengan gotong royong, Kuah Pliek U akan tetap menjadi saksi hidup identitas dan kekuatan sosial masyarakat Aceh.